UBN: Banyak Wilayah Bencana Belum Tersentuh Bantuan, Pemuda Harus Bergerak

JAKARTA–Ulama nasional yang juga Pimpinan AQL Islamic Center, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menyerukan keterlibatan para pemuda untuk membantu relawan yang kini menghadapi kelelahan ekstrem setelah lebih dari sepekan bekerja menangani bencana di sejumlah wilayah Sumatera.
Menurut UBN, para relawan berada dalam kondisi fisik dan mental yang sangat terforsir. “Mereka bukan mesin. Mereka manusia seperti kita. Mereka juga terpukul saat menolong, tapi fisik mereka harus bekerja,” ujarnya, Rabu (3/12/2025).
UBN yang saat ini terjun ke lokasi bencana menegaskan bahwa relawan di lapangan juga mengalami keterbatasan akses makanan dan minuman, sama seperti para korban.
UBN mengajak para remaja masjid, santri, mahasiswa, karang taruna, klub olahraga, hingga komunitas kepemudaan di wilayah terdekat untuk segera turun membantu. “Mereka butuh tenaga kalian. Kerahkan anak-anak muda kalian. Latih sebentar tentang survival, lalu berangkatkan mereka,” katanya.
Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) ini meminta para guru, dosen, pimpinan pesantren, dan orang tua untuk mengizinkan dan mempersiapkan anak-anak muda terjun ke lokasi bencana, terutama untuk pekerjaan yang tidak membahayakan. UBN menilai pemuda lokal lebih mudah bergerak dan tidak memerlukan biaya besar seperti relawan dari provinsi lain.
Dalam seruannya, UBN juga mengingatkan masyarakat agar tidak menghabiskan energi anak muda hanya untuk berkegiatan non-prioritas. “Jangan sampai tenaga mereka keluar sia-sia berjoget atau bermain. Kirim mereka ke tempat gempa, ke tempat longsor, karena para relawan sedang sangat kelelahan,” ujarnya.
Ia turut meminta partisipasi para dermawan untuk membantu logistik, transportasi, dan kebutuhan relawan. “Kalau Anda punya mobil, berangkatkan mereka. Kalau punya uang, sewakan kendaraan dan logistik,” tegasnya.
UBN menyebut sejumlah kampung masih belum tersentuh bantuan dan sebagian wilayah mulai tercium bau mayat. Ia menilai kemampuan pemerintah sangat terbatas sehingga gotong royong warga menjadi krusial. “Ini saatnya bangsa Indonesia yang dikenal suka menolong kembali berdiri bersama, memberikan yang terbaik.”
Ia menutup seruan dengan komitmen untuk terus menggerakkan jaringan dan jamaahnya. “Kita akan gerakkan semuanya, dari tenaga, harta, sampai doa. Kita terus sampaikan bantuan untuk saudara-saudara kita di sana,” ujarnya.*