Menjemput Takdir di Lailatul Qadr

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qodr ayat 1-5).
Semoga kita termasuk yang mendapatkan Lailatul Qadr, untuk itu fokuslah dengan memantapkan ketakwaan di bulan yang penuh dengan fasilitas untuk menjadi taqwa ini. Banyak yang belum mengetahui bahwa Lailatul Qadr, selain adalah malam yang lebih mulia dari seribu bulan, ternyata juga adalah malam dimana segala takdir kita selama satu tahun ke depan ditetapkan.
Malam Al-Qadr
Mengapa rekayasa takdir kita terletak pada malam Lailatul Qadr? Karena di ayat 3 dan 4, Allah Azza wa Jalla menjelaskan, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Di malam itu, malaikat-malaikat langit diizinkan oleh Rabbnya untuk turun ke bumi. Bahkan dikawal oleh Ar-Ruuh atau yang sering ditafsirkan dengan Malaikat Jibril. Apa yang dilakukan oleh para malaikat langit dan petingginya itu di bumi? Pada malam itu, malaikat langit dan malaikat bumi bertemu. Peristiwa ini digambarkan oleh para ulama dengan kiasan, “Bila manusia di bumi berlebaran di Hari Raya Idul Fitri, maka Lailatul Qadr adalah lebarannya para malaikat langit dan bumi.”
Apa yang dilakukan oleh para malaikat di malam itu untuk para penjemput atau yang berkeinginan mengubah takdir? Pada malam itu, semua ketetapan-ketetapan hukum berikut kadarnya akan ditetapkan untuk seorang manusia yang berada dalam keadaan bangun dan beribadah.
Qadr artinya kadar atau ketetapan yang artinya juga kemuliaan. Artinya di malam itu akan ditetapkan kemuliaan seorang hamba, sesuai dengan apa yang telah dia upayakan selama Ramadhan. Semua ketetapan yang diturunkan adalah ketetapan yang berlaku setahun penuh. Dari Lailatul Qadr di tahun 2024 hingga tahun 2025. Dari peristiwa yang paling besar hingga peristiwa yang paling kecil. Siapa yang hidup dan siapa yang akan mati. Mana rumput yang akan meranggas kemudian mangering dan mana rumput yang akan tumbuh dengan subur.
Orang yang paling beruntung adalah orang yang mendapatkan pahala khairummin alfi syahr. Bila ada, orang yang ditawari gaji 50 juta rupiah kemudian gaji tersebut hendak dilipatgandakan 1000 kali dan dibayar dimuka dengan syarat di malam-malam tertentu harus bangun dan beribadah; apakah ada yang menolak? Dapat dipastikan mustahil menolak. Nah, ini Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjanjikan yang jauh lebih baik dari uang dan apa pun yang diidamkan orang sedunia. Sayangnya, banyak yang masih enggan menyambutnya.
Padahal dunia yang kita bela dan perjuangkan sepanjang tarikan nafas hanyalah sesuatu yang hina, yang fana, dan sementara. Uang 500 trilyun itu apakah sesuatu yang mulia? Bila dibandingkan dengan rahmat, ampunan, dan surga Allah, tentulah bukan apa-apa. Orang yang telah mendapatkan taufiq dari Allah Azza wa Jalla karena menjalankan shiyam di siang hari dan qiyam di waktu malam, pastilah sudah memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat dunia.
Bulan Internalisasi Al-Quran
Sayangnya, Ramadhan di negeri kita diartikan dengan bulan puasa. Sehingga arti ini membuat sebagian besar dari para pejuang takdir Allah Ta’ala, gagal meraih mimpinya untuk menjadi orang yang bertakwa. Mayoritas hanya sibuk dengan puasa dan berbagai pernak-perniknya sehingga lupa bahwa ada qiyam yang metinya juga dilakukan di malam hari. Untuk apa? Tak lain, untuk menginternalisasikan Al-Quran.
Internalisasi Al-Quran inilah yang sebenarnya menjadi inti Ramadhan. Ramadhan itu bulan Al-Quran, sementara perintah untuk melakukan shiyam baru diturunkan setelah tahun 15 kenabian. Dengan adanya perintah shiyaam, diharapkan setiap orang akan lebih khusyu membaca, memahami, dan melaksanakan perintah Allah yang ada di dalam Al-Quran ke dalam dadanya.
Mengapa juga Allah Ta’ala syariatkan qiyam di bulan Ramadhan? Ketahuilah bahwa sebaik-baik sholat sunnah adalah qiyamul lail. Dan, sebaik-baik, qiyamul lail adalah yang paling panjang membaca Al-Quran. Artinya, dia paling banyak membaca ayat Al-Quran. Bagi mereka yang memburu janji Allah Ta’ala di surat Al-Qodr, janji Allah itu adalah pasti dan nyata. Sehingga pantang bagi mereka untuk melewatkan kesempatan meraih takdir-takdir terbaiknya yang akan dibawakan oleh para malaikat langit; dalam keadaan yang lalai tanpa beribadah. Mereka inilah yang akan mendapatkan hal-hal terbaik yang telah Allah siapkan selama satu tahun ke depan. Yang bagaikan gerbang, mengantarkan mereka untuk mudah pula mendapatkan masa depan yang gemilang di tahun-tahun selanjutnya.
Di sisi lain, para ulama menyimpulkan bahwa surat yang pertama kali diturunkan adalah surat Al-Alaq. Namun, pada malam yang bersamaan, Al-Quran diturunkan dari Lauhul Mahfudz secara bersamaan ke langit dunia. Baru setelah itu, ia diturunkan secara bertahap ke dalam dada Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Mekanisme langit tentang turunnya Al-Quran yang berbarengan dengan penetapan takdir selama satu tahun ke depan, tidak lain mewakili arti bahwa tidak ada aktivitas terbaik di waktu shiyaam di siang hari dan qiyam di malam hari, selain dari berinteraksi dengan Al-Quran.
Sayangnya banyak sekali orang terutama di masyarakat kita yang apabila tidak berpuasa maka ia akan merasa malu. Merasa bersalah. Namun, mereka tidak merasa berdosa manakala Ramadhan berlalu, tetapi tidak mengkhatamkan Al-Quran bahkan sangat sedikit berinteraksi dengan Al-Quran. Padahal Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam di malam-malam Ramadhan senantiasa memperlihatkan dan memperdengarkan Al-Quran kepada Jibril as dan Jibril Alaihissalam pun membacakan ulang Al-Quran kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Begitulah cara Rasulullah saw meng-install jiwanya dengan Al-Quran selama Ramadhan. Semoga kita juga termasuk umatnya yang dimudahkan untuk mengikuti teladan Beliau.*