Tidak Perlu Ledakan Amal, yang Penting Istikamah

Oleh KH Bachtiar Nasir
Setelah puncak Asyura berlalu, apakah Muharam menjadi momentum sesaat saja, atau sungguh-sungguh diambil hikmahnya?
Kita tidak cukup dengan mengucapkan robbunallah, “Tuhan kami adalah Allah.” Padahal setelah pernyataan itu, bagaimana konsekuensi kita menerapkannya. Kita harus istikamah tetap pada pendirian pernyataan itu dan bentuk amalannya.
Lihat Surah Fushilat ayat 30:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Amal yang Istikamah yang dicintai Allah
Rasulullah bersabda, amal yang dicintai oleh Allah adalah yang konsisten terus menerus meskipun sedikit.
Dari ’Aisyah Radhiyallahu ’Anha berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR Muslim)
Kita tidak perlu meledak dengan satu amal, besoknya kembali pada kehidupan biasa dan menyurut semangatnya.
Allah tidak hanya melihat ledakan semangat kita dalam beramal, tetapi yang penting adalah konsistensi dan istikamah. Misal bagaimana sedekah waktu, ilmu, tenaga untuk agama.
Pilihlah satu amalan yang bisa kita lakukan dengan konsisten. Bukan lagi zikir, shalat, karena itu sudah biasa kita lakukan sehari-hari. Selainnya apa lagi yang bisa kita lakukan untuk membangun peradaban ke depan?
Termasuk juga istikamah dalam menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga ego. Ego bukan menjadikan diri kita sebagai pusat hidup tetapi jadikan ego kita untuk menghamba kepada Allah.
Muharam bukan hanya bulan untuk semangat, tetapi bulan untuk berubah dengan hijrah yang benar yang dijaga dengan istikamah.
Ya Allah, jadikan hamba sebagai hamba yang istikamah dan jangan biarkan semangat hamba memudar setelah Muharram berlalu.*