Jangan Menoleh ke Belakang

Oleh KH Bachtiar Nasir
Tahun sudah berganti 2026. Tetap ada saja orang yang maunya menengok ke belakang, belum bisa move on dari masa lalu.
Ada nasihat bagus: jangan menoleh ke belakang.
Lihat Surah Hud ayat 81:
قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْۗ اِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ ٨١
Artinya:
Mereka (para malaikat) berkata, “Wahai Lut, sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu. Mereka tidak akan dapat mengganggumu (karena mereka akan dibinasakan). Oleh karena itu, pergilah beserta keluargamu pada sebagian malam (dini hari) dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu (janganlah kamu ajak pergi karena telah berkhianat). Sesungguhnya dia akan terkena (siksaan) yang menimpa mereka dan sesungguhnya saat (kehancuran) mereka terjadi pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?”
Pesan ayat ini, jangan menoleh ke belakang. Maksudnya adalah ini perintah kepada Luth, agar jangan menoleh ke belakang kecuali istrinya. Istri Luth telah membelot dari ajaran Luth.
Kasus Nabi Luth ini adalah kisah nyata. Mengisahkan suatu informasi dari malaikat, yang pastinya berupa informasi baik.
Sama halnya ketika malaikat mengingatkan Nabi Nuh agar pergi di separuh malam, karena esok Subuh akan ada bencana (banjir besar).
Pada kejadian bencana Sumatra misalnya, banyak warga bersyukur kejadiannya bukan pada waktu Subuh, sehingga masih bisa menyelamatkan diri.
Pesan jangan menoleh ke belakang:
Janganlah di antara kamu menoleh ke belakang. Perlakukan hubungan yang sudah berakhir seperti kuburan dan tak perlu digali lagi.
Sesiapa yang telah meninggalkan kamu, ikhlaskan saja pergi, jangan jadi tawanan masa lalu.
Tempat yang membunuh semangatmu maka padamkanlah. Ingatlah selalu kamu punya tujuan ke depan.
Tafsir Ibnu Asyur:
Jangan menoleh ke belakang bukan hanya simbol tubuh, tapi ada pesan untuk meninggalkan, misalnya rasa iba tinggalkan.
Jangan menoleh pada sesuatu yang harusnya dihancurkan. Jangan menyesali hal-hal yang sudah seharusnya hancur dan punah.
Putus hubungan emosional dengan masa lalu yang rusak.
Keselamatan menuntut ketegasan batin, bukan hanya ketaatan lahiriah.
Seperti Luth yang harus meninggalkan istrinya dan perintah jangan menoleh ke belakang, karena istrinya tidak taat kepadanya.
Malaikat yang datang kepada Nabi Luth menegaskan bahwa mereka adalah utusan Tuhan, bukan manusia biasa, dan kaumnya tidak akan mampu mengganggu Luth.
Luth diperintahkan untuk pergi bersama keluarganya (kecuali istrinya) di akhir malam, meninggalkan kaumnya.
Istri Luth diperingatkan bahwa dia akan ditimpa azab yang sama dengan kaumnya karena pengkhianatannya.
Azab akan tiba pada waktu subuh.
Pertanyaan “Bukankah subuh itu sudah dekat?” menekankan kedekatan waktu pada kehancuran kaum Luth.
Makna “Jangan Menoleh” adalah perintah untuk tidak menoleh ke belakang (kecuali istri) berarti mereka tidak boleh melihat kehancuran kaumnya, dan bagi istri, itu adalah perintah untuk tetap ikut pergi namun tetap akan menerima nasib sama.
Tema jangan menoleh ke belakang, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:
✅ Hubungan yang sudah berakhir sama dengan kuburan yang tidak perlu digali, karena tidak akan menghidupkan yang sudah mati.
Menggalinya hanya akan menimbulkan bau busuk.
✅ Masa lalu adalah penjara batin. Apakah kita mau menjadi tawanan penjara batin yang akan menghabiskan energi dan masa depan jadi tertunda karena jiwa tertambat.
Tanda belum tuntasnya masalah batin, hidup dengan segala kegelisahan.
✅ Pertarungan yang tidak bermanfaat, perseteruan yang tidak berujung.
✅ Islam tidak mengajarkan heroisme sia-sia. Jika sebuah konflik tidak memperbaiki iman dan akhlak, maka tinggalkanlah.
✅ Persahabatan yang menggerus nilai, tinggalkan saja. Persahabatan yang menggerus nilai adalah seperti pesan dalam Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf ayat 67:
اَلْاَ خِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67)
Tinggalkanlah teman yang seperti itu. Melepaskan teman yang seperti itu bukan membenci tetapi demi menyelamatkan diri.
✅ Hati-hati dengan tempat yang membunuh semangatmu.
✅ Jauhi lingkungan yang merusak jiwa, karena bisa memadamkan cita-cita, mengikis imam secara perlahan-lahan.
Kita membuat sistem ekologi kita sendiri.
Mengapa tidak boleh menoleh ke belakang?
▪️ Karena tujuan ada di depan bukan di depan.
▪️ Karena Rahmat Allah menuntut ketaatan penuh. Setengah taat berarti ragu.
▪️ Kenapa tidak boleh menoleh?
Karena masa lalu tidak layak ditangisi.
Jadi larangan dalam bentuk jangan menoleh ke belakang adalah etika hidup Qur’ani, jangan hidup dengan luka lama, jangan hidup dengan nostalgia. Allah melarang kita terikat masa lalu.
Orang yang menoleh ke belakang bukan sedang menuju ke depan.