Hari Kedua Daurah Qiraat Internasional, Peserta Dalami 10 Qiraat Al-Qur’an

JAKARTA — Daurah Qiraat Internasional 1448 H/2026 M memasuki hari kedua dengan pendalaman ilmu qiraat dan tajwid. Kegiatan yang berlangsung di Universitas YARSI, Jakarta, Ahad (30/8/2026), diikuti dengan pembelajaran langsung melalui metode talaqqi.
Pada hari kedua, peserta menyimak pembacaan Surah Al-Fatihah menggunakan 10 qiraat yang dibacakan langsung Syaikh Prof. Dr. Ahmad Isa Al-Ma’sharawy. Setelah itu, peserta mengikuti dan membaca bersama bacaan tersebut.
Pembelajaran tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenal keragaman qiraat yang diwariskan melalui sanad keilmuan Al-Qur’an.
Selain pendalaman qiraat, peserta juga menyetorkan hafalan Matan Tuhfatul Athfal kepada Syaikh Abdullah Subhi. Setoran dilakukan secara langsung sebagai bagian dari proses talaqqi sekaligus penguatan kemampuan membaca dan memahami ilmu tajwid.
Dalam proses tersebut, peserta tidak hanya dituntut menghafal materi, tetapi juga memastikan bacaan dapat disampaikan secara tepat di hadapan guru dan memperoleh koreksi secara langsung.
Al-Qur’an untuk Ditadabburi
KH Dr (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., M.M., mengingatkan bahwa hafalan dan qiraat bukanlah tujuan akhir dalam mempelajari Al-Qur’an. Keduanya merupakan sarana untuk memahami dan mengamalkan kandungan kitab suci.
“Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dihafal dan dibaca, tetapi tujuan utamanya adalah untuk ditadabburi dan kemudian menjadi pengingat bagi kita. Hafalan dan qiraat hanyalah alat untuk sampai kepada tujuan itu,” kata Bachtiar.
Menurut dia, penguasaan hafalan dan ilmu qiraat perlu diarahkan agar Al-Qur’an hadir dalam kehidupan melalui tadabbur dan pengamalan.
Ia juga mengingatkan peserta mengenai tanggung jawab setelah memperoleh ilmu. “Kita bukan hanya menerima ilmu. Kita menerima amanah untuk menjaga dan meneruskannya,” ujarnya.
Daurah tersebut sekaligus menegaskan pentingnya tradisi talaqqi dalam pembelajaran Al-Qur’an. Peserta belajar melalui proses menyimak, membaca, menghafal, menyetorkan bacaan, hingga menerima koreksi langsung dari guru.
Proses tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketepatan bacaan sekaligus kesinambungan sanad keilmuan Al-Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya.*