KSP

Sudahkah Kita Sujud Hati?

Oleh KH Bachtiar Nasir

Pernahkah kita merasa, bahwa seluruh hidup kita sebagai seorang hamba yang tidak punya apa-apa selain Allah? Jika tidak ada perasaan seperti itu, yakinlah itu artinya kita sedang berada jauh dari Allah.

Setiap detak jantung perlu ditopang oleh rahmat Allah Subhana Wa Ta’ala. Apakah kita ingat di setiap detak jantung dan tarikan nafas, ada rahmat-Nya yang tidak terbilang?

Langkah yang kita pijak, udara yang kita hirup, dan semua milik kita adalah titipan yang bisa hilang kapan saja kalau Dia tidak menahannya untuk kita.

Setiap langkah ada pijakannya, dan pijakan itu adalah rahmat dari Allah.

Setiap udara yang kita hirup yang mengandung hidrogen dan oksigen, semua itu adalah titipan, dan Allah bisa mengambilnya kapan saja pada waktunya.

Begitu juga cahaya iman yang sekarang masih menerangi hidup kita, hanya titipan Allah yang bisa dicabut kapan saja. Jika Allah tidak menahannya, iman bisa hilang kapan saja, bahkan hilang di ujung usia kita.

Kalau kita tidak mensyukuri semua pemberian Allah, sadarilah Dia bisa mengambilnya kapan saja.

Semua yang kita punya, baik detak jantung, helaan nafas, cahaya iman, syukrurillah dengan mengikuti cahaya itu. Jangan menoleh lagi pada kegelapan sebelum semuanya diambil oleh-Nya.

Jika Allah mengambil penglihatan mu, apakah kamu bisa mengembalikannya kembali? Bisa saja kamu punya mata, tetapi Allah bisa mencabut mata hatimu.

Banyak orang yang kehilangan daya penglihatannya dan mereka tidak bisa mengembalikannya sendiri. Begitu juga hidayah Allah. Jika Allah menutupnya, apakah kamu bisa membukanya kembali cahaya itu? Maka syukurillah hidayah iman itu.

Berjalanlah dengan indah di atas jalan hidayah.

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ، صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Artinya: Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Kalau bukan Allah yang membukakan hidayah buat kita, siapa yang akan membukanya?

Segala puji bagi Allah semata yang telah memberikan kita hidayah indah ini. Tidak ada yang bisa berjalan di atas hidayah-Nya kecuali tanpa bimbingan-Nya.

Kenapa saat kita berduka kita mengucap innalilahi wa inna ilaihi raji’un? Karena kita dipaksa kembali kepada-Nya.

Sama halnya ketika seorang anak kecil takut kehilangan kasih sayang ibunya, lalu Ibunya memeluknya dan mengatakan, “Ibu sayang kamu dan kamu kesayangan ibu.” Lalu anak kecil itu pun merasa tenang.

Begitulah ucapan innalilahi wa inna ilaihi raji’un, kita bahagia karena kembali kepada-Nya.

Kata Ibnul Qayyim, ketika hati sudah sujud, dia tidak akan bangkit lagi. Itulah bedanya sujud hati dan sujud kepala. Sujud hati membuat mata tertunduk dan tidak akan merasa lelah sampai Hari Perjumpaan dengan-Nya di Yaumil Hisab nanti. Sujud yang membawa jiwa hancur dan rendah di hadapan Sang Pemilik. Sujud yang indah ketika kita sudah bisa merasakan remuknya hati di hadapan Allah.

Sujudnya hati tidak selesai di sajadah, tetapi terus berlangsung sampai Hari Perjumpaan dengan-Nya kelak. (*)

 

Exit mobile version