Instrumen Naik Level Manusia

Oleh;
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah: 7–9)
Amal saleh dalam terminologi Al-Qur’an belum merupakan pekerjaan tingkat tinggi. Ia barulah berada pada level kerja primer. Oleh karena itu, tingkat premium dalam beramal adalah ahsana, yaitu melakukan yang sebaik-baiknya. Sebagaimana Allah Ta’ala memberitahukan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan ahsan: melalui tahapan, ukuran, proses, keseimbangan, dan fungsi yang presisi. Awalnya Allah Ta’ala menciptakan manusia dari segumpal tanah, kemudian Dia menciptakan keturunan Adam AS dari saripati tanah yang kemudian disebut sebagai sesuatu yang hina.
Elemen Naik Level
Sesuatu yang hina itu kemudian disempurnakan-Nya dalam bentuk terbaik. Setelah sempurna, barulah ditiupkan ruh-Nya. Penciptaan yang sempurna itu kemudian difokuskan pada tiga elemen, yaitu sami’ (pendengaran), bashar (penglihatan), dan af’idah/nurani (hati yang tersinari cahaya).
Surat As-Sajdah merupakan rangkaian ayat yang menjelaskan tentang asal-usul manusia. Tiga elemen yang disebutkan terakhir adalah elemen pengukur kualitas ruhani. Al-Qur’an tidak lagi berbicara tentang lambung, jantung, bahkan otak sekalipun. Namun, yang dibicarakan Al-Qur’an adalah bagaimana manusia melampaui ukuran biasa. Jika manusia bersikap baik kepada orang yang berbuat baik kepada dirinya, maka itu sudah sewajarnya dan biasa.
Namun, bila seseorang berlaku baik kepada orang yang telah menghina dan menyebarkan fitnah tentang dirinya—sebagaimana Rasulullah SAW yang menyuapi seorang pengemis tua dan buta Yahudi di pasar Madinah setiap hari, padahal pengemis itu senantiasa menyebarkan fitnah terhadap beliau—maka itulah cerminan amal yang ahsan, yang senantiasa dibicarakan dan diajarkan oleh Al-Qur’an.
Melalui Al-Qur’an pula, Allah Azza wa Jalla senantiasa menguji dan menantang manusia untuk naik level. Dari sekadar manusia biasa menjadi manusia terbaik dan berkelas. Oleh karena itu, yang digunakan bukan lagi standar biologis yang diberikan sama kepada setiap manusia, melainkan standar peningkatan diri yang hanya bisa dihasilkan dari dalam diri manusia itu sendiri, atas kesadaran dan dorongan dari dalam dirinya.
Level amal saleh atau kerja primer adalah kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja keras. Keikhlasan karena Allah Ta’ala tetap menjadi landasan utama dan energi inti untuk membuat seseorang menemukan cara terbaik yang diketahuinya dalam menghasilkan produk atau amal. Ikhlas juga merupakan energi yang mampu mendorong dan melejitkan kesungguhan serta fokus seseorang untuk memaksimalkan upayanya.
Sedangkan keinginan untuk ihsan—yang senantiasa menyadari bahwa Allah memperhatikan dan menilai kualitas kerjanya—adalah energi tambahan yang mendorong seorang mukmin untuk mempersembahkan karya terbaik, berkelas, dan benar-benar menyempurnakan misi yang diemban atau kerja yang tuntas.
Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan dalam QS. Al-Baqarah ayat 125: “…Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang-orang yang iktikaf, orang-orang yang rukuk, dan orang-orang yang sujud.’”
Level membersihkan fisik adalah level office boy. Sedangkan membersihkan hati orang yang rukuk dan membersihkan isi kepala orang yang sujud adalah level mereka yang memiliki ilmu dan iman sebagai aplikasinya.
Protein Syukur
Allah Ta’ala menyempurnakan bentuk dan sistem manusia. Kemudian Dia meniupkan ruh yang bukan bagian dari zat Allah, tetapi ruh tersendiri yang dimuliakan karena disandarkan kepada-Nya. Dengan kesempurnaan bentuk yang Allah Ta’ala berikan, manusia membutuhkan “protein” agar otak dan fisiknya tersambung dengan ruhnya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memberi manusia pendengaran, penglihatan, dan hati bukan hanya sebagai organ fisik, tetapi juga sebagai instrumen untuk menerima ilmu, membaca tanda-tanda, memahami makna, dan mengambil keputusan. Instrumen yang mewah dan lengkap.
Sayangnya, sedikit sekali manusia yang mau bersyukur. Sebab, manusia sejatinya bukan kekurangan nikmat, melainkan gagal mengoperasikan nikmat sesuai tujuan penciptaannya. Area kritisnya terletak pada bagaimana mengombinasikan input dari telinga ke mata, mata ke hati, lalu menurunkannya menjadi keyakinan dan energi pendorong dalam jiwa.
Apabila mata, telinga, dan hati dioperasikan dengan wahyu, ilmu, dan zikir, maka akan lahir hati yang hidup, keputusan yang jernih, ibadah yang lebih khusyuk, arah hidup yang lebih jelas, kepekaan sosial yang tinggi, serta rasa syukur yang melahirkan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu menjadi amal. Dampaknya tentu sangat besar.
Sejatinya, “protein” yang menyambungkan otak dan organ fisik manusia dengan apa yang diserap melalui mata, telinga, dan hati adalah syukur. Seberapa banyak syukur yang kita miliki akan memudahkan kita menginterpretasikan apa yang kita dengar, memahami tanda yang kita lihat, serta memberi alasan dan peneguhan bagi hati untuk berpijak pada fondasi ibadah dalam menjalani hari dan mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup.
Maka, bersyukurlah. Niscaya kita akan selalu merasa bahwa Allah Ta’ala lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Kesadaran itu akan menjadi dorongan untuk melakukan yang terbaik, mempersembahkan hasil terbaik (ahsana), dan siap menerima tugas-tugas terbaik yang Allah Ta’ala berikan. Sebab, Dia menyaksikan, Dia membekali kita dengan perangkat istimewa, dan Dia senantiasa menjaga kita agar menjadi manusia yang berkualitas dan terus menjadi lebih baik.*