Parenting

Belajar dari Kisah Kaum Luth, Bagaimana Menguatkan Umat dari Rumah? (2)

Oleh KH Bachtiar Nasir

Dari UBN Newsroom, kita belajar lagi bagaimana menguatkan umat dari rumahnya? Melihat masalah yang marak sekarang ini, yakni penyimpangan seksual sesama jenis, perlu kiranya kita muhasabah, apa yang mesti dibangun dari rumah-rumah keluarga.

Kita lihat Surah Asy-Syuara ayat 165-166:

اَتَأْتُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعٰلَمِيْنَۙ ۝١٦٥ وَتَذَرُوْنَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُوْنَ ۝١٦٦

Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)? Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas.”

Ayat ini menegaskan bahwa perilaku kaum Luth bukan sekadar perilaku seks yang menyimpang, tetapi akar masalahnya adalah soal kelakuan yang melampaui batas; melampaui batas syariah, batas fitrah, batas malu, batas keluarga, batas kemanusiaan yang dijaga oleh Allah.

Kita melihat dari perspektif Islam dalam memandang penyimpangan homoseksual ini.

Umat Islam tegas terhadap penyimpangan, tetapi tetap rahmah kepada manusia. Jadi ada dua sendi yang saling menopang ketika Islam memandang penyimpangan seksual ini dan perbuatan yang dianggap melampaui batas.

Perilaku penyimpangan seksual dalam pandangan Islam 

Dalam pandangan Islam, perilaku seksual sesama jenis adalah perbuatan yang dilarang. Dan jelas sekali bertentangan dengan fitrah penciptaan manusia. Namun ketegasan syariah tidak boleh berubah menjadi kekerasan, penghinaan, perundungan, apalagi kebencian terhadap manusia.

Seorang muslim harus bisa membedakan, antara menolak perilaku dan merendahkan pelaku. Itu dua hal yang berbeda. Kita menolak dosa tetapi tetap membuka pintu nasihat.

Tekanannya, kita menjaga hukum Allah tetap tidak menutup pintu taubat.

Kita membela fitrah tetapi tidak kehilangan akhlak.

Kita lihat bagaimana Nabi Luth Alaihissalam menghadapi kaum yang melampaui batas yang melakukan penyimpangan seksual itu. Nabi Luth berdakwah kepada kaumnya dengan peringatan bukan dengan caci-maki. Para Nabi tidak diutus untuk merendahkan manusia. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang didatangkan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran.

Penyimpangan seksual ini selain merusak juga tidak bisa melahirkan keturunan. Karena itu jika ada anggota keluarga atau sahabat yang sedang mengalami kebingungan identitas, dorongan seksual yang menyimpang, atau luka batin yang dalam. Pendekatan pertamanya bukan mempermalukan mereka di depan publik, tetapi merangkul dan membimbing pendekatan kepada mereka dengan sabar akan kembali kepada Allah, setelah pendekatan pertama kita mulai, yakni mendengarkan mereka.

Memang harus dengan kesabaran dalam mendekati mereka dengan mendengarkan apa yang menjadi sebab penyimpangan itu.

Kita harus tegas terhadap prinsip namun lembut dalam pembinaan.

Di sinilah Islam melihat dengan cermat. Selain perlu tindakan tegas, antara aktor utama yang menyebarkan perilaku yang melampaui batas, dengan korbannya.

Ada dua penanganan yang berbeda, antara aktor pelaku dan korban meskipun Islam memandangnya dengan rahmah juga tegas, tetapi aspek hukum baik pidana atau perdata harus tetap ditegakkan.

Jika tidak bisa lagi diajak kembali dan bertaubat, dan justru melakukan perlawanan, maka disinilah konsekuensi tindakan hukum yang diridhoi langit boleh diterapkan di bumi.

Krisis moral berawal dari krisis di rumah.

Benteng terakhir umat Islam adalah keluarga. Banyak kerusakan moral tidak tiba-tiba muncul di ruang publik. Dia bisa muncul dari rumah yang dingin, ayah yang tidak hadir, ibu yang kelelahan sendirian, komunikasi yang kering, kasih sayang yang miskin, dan pendidikan seksual yang tabu dibicarakan sampai anak mencari jawabannya di tempat yang salah. Inilah lahan subur terjadinya penyimpangan di rumah bagi anak-anak.

Ketahanan keluarga bukan hanya soal ekonomi. Ketahanan keluarga adalah kemampuan rumah sebagai tempatnya iman bertumbuh, tempatnya anak merasa aman, tempatnya ayah hadir memimpin keluarga dengan kasih sayang. Selain itu rumah juga sebagai tempatnya ibu dihormati sebagai madrasah kehidupan.

Rumah juga tempat konflik diselesaikan dengan adab, tempat anak bertanya tanpa dihina, dan tempat syahwat diajarkan tunduk kepada iman.

Misi besar sebuah rumah.

Jika rumah gagal sebagai tempat pulang, maka di luar rumah menawarkan hal yang tidak benar.

Sekarang banyak rumah palsu, komunitas palsu, indentitas palsu, kebebasan palsu, dan kasih sayang palsu.*

Exit mobile version