Sya’ban, Masa Prakondisi Menuju Ramadhan
Oleh KH Bachtiar Nasir
Bismillahirrahmanirrahim
Bulan Sya’ban adalah jembatan agar kita sukses di bulan Ramadhan. Di bulan Sya’ban ini kita menyiram dan memupuk, sehingga bisa panen di bulan Ramadhan.
Abu Bakar al-Warraq al-Balkhi berkata,
شهر رجب شهر للزرع وشعبان شهر السقي للزرع ورمضان شهر حصاد الزرع
“Bulan Rajab adalah bulan bercocok tanam. Sedangkan Sya’ban adalah bulan pengairan tanaman. Adapun Ramadhan adalah bulan panen tanaman.”
Dan dia juga mengatakan:
مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ مثل الرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مثلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مثلُ اْلمطَرِ
“Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan.
وقال بعضهم: السنة مثل الشجرة وشهر رجب أيام توريقها وشعبان أيام تفريعها ورمضان أيام قطفها والمؤمنون قطافها، جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر وبمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر.
Tahun itu seperti pohon, bulan rajab waktunya muncul daun, Sya‘ban waktunya bercabang, Ramadhan waktu panennya, dan yang memanennya adalah orang-orang yang beriman. Sudah seharusnya orang-orang yang telah banyak berlaku dosa agar segera bertaubat pada bulan ini. Dan orang-orang yang dalam umurnya banyak melakukan hal yang tidak bermanfaat seharusnya mulai mengambil kesempatan ini di sisa umurnya.
Bulan Sya`ban merupakan kesempatan yang sangat baik untuk mengingatkan jiwa yang lalai untuk kembali meningkatkan kualitas amalan kita dan berusaha untuk selalu konsisten melakukan ketaatan, sehingga ketika Ramadhan datang, ia sudah dalam keadaan siap menggapai ampunan Allah subhanahu wa ta`ala dengan ibadah-ibadah yang telah dipersiapakan pada bulan Sya`ban.
Sya’ban merupakan masa prakondisi menuju Ramadhan yang seharusnya disertai dengan segala persiapan-persiapan, seperti:
Fisik, mencakup warming up (pemanasan) dan stretching (peregangan). Puasa adalah warming up secara fisik. Rasulullah banyak berpuasa di bulan Sya’ban.
Otak, tetap fokus untuk menghilangkan beragai macam gangguan. Fokuskan otak pada hal-hal yang membuat kita semangat menghadapi Ramadhan dan beribadah di Ramadhan.
Bayangkan jika kita ingin ke suatu tempat tanpa petunjuk atau peta, kita akan kesulitan. Begitu juga menghadapi Ramadhan kebiasaan masih sama ketika kita masih SD, tidak ditambah dengan petunjuk ilmu dari kitab-kitab mengenai hikmah yang kita kerjakan di bulan Ramadhan. Periksa perilaku kita terhadap gadget yang buang-buang waktu.
Kebiasaan, berlatih dan kebiasaan baru.
Kita perlu melatih kebiasaan baru, karena jam tidur kita di bulan Ramadhan berbeda pada bulan lainnya. Makanan juga diperhatikan perlu asupan makanan bergizi dalam menghadapi puasa sebulan penuh.
Kita perlu dengan kebiasaan lebih baik terkait dengan di bulan Ramadhan. Misalnya mengkhatamkan Qur’an perlu ditambah. Kalau biasanya sehari bisa 1 juz, di bulan Ramadhan ditambah, dan kebiasaan itu dipertahankan setelah Ramadhan.
Target, mind set dan siap sukses di Ramadhan. Orang-orang yang berpuasa dilatih sejak sebelum Ramadhan agar saat Ramadhan berakhir hasilnya adalah taqwa.(*)
