Malam Solidaritas dan Doa Kemanusiaan untuk Gaza
Jum’at (22/5/2027) malam lalu di Gedung Granadi, Kuningan Jakarta Selatan diadakan Malam Solidaritas dan Doa Kemanusiaan untuk Gaza. Acara yang digagas oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) ini menjadi momentum konsolidasi kemanusiaan pasca intersepsi ilegal oleh otoritas Zionis terhadap kapal misi Global Sumud Flotilla 2.0 di perairan internasional. Para ulama, aktivis, jurnalis, dan pilar media nasional berkumpul untuk menyatukan doa serta memperkuat langkah perjuangan bagi Gaza.
Forum ini juga menghadirkan para ibu dan istri delegasi. Mereka memberi kesaksian tentang keikhlasan dan keteguhan mendukung misi kemanusiaan. Perwakilan media juga menyerukan perlindungan bagi jurnalis di wilayah konflik yang terus menghadapi intimidasi saat menyuarakan kebenaran.
Ibu Rabiah, ibunda dari As’ad Aras Muhammad mengatakan, “Saya merasa senang ketika mendengar anak saya akan berangkat bersama GSF (Global Sumud Flotilla).
“Selama perjalanan As’ad selalu berkomunikasi dengan keluarga. Setiap akhir pembicaraan As’ad minta didoakan.” Bu Rabiah sudah siap dengan risiko yang mesti dihadapi bagi para pejuang pembebas Baitul Maqdis, khususnya risiko putranya sebagai relawan Global Sumud Flotilla yang berlayar menembus Gaza.
Ibu Sutrawati Kaharuddin, ibunda dari Andi Angga berbagi kisah bagaimana dia melepas putranya ikut dalam rombongan Global Sumud Flotilla. “Ketika anak saya minta izin, saya izinkan. Dia meyakinkan saya, ‘Selama bunda mendoakan saya, saya akan baik-baik saja. Jadi saya melepasnya dan selalu mendoakannya.”
Dengan dibebaskannya para relawan oleh pihak Israel, “Baru hari ini saya bisaa tersenyum. Sebelumnya dada merasa sesak tetapi saya harus kuat karena anak saya membutuhkan doa saya.”
Dalam forum Malam Solidaritas dan Doa Kemanusiaan untuk Gaza tersebut, Ustadz Bachtiar Nasir selalu pembina Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengajak juga para advokat dan praktisi hukum untuk lebih aktif membawa isu kemanusiaan, termasuk dalam memperjuangkan perlindungan terhadap relawan kemanusiaan terkait kejahatan perang di Gaza.
Gaza bukan sekadar isu geopolitik, tetapi juga ujian bagi hati nurani dan kemanusiaan secara universal.*
