Hikmah Dibalik Musibah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan dalam Alquran.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Surat Al-Ankabut [29]: 2).
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّـهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّـهِ قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Surat al-Baqarah [2]: 214).
Sebagai mukmin, kita meyakini bahwa sebagai orang yang mengaku dirinya beriman, kita pasti akan mengalami ujian dan cobaan dari Allah SWT dalam hidup ini baik berupa nikmat maupun musibah. Karena Allah SWT. yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui tidak pernah menjadikan dan menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia, maka sudah pasti ada hikmah di balik ujian dan cobaan hidup yang kita hadapi, baik hikmah itu kita ketahui maupun tidak. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّـهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Surat Ali ‘Imran [3]: 191).
Di antara hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari setiap musibah dan cobaan yang kita hadapi dalam menjalani kehidupan di dunia adalah:
– Ujian terhadap keimanan kita kepada Allah SWT. sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-‘Ankabut ayat 2 di atas bahwa Allah pasti akan menguji hambanya yang mengaku beriman. Juga sebagai pembuktian penghambaan kita kepada-Nya, bahwa kita tidak hanya beribadah kepada Allah SWT ketika mendapatkan nikmat, tetapi juga ketika kita mendapatkan musibah dan ujian dari Allah SWT. Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi sebagaimana yang digambarkan dalam Alquran:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّـهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Surat Al-Hajj [22]: 11).
– Untuk menghapuskan dosa yang telah dilakukan dan meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Ta’ala.
عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً ، أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ
Dari Aisyah ra, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak ada sesuatu pun yang menimpa seorang mukmin sampai duri yang menusuknya kecuali Allah menuliskan untuknya kebaikan atau dihapus darinya kesalahan.” (Riwayat Muslim).
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ , قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً ؟ قَالَ : ” الْأَنْبِيَاءُ , ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ , يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ , وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ , فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ
Dari Sa’d bin Abi Waqqas, ia berkata, “Saya bertanya, “Ya Rasulullah manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau bersabda, “Para Nabi kemudian orang-orang yang di bawahnya kemudian orang-orang yang di bawahnya. Seorang hamba akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya, jika di dalam agamanya terdapat kekuatan maka akan bertambah berat ujiannya, dan jika di dalam agamanya terdapat kelemahan maka dia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Ujian akan tetap dialami oleh seorang hamba sampai dia berjalan di atas bumi dan akhirnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (Riwayat Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Hakim dan Baihaqi).
– Ujian dan musibah yang kita hadapi itu merupakan pelajaran tauhid dan tawakal kepada Allah SWT karena dengan adanya musibah dan bencana yang menimpa kita akan membuat kita menyadari bahwa kita hanyalah seorang hamba yang lemah tidak punya daya dan kekuatan untuk menolak musibah dan bencana tersebut. Kita hanya bisa bersandar kepada Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat. Hal itu akan membuatkan kita kembali kepada Allah SWT. dan selalu bertawakkal kepada-Nya sehingga hilanglah sifat sombong, ujub dan lalai dari dalam jiwa kita.
Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Zad al-Ma’ad menjelaskan bahwa jika seandainya Allah Ta’ala tidak mengobati hamba-hambanya dengan ujian dan cobaan maka pasti mereka akan berlaku zalim, melampaui batas dan berbuat kerusakan.
– Ujian dan musibah akan mengingatkan kita akan dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan sehingga kita bertaubat dan meminta ampunan Allah SWT atas segala dosa tersebut. Allah SWT. menjelaskan:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Surat Asy-Syura [42]: 30).
– Ujian dan musibah juga akan memperlihatkan kepada kita hakikat dan kepribadian seseorang yang tidak dapat kita lihat kecuali dalam kesulitan. Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan bahwa manusia itu selama masih dalam keadaan senang maka hakikat dan watak sebenarnya mereka tidak mudah diketahui, dan ketika mereka ditimpa musibah baru kelihatan watak dan kepribadiannya, di mana seorang yang beriman kelihatan keimanannya dan orang yang munafik kelihataan kemunafikannya.
– Ujian dan musibah yang kita alami di dunia ini juga membukakan mata hati kita dan menyadarkan kita akan hakikat dunia ini bahwa ia adalah tempat yang melalaikan dan kehidupan serta kenikmatan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kehidupan dunia ini yang di sana tidak ada sakit dan kesusahan.
وَمَا هَـٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-‘Ankabut [29]: 64).
– Ujian dan musibah yang menimpa kita juga membuat kita menyadari nikmat dan karunia Allah SWT. yang selama ini kita lupa dan lalai untuk mensyukurinya. Sebagai contoh kita baru menyadari nikmat sehat yang diberikan Allah SWT ketika kita sakit.
Itulah di antara hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari setiap musibah dan cobaan yang kita hadapi. Semoga kita termasuk hamba yang selalu dapat memetik hikmah dari setiap nikmat dan cobaan yang kita hadapi sehingga kita menjadi hamba yang selalu bersyukur dan bersabar sehingga kita selalu mendapatkan kebaikan dari segala yang hadapi. Aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab.