KSP

Tauhid Mengalahkan Takhayul; Adanya Anggapan yang Salah Mengenai Bulan Shafar

Oleh KH Bachtiar Nasir

Alhamdulillah kita sudah memasuki Bulan Shafar. Mari kita luangkan waktu mengenal Bulan Shafar, ini penting agar kita pandai menempatkan diri kita dengan kegiatan yang sesuai dengan ruangannya, baik ruang tempat atau ruang waktu.

Tidak semua orang bisa menempatkan sesuai ruang waktu.

Sekarang masuk 1 Shafar 1448 H, sesuai Kalender Hijriah Indonesia. Berdasarkan hasil rukyat PBNU, menetapkan tanggal 1 Shafar masuk sejak Maghrib kemarin atau hari ini tanggal 16 Juli 2026.

Sementara menurut kalender Hijriah global tunggal, 1 Syafar jatuh pada hari Rabu, 15 Juli 2026, sehingga hari ini sudah masuk tanggal 2 Syafar.

Perbedaan ini karena adanya perbedaan penggunaan penetapan kalender, bukan perbedaan dalam nilai bulan Shafar itu sendiri.

Mengenal Bulan Shafar

Shafar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah.
Shafar bukan juga salah satu bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai Asyhurul Hurum.

Allah menegaskan bahwa dalam satu tahun ada dua belas bulan dan empat bulannya adalah bulan haram.

Shafar tidak termasuk dari empat bulan haram tersebut. Namun tidak berarti Shafar bulan yang buruk yang masih dipercaya oleh sebagian orang.

Shafar adalah waktu ciptaan Allah yang dapat diisi oleh ketaatan atau kemaksiatan oleh manusia.

Kata Shafar terdiri dari huruf ص، ف، ر

Asal Kata Shafar

Kata Shafar ditulis dengan huruf ص lalu ف, dan ر. Atau dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf s, f, r.

Shafar identik dengan perjalanan. Dalam bahasa Indonesia disebut safar.

Secara bahasa salah satu makna shafar adalah kosong atau sepi. Para ulama dan ahli sejarah menjelaskan bahwa nama itu dikaitkan dengan nama perkampungan Arab yang menjadi kosong karena penduduknya keluar untuk bepergian. Atau menjadi kosong karena penduduknya berperang.
Dan ada pula penjelasan, kampung menjadi kosong setelah panen.

Kedudukan Shafar
Bulan Shafar bukan bulan kesialan atau bulan bala. Ada sebagian orang yang meyakini bahwa bulan Shafar ini identik dengan musibah atau kesialan.

Bagaimana Shafar dalam akidah Islam? Pastinya waktu tidak memiliki gaib. Hari, tanggal, angka-angka, suara gunung, atau fenomena alam tidak akan mampu mendatangkan keberuntungan atau kesialan dengan sendirinya.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman, apabila Dia melimpahkan satu kemudaratan tidak ada yang dapat menghilangkannya
selain Allah sendiri dan apabila Allah menghendaki kebaikan tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.

Dengan demikian Shafar tidak dapat menyebabkan kecelakaan, menggagalkan pernikahan, merusak usaha, tidak dapat mendatangkan penyakit.

Shafar tidak memiliki kekuatan khusus mengubah tanggal tertentu mengubah takdir. Semua takdir berjalan sesuai ketetapan-Nya.

Semua peristiwa terjadi berdasarkan ilmu, izin, dan ketetapan Allah disertai hukum sebab akibat yang juga diciptakan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala.

Hadits tentang Shafar

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam Wassalam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ

Artinya: “Tidak ada ‘Adwa (penularan penyakit dengan sendirinya), tidak ada Thiyarah (anggapan sial dengan burung/hewan), tidak ada Hamah (kesialan burung hantu), dan tidak ada Shafar (kesialan pada bulan Shafar).” (HR. Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220).

Terkait anggapan kesialan bulan Shafar, Rasulullah menegaskan dengan hadits di atas. Tidak ada ketetapan sial yang dibawa oleh burung, dan tidak ada kesialan terhadap Bulan Shafar.*

 

Exit mobile version