Kekuatan Doa

Oleh : KH Bachtiar Nasir
Masih ingat kisah Hatim Al-Asham?
Dia tinggal di Iraq yang berangkat haji di usia senja, 80 tahun. Hatinya sudah lama dan selalu merindukan Ka’bah dan bisa berhaji. Sampai suatu ketika putrinya melihat ayahnya sedang menangis, ditanyalah kenapa penyebabnya.
“Nak, sudah sekian kali musim haji Ayah tidak pergi juga ke Mekkah. Ayah tak ada biaya, dan tidak ada bekal untuk biaya hidup keluarga selama aku tinggalkan.”
Hatim bin Al-Asham tinggal di kampungnya bersama istri dan seorang anak perempuan. Istrinya keberatan jika ditinggal sekian lama, nanti siapa yang memberinya kebutuhan hidup mereka? Tetapi anak perempuannya menanggapi kegundahan ayahnya, “Ibu, biarkanlah ayah pergi. Beliau bukanlah Zat Yang Maha Memberi rezeki.” Akhirnya Hatim pun berangkat.
Hatim hanya meninggalkan uang bagi keluarganya untuk kebutuhan hidup selama tiga hari.
Ketika persediaan makanan di rumah hampir habis, istri Hatim merasa kesal karena kepergian suaminya itu menyebabkan mereka terancam kelaparan. Tetapi anak perempuan Hatim justru tersenyum. Ibunya heran, kenapa di saat kondisi membuatnya cemas, anaknya hanya senyum-senyum.
Anak perempuan itu berkata, “Ayah kita itu penerima rezeki atau pemberi rezeki?
Lalu anak perempuan pun berdoa kepada Allah agar dicukupkan rezeki mereka selama ayahnya berhaji.
Tiba-tiba seorang penguasa suatu daerah melewati tempat tinggal keluarga Hatim. Dia berkata kepada sebagian anak buahnya, “Carikanlah air untukku!” Lalu keluarga Hatim memberikan gelas baru yang berisi air dingin, dan sang penguasa itupun meminumnya.
Setelah minum, kemudian si penguasa tersebut bertanya, “Rumah siapa ini?” Mereka menjawab, “Rumah Hatim al-Asham.”
Lalu penguasa tersebut melemparkan sabuk emas ke rumah Hatim sambil berkata, “Barangsiapa senang denganku, maka ikuti aku!” Para prajuritnya pun mengumpulkan benda-benda yang dibawa mereka ke suatu wadah, dan diberikan kepada keluarga Hatim.
Anak perempuan tersebut menangis, lalu ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kemudahan pada kita. Hanya karena makhluk yang melihat kita saja, mereka telah mencukupi kita maka bagaimana Sang Khaliq yang melihat kita?”
Itulah kekuatan doa, dan jangan sekali-kali meragukan Allah sebagai pemberi rezeki. Kalau kita menyandarkan harapan dan tawakal kepada Allah, Allah Maha Mendengar doa.
Menurut Ibnu Qoyyim, doa adalah sebaik-baik sebab dijauhkannya terhadap hal yang tidak kita sukai, baik yang belum terjadi, sedang terjadi, atau sudah terjadi.
Di antara penyebab dijauhkannya kita dari apa yang tidak kita sukai adalah dengan berdoa. Dengan berdoa juga kita meminta apa yang kita inginkan.
Penyebab tidak dikabulkannya doa, di antaranya:
- Doa yang tidak disukai Allah.
- Selain lemah jiwanya, lemah pula kalbunya. Di antara penyebab doa tidak terkabul karena lemah jiwanya di hadapan Allah, keyakinan kita terhadap Allah dan ketidaksungguhan dalam berdoa.
- Bisa jadi dia masih memakan makanan yang haram dan banyak titik-titik noda hitam pada dirinya. (*)