Tadabbur

Cara Allah Menguatkan Kita

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati; bahkan mereka itu hidup, hanya saja kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Maka sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153–155).

Hidup adalah tentang segala sesuatu yang datang dan pergi. Nikmat dan musibah silih berganti, semuanya telah Allah tetapkan dalam takdir-Nya. Tiga ayat di atas datang setelah perintah Allah untuk mengingat dan bersyukur kepada-Nya—bukan hanya saat mendapat nikmat, tetapi juga ketika ditimpa ujian. Baik itu berupa nikmat yang menyenangkan, aturan yang mendidik, atau musibah yang menggugah. “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).

Tanda Kasih Sayang Allah

Pada hakikatnya, kita hanyalah hamba yang tidak memiliki daya apa pun tanpa izin Allah. Kita hidup karena-Nya, dirawat setiap saat oleh-Nya. Maka sudah sepantasnya kita tunduk dan taat kepada-Nya. Dan meskipun kita kerap diuji, satu hal yang harus selalu kita pegang teguh: bahwa Allah itu Mahabaik. Dia tidak pernah mendzalimi hamba-Nya dan selalu memberikan yang terbaik, bahkan lewat ujian yang terasa berat sekalipun.

Sayangnya, kita memang lemah dan mudah mengeluh. Seperti firman Allah, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19–21).

Di ayat lain, Allah juga menegaskan, “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu. Dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa: 28).

Dalam kelemahan itu, Allah mengajarkan satu kekuatan: bersyukur. Bersyukur memang bukan hal mudah, tetapi ia adalah penjernih hati. Ia membuka mata untuk melihat sisi lain dari ujian. Syuraih rahimahullah pernah berkata, “Jika aku tertimpa musibah, aku memuji Allah dalam empat hal: 1. Karena musibah itu tidak lebih besar dari yang terjadi. 2. Karena Allah memberiku kesabaran untuk menjalaninya. 3. Karena Allah memberi taufik untuk mengucap istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). 4. Karena musibah itu tidak menimpa urusan agamaku.”

Tiga Jalan Utama Menghadapi Ujian

Lalu bagaimana agar kita bisa menerima ujian dengan lapang dan bahkan bersyukur atasnya? Tiga ayat dari surat Al-Baqarah ini mengajarkan tiga cara utama:

sabar, shalat, dan iman kepada kehidupan abadi.

Pertama, Allah memerintahkan kita untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam menghadapi ujian. Karena sejatinya, Allah tidak pernah membiarkan kita menghadapi musibah sendirian. Meski berat, ujian itu hadir untuk menguatkan, bukan melemahkan. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

Shalat bukan hanya ibadah harian, tapi jembatan untuk mengadu, meminta kekuatan, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Dan sabar adalah perisai yang menenangkan hati saat kita tak mampu mengubah keadaan.

Kedua, Allah mengingatkan bahwa kematian di jalan-Nya bukanlah akhir. Bahkan, para syuhada itu hakikatnya masih hidup di sisi Allah—dalam kebahagiaan yang tak bisa dilihat mata dunia. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati. Bahkan mereka itu hidup, hanya saja kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154).

Kita sering takut kehilangan, tapi ayat ini memberi harapan: bahwa dalam perjuangan di jalan Allah, tidak ada yang benar-benar hilang. Semua akan dikembalikan dalam bentuk yang lebih baik dan kekal.

Ketiga, Allah menegaskan bahwa ujian adalah kepastian. Sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan orang tercinta, bahkan hasil panen yang tak seberapa—semua itu bentuk ujian. Tapi ujian itu hanya sedikit dan sementara, dibanding janji Allah berupa surga dan kemuliaan abadi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman, “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Maka sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ujian pasti datang. Tidak bisa kita tolak, dan tak selalu bisa kita pahami. Tapi justru di situlah letak cinta-Nya—agar kita mau belajar, bersyukur, dan kembali kepada-Nya. Hadapilah ujian itu dengan sabar dan shalat. Sebab di balik sabar ada kekuatan, dan di balik shalat ada pertolongan.

Percayalah, ujian yang kita hadapi saat ini hanyalah sekelumit kecil dari rahmat Allah yang luas. Dan bagi mereka yang bertahan, balasannya adalah sesuatu yang tak ternilai: hidup mulia di dunia, atau hidup mulia di akhirat—dalam surga-Nya yang abadi.*

Exit mobile version