Berita

Seabad MDM Batur, UBN Ajak Generasi Hari Ini Jadi Akar Peradaban

BATUR, BANJARNEGARA– Pimpinan Perkumpulan AQL, KH Bachtiar Nasir, mengajak masyarakat Batur, Banjarnegara, menjadikan perjalanan satu abad Madrasah Diniyah Muhammadiyah (MDM) Batur sebagai momentum memperkuat tauhid, pendidikan generasi, ketahanan bangsa, dan kepedulian sosial.

Pesan tersebut disampaikan KH Bachtiar Nasir atau yang akrab disapa UBN dalam kajian bertajuk “Seabad Cahaya dari Negeri di Atas Awan” dalam rangkaian Milad 100 Tahun MDM Batur, Ahad (23/8/2026).

Di hadapan jamaah, UBN mengibaratkan perjalanan MDM Batur selama satu abad seperti sebuah pohon. Menurut dia, seratus tahun perjalanan merupakan akar yang telah ditanam generasi terdahulu, sedangkan generasi hari ini merupakan buah dari akar tersebut.

“Kita adalah buah, mereka adalah akar. Kalau memang kita adalah buah yang berkualitas karena ada biji yang berkualitas, maka teruslah tumbuh dan menanamlah. Jadilah akar hari ini untuk buah seratus tahun yang akan datang,” ujar UBN.

UBN mengatakan, usia satu abad MDM Batur bukan sekadar angka, melainkan perjalanan lintas generasi yang menunjukkan perjuangan, ketekunan, dan kontribusi masyarakat dalam menjaga pendidikan Islam.

Ia mengajak masyarakat menjadikan sejarah tersebut sebagai pijakan untuk melanjutkan perjuangan. Menurutnya, keberadaan MDM Batur hingga mencapai usia 100 tahun menunjukkan adanya kerja nyata yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam konteks kebangkitan umat, UBN menekankan pentingnya menjadikan tauhid sebagai fondasi kehidupan. Menurutnya, kebangkitan umat tidak cukup diukur dari jumlah orang yang mengucapkan syahadat.

“Kalimat la ilaha illallah jangan hanya menjadi ucapan, tetapi harus menjadi prinsip dalam berpikir, mengambil keputusan, mendidik keluarga, dan membangun masyarakat,” katanya.

Ia menyebut tauhid harus menjadi semacam “sistem operasi” dalam kehidupan manusia. Kualitas tauhid, kata dia, semestinya tercermin dalam kualitas individu, keluarga, pendidikan, kepedulian sosial, hingga kontribusi terhadap bangsa.

UBN kemudian mengingatkan jamaah pada perumpamaan Alquran tentang kalimat yang baik seperti pohon yang baik, yang akarnya kokoh, cabangnya menjulang, dan menghasilkan buah.

“Apakah tauhid yang kita ucapkan sudah menghasilkan buah dalam kehidupan?” ujarnya.

UBN juga mengingatkan pentingnya pendidikan generasi sebagai investasi jangka panjang. Orang tua, kata dia, tidak cukup hanya memperhatikan capaian akademik anak, tetapi juga harus memastikan nilai tauhid menjadi akar pembentukan karakter.

Anak-anak yang hari ini dididik dengan nilai-nilai Islam, menurutnya, merupakan generasi yang akan menjadi buah bagi Indonesia pada masa mendatang.

Karena itu, ia mengingatkan orang tua agar mengambil peran dalam membentengi anak dari berbagai pengaruh negatif teknologi dan media sosial.

UBN juga menyoroti risiko lahirnya generasi yang terlalu bergantung pada gawai, kurang bergerak, dan kehilangan kedisiplinan.

“Jadilah akar hari ini untuk buah seratus tahun yang akan datang,” tegasnya.

Pesan itu sekaligus menjadi ajakan agar generasi sekarang tidak hanya menikmati hasil perjuangan pendahulu, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi generasi berikutnya.

Memasuki usia satu abad, UBN mengajak masyarakat Batur memperluas makna perjuangan pendidikan menuju penguatan ketahanan bangsa.

Ia menyinggung pentingnya ketahanan pangan, ketahanan energi, dan kelestarian hutan sebagai bagian dari kesiapan Indonesia menghadapi berbagai dinamika global.

Menurutnya, menanam pohon memiliki makna yang sejalan dengan menanam generasi. Hutan yang dijaga akan memberikan manfaat bagi masyarakat, sedangkan generasi yang dididik dengan baik akan memberikan manfaat bagi bangsa pada masa depan.

Karena itu, menjaga hutan, melakukan penghijauan kembali, memperkuat ketahanan pangan, serta mendidik generasi merupakan bagian dari ikhtiar membangun Indonesia yang lebih kuat.

 

Ajak Peduli Korban Bencana

Dalam kajian tersebut, UBN juga mengajak jamaah memperkuat solidaritas kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana, termasuk saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan.

Menurutnya, masyarakat yang berada dalam kondisi relatif aman dan nyaman memiliki tanggung jawab moral untuk membantu mereka yang sedang menghadapi musibah.

Kepedulian, kata dia, tidak cukup diwujudkan melalui doa, tetapi perlu dilanjutkan dengan tindakan nyata.

Semangat tersebut menjadi bagian dari pesan Milad 100 Tahun MDM Batur. Pendidikan Islam, menurut UBN, harus melahirkan manusia yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan bangsa.

Dengan demikian, perjalanan satu abad MDM Batur tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi pijakan untuk menanam kembali akar peradaban bagi generasi Indonesia di masa mendatang.*

Exit mobile version