KH Bachtiar Nasir Ungkap Strategi Alquran Melawan Islamofobia

JAKARTA—Kasus pembakaran Alquran yang dilakukan oleh politisi ekstremis sayap kanan Swedia-Denmark, Rasmus Paludan menjadi perhatian masyarakat dunia.
Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir turut menanggapi kasus tersebut. Menurut UBN, sapaan karib KH Bachtiar Nasir, pelaku pembakaran Alquran sejatinya sedang terjangkit penyakit Islamofobia.
“Fobia Islam yang sangat berlebihan. Orang yang fobia ini sebetulnya orang sakit,” tegas UBN saat mengisi kajian di Masjid Jami’ Tigo Baleh Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (4/2/2023) lalu.
Kata UBN, jika dibedah secara psikis, menurut psikolog, mereka yang terserang fobia itu merasa tak berdaya. Merasa terancam, ketakutan. Sama halnya seperti seseorang yang fobia dengan ketinggian.
“Pertanyaan sekarang, menghadapi orang yang sedang bakar Alquran ini sebetulnya menghadapi pemberani atau menghadapi penakut? Menghadapi orang sehat atau sakit?” ujar UBN bertanya.
Tentu, jelas UBN, dakwah kepada mereka perlu dilakukan secara bijak. Tidak kontraproduktif.
“Menghadapi Islamofobia jangan sampai kontraproduktif. Silakan lakukan aktivitas dakwah. Semua harus berdakwah,” jelas UBN yang juga Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI).
UBN melanjutkan, jika penyikapan umat dengan cara melakukan aktivitas yang menakutkan mereka, maka hal itu semakin melegitimasi. Semakin membenarkan, ada alasannya kenapa mereka takut kepada Islam, karena Islam menakutkan.
UBN kemudian menyitir surat An Nahl ayat 125 yang merupakan strategi Alquran dalam menghadapi kelompok Islamofobia.
Adapun terjemahan surat An Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”*