Mengenal Ar-Ra’fah Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan, Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Surat Al-Baqarah ayat 143).
Pemindahan kiblat bagi kaum muKminin ketika itu bukanlah perkara yang mudah. Banyak hal yang menjadi konsekuensi apabila kiblat dipindahkan. Namun, Allah Ar-Ra’uf tahu betul apa yang paling baik untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan keberlangsungan dakwah. Ia tetap memberikan perintah dan menetapkan syariat-Nya untuk manfaat yang lebih besar bagi orang-orang beriman.
Ar-Ra’uf adalah salah satu nama Allah yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka sering diartikan dengan kata pengasih, berbelas kasih, dan lembut. Kata sifat dari asma Allah Ar-Ra’uf ini adalah Ar-Ra’fah yang berarti penuh kasih sayang dan lembut kepada hamba-Nya. Bentuk Ar-Ra’fah Allah kepada hamba-Nya adalah memberikan syariat yang bermanfaat untuk kemaslahatan dan syariat itu menjadi penyebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Sebelum membahas tentang asma Allah Ar-Ra’uf dan Ar-Ra’fah-Nya Allah, mungkin kita bertanya, apakah sangat penting untuk mengenal nama dan sifat Allah Ta’ala? Tentu sangat penting karena dasar ilmu dan dasar ibadah adalah mengenal Allah lewat nama-Nya. Dan, fungsi utama seorang hamba mengenal asma Allah adalah agar benar cara kita menghamba kepada-Nya.
Kembali pada makna ar-ra’fah Allah. Ar-Ra’fah adalah sifat Allah yang penuh kasih sayang terhadap hamba-Nya dan juga lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Allah tidak memberlakukan hukum rimba kepada manusia yang keras dan kejam. Namun, Allah Ta’ala tetapkan syariat-Nya yang bersifat lembut demi kepentingan manusia.
Syariat untuk Maslahat
Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sistem sebagaimana yang diterapkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat. Meski sebagian manusia memilih untuk menentangnya, tetapi Allah Azza Wajalla telah menetapkan sistem/ syariat yang paling mudah, paling baik, dan bermanfaat bagi seluruh manusia; bukan untuk kepentingan segelintir manusia. Dan, syariat itu harus diikuti hingga ke akhirat nanti. Mengapa? Karena Allah berikan syariat itu tak lain untuk membawa hamba-Nya bahagia, semenjak dari di dunia hingga ke akhirat. Itulah Ar-Ra’fah-nya Allah Azza wa Jalla. Memelihara dan menjaga hamba-Nya bahkan hingga ke akhirat.
Setelah mengenal sifat Ar-Ra’fah Allah, bagaimana agar ibadah kita semakin kuat dan mantap setelah mengenal sifat Allah Ar-Ra’fah? Terimalah seluruh syariah Allah dengan hati yang tunduk dan ikhlas. Secara tafsir, ra’fah dari Allah itu akan mencegah manusia dari keburukan dan kejahatan. Jadi syariat Allah yang mencegah manusia dari berbuat jahat disebut juga dengan ra’fah. Dengan kasih sayang-Nya, Allah Ta’ala memberi aturan agar manusia terhindar dan menghindari kejahatan atau keburukan. Bersyukurlah kepada Allah, kita tidak disuruh membuat aturan sendiri karena akan merugi dan semrawut kehidupan kita. Akan sangat buruk akibatnya manakala kita tidak mau hidup atau tidak mau tunduk pada aturan Allah Azza wa Jalla.
Nantinya akan terjadi peristiwa seperti yang menimpa Habil dan Qabil, anak-anak Nabi Adam AS. Qabil tidak mau menerima syariat Allah untuk menikah dengan kembaran Habil yang kurang cantik. Sementara kembaran Qabil, cantik. Qabil maunya menikah dengan kembarannya sendiri. Padahal syariat Allah adalah menikah silang, alias tidak menikah dengan kembarannya sendiri. Maka, dibunuhlah saudaranya, Habil, agar bisa menikahi kembarannya sendiri yang seharusnya menikah dengan Habil. Setelah ia membunuh Habil, Qabil pun menyesal dan tidak mengerti bagaimana harus mengurus jenazah saudaranya itu. Akhirnya, Allah dengan kelembutan-Nya mengirimkan dua ekor bukur yang berkelahi sampai salah satunya mati. Burung yang masih hidup kemudian menguburkan mayat teman yang dibunuhnya tersebut.
Syariat untuk Kebahagiaan
Begitulah orang-orang yang menolak syariat Allah. Pada akhirnya mereka akan mengikuti binatang. Padahal sebenarnya, syariat yang Allah turunkan dengan segenap kasih sayang-nya itu penuh manfaat untuk kehidupannya. Dan, jika seseorang menolak syariat, akan lebih ribet melaksanakan hajat hidupnya. Sama saja mempersulit dirinya sendiri. Oleh karena itu, Allah Ta’ala meminta kita untuk jujur pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya kita butuhkan, maka ikutilah syariat yang akan memenuhinya. Jangan mengada-ada, apalagi membohongi diri. Ada pepatah Arab yang berkata bahwa keterusterangan akan membawa ketenangan. Yang lelah adalah bilamana berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Sejuta manusia mungkin kita bisa bohongi, tetapi hati nurani kita tidak mungkin bisa kita bohongi.
Bersyukurlah kita memiliki kitab suci dan Allah, Rabb kita, memberikan syariat yang penuh manfaat. Bila terdapat sedikit kesulitan, maka bersabarlah. Itulah ra’fah, rasa rahmah Allah Ta’ala kepada kita semua.
Lalu bagaimana dengan peristiwa pemindahan kiblat ke Masjidil Haram? Sifat Ar-Ra’fah Allah dengan menetapkan syariat kiblat yang dipindahkan ke Masjidil Haram, berhasil membuka kedok orang-orang musyrik dan munafik yang berpura-pura ikut shalat di belakang Rasulullah saw, padahal mereka menyembah tuhan-tuhan mereka yang berada di Baitul Maqdis. Orang-orang musyrik dan munafiq itu pun segera membelot setelah ketetapan itu diperintahkan Allah Azza wa Jalla.
Di samping itu, Allah dengan kelembutan kasih-Nya pun memahami bahwa sejak lama Rasulullah saw ingin agar kiblat kembali ke Masjidil Haram. Maka, dengan pemindahan itu, Allah Azza wa Jalla memberi kebahagiaan dan kemaslahatan bagi Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Inilah Ar-Ra’fah-Nya Allah Azza wa Jalla yang bila kita semakin banyak menelaah apa-apa lagi yang merupakan perwujudan dari Ar-Ra’fah-Nya, maka kita akan semakin mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersyukur telah menjadikan-Nya sembahan. Hanya Dialah yang paling pantas berkuasa dan menetapkan aturan untuk kita. Karena, selain Dia Yang menciptakan kita, Dia pula yang menjaga dan merawat kita dengan aturan-Nya yang penuh kasih dan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallahu ‘alam bish shawab.*