KSPTadabbur

Doa-doa dalam Surah Al-Fatihah (2)

Alhamdu lillaahi rabbil-‘aalamīn.

Oleh KH Bachtiar Nasir

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ‎﴿٢﴾

Al-hamdu lillahi rabbil-‘alamīn.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Doa dalam surah Al-Fatihah setelah Bismillahirrahmanirrahiim adalah hamdalah, alhamdulillahirobbil’alamiin. Kalimat ini merupakan kalimat pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ‎﴿٢﴾

segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam

 

Kita harus memuji Allah setiap saat, sebab sebagai manusia kita sering naif. Jika melihat kebaikan seseorang timbullah puja-puji dan kekaguman yang berlebihan, sehingga lupa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Memuji Allah dengan hamdalah adalah memuji sifat-sifat Allah yang Maha Terpuji. Allah itu Maha Sempurna. Itulah kenapa kita harus memuji Allah dalam memulai doa kita. Saat bangun tidur kita berdoa, Alhamdulillah. Pada zikir juga ada hamdalah.

Kita harus memuji Allah subhanahu wa ta’ala, sebab hanya Dia yang berhak disembah dan dipuja. Jika kita tidak memuji Allah subhanahu wa ta’ala, kita akan cenderung menyembah kepada yang lain. Jika kita tidak memuji Allah subhanahu wa ta’ala, maka itu bisa memunculkan kemusyrikan dan kesombongan.

Sejak zaman Nabi Adam `alaihis salam sampai Nabi Idris `alaihis salam belum ada kemusyrikan. Di masa itu kemaksiatan yang ada adalah pembunuhan, kesombongan, dan yang lain.

Kemusyrikan mulai ada di zaman Nabi Nuh `alaihis salam. Pada masa itu ada pengultusan terhadap orang saleh yang berlebihan. Ketika orang saleh itu wafat, iblis membujuk kaum Nabi Nuh untuk mengabadikannya dengan membuatkan arca orang saleh itu, lalu arca tersebut disembah. Kejadian ini diabadikan dalam surah Nuh ayat 23:

 

وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا ‎﴿٢٣﴾

Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr.’

 

Pengultusan kepada makhluk adalah pintu gerbang kemusyrikan. Karenanya dalam Islam tidak ada orang suci atau pengultusan terhadap manusia, yang ada adalah memuliakan Nabi Allah atau Rasul Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kita sepasang mata bukan cuma berupa bola mata saja, tetapi dengan segala perangkatnya. Ada jaringan syarafnya, ada bulu mata dan kelopak yang melindungi mata, dan lain-lainnya. Begitu juga organ lain di tubuh kita, semua dengan segala perlengkapannya. Tetapi kurang sekali kita bersyukur dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah-lah segala pusat idola dan pusat pujaan hati kita. Kita memuja Allah harus disertai dengan cinta dan pengagungan, bukan sekadar memuja dengan hati kosong. Pujilah Allah disertai dengan cinta pengagungan. Jika memuji saja dengan hati kosong, maka ucapan alhamdulillah hanya seperti lewat begitu saja. (*)

Exit mobile version