Kesaksian Sepasang Tangan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
COBALAH menatap sejenak kedua belah tangan kita. Tangan inilah yang setiap hari kita basuh dengan air wudu. Tangan ini pula yang senantiasa kita angkat saat bertakbir, dan kita tengadahkan dengan penuh harap kala merapal doa di keheningan malam.
Namun, pernahkah kita merenung, sudahkah sepasang tangan ini sejalan dengan rida-Nya saat kita melangkah ke luar dari hamparan sajadah?
Rasulullah SAW meninggalkan sebuah pesan yang sangat dalam tentang hakikat keberagamaan kita. Dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari, beliau bersabda, “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
Baginda Nabi SAW tidak mengukur kesempurnaan Islam seseorang dari seberapa banyak jumlah rakaat salat sunahnya, atau seberapa panjang hafalan Alqurannya. Beliau justru meletakkan parameter itu pada interaksi sosial kita: sejauh mana orang lain merasa aman dari kezaliman lisan dan tangan kita.
Hari ini, makna kejahatan tangan itu telah mewujud dalam ragam bentuk yang kian meresahkan. Tangan tidak sekadar dimaknai sebagai kepalan yang memukul fisik. Lebih dari itu, ia adalah jemari yang dengan ringan mengetik prasangka dan kebencian di layar gawai, meninggalkan jejak digital yang mengotori ukhuwah.
Bahkan, dalam skala yang lebih memilukan, ada tangan-tangan yang karena diburu syahwat duniawi, tega menyalakan api yang menghanguskan ribuan hektare hutan. Akibatnya, ribuan balita tak berdosa harus meregang napas karena dipaksa menghirup pekatnya asap.
Jauh-jauh hari, Alquran telah memotret kecenderungan destruktif ini. Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).
Kerusakan ini sejatinya bermula dari penyakit hati. Ada penyakit menghitung, ketika manusia lebih takut kehilangan lembaran rupiah untuk membuka lahan secara pantas, lalu memilih jalan pintas membakar hutan, dan mengabaikan nilai nyawa manusia. Ada penyakit jarak, di mana para pelakunya duduk di ruang sejuk yang jauh dari lokasi bencana, merasa aman karena tak ikut menghirup asapnya. Dan yang paling mengerikan adalah penyakit diam, ketika kita merasa cukup dengan kesalehan pribadi di dalam masjid, namun bisu melihat kerusakan alam dan kezaliman yang mencekik saudara sendiri.
Mari bermuhasabah. Kelak di hari persidangan yang Mahaadil, mulut yang fasih bersilat lidah ini akan dibungkam. Tangan dan kakilah yang akan bersaksi atas segala perbuatannya. Sebagaimana firman-Nya, “Pada hari itu manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya…” (QS An-Naba: 40).
Sebelum hari itu tiba, mari bersihkan tangan kita. Hapuslah jejak-jejak permusuhan yang pernah kita tulis. Ulurkan tangan itu untuk berbagi kebaikan, sekecil apa pun, demi meringankan penderitaan sesama. Semoga, kelak tangan ini menjadi saksi yang memberatkan timbangan kebaikan kita di hadapan Allah SWT, bukan tangan yang menjerumuskan kita ke dalam kehinaan. Wallahu a’lam bish-shawab.*