Menitipkan Orang Tua di Panti Jompo, Bagaimana Pandangan Islam?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustaz, saat ini banyak bermunculan panti-panti jompo di tengah masyarakat. Saya ingin bertanya, apakah hukumnya menitipkan orang tua kita di panti jompo tersebut karena kita tidak sempat atau mampu untuk mengurusnya sehingga takut tidak terurus? Mohon penjelasannya, Ustaz.
Hamba Allah.
Jawab:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Berbakti dan selalu berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan kewajiban seorang muslim dan salah satu bentuk ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan di dalam Alquran, Allah Ta’ala meletakkan perintah untuk berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua itu setelah perintah untuk mentauhidkan ibadah kita kepada Allah. Setelah larangan untuk mempersekutukannya dengan sesuatu apapun untuk menunjukkan betapa tinggi dan mulianya amalan berbakti kepada orang tua tersebut. Allah Ta’ala berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ﴿٢٣﴾ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ﴿٢٤
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Surat Al-Isra` [17]: 23-24).
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak.” (Surat Al-An’am [6]: 151).
Dalam banyak haditsnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang keutamaan berbakti dan berbuat baik kepada orang tua ini:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحب الى الله ُ قَالَ الصَّلَاة ُ على وَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Beliau bersabda: ”Shalat pada waktunya.” aku bertanya lagi lalu apalagi? Rasul bersabda: “berbuat baik kepada orang tua.” lalu aku bertanya lagi, kemudian apa ya Rasulallah SAW.? Rasul bersabda: “ Jihad dijalan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Bahkan, Rasulullah SAW. menegaskan bahwa sangat hina dan merugilah orang-orang yang masih bertemu dengan orang tuanya ketika mereka memasuki usia tua, namun dia tidak bisa masuk surga dengan berbakti kepada keduanya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَغِمَ أَنْفُهُ ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ، قِيلَ : مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh hina, sungguh hina dan sungguh hina dia” lalu ada yang bertanya kepada beliau: “Bagi siapakah kehinaan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW. bersabda: “Yaitu orang yang mendapati kedua orangtuanya atau salah satunya dalam keadaan tua (jompo), kemudian ia tidak masuk surga (dengan berbakti kepadanya).” (Riwayat Muslim).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengingat kaum muslimin jangan sampai durhaka kepada kedua orang tuanya karena itu merupakan salah satu dosa besar. Bahkan sekadar ungkapan ‘ah’ saja yang kita anggap remeh. Namun di sisi Allah Ta’ala itu merupakan suatu kedurhakaan sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Isra` di atas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan bahwa durhaka kepada orang tua merupakan salah satu dosa besar:
عن أبى بكرة قَالَ : كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ، فَقَالَ : أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ ، قَالَ : فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ
Dari Abu Bakrah, ia berkata, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau mengulangi tiga kali. Lalu mereka berkata: “Iya wahai Rasululah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua. Beliau lalu duduk yang tadinya bersandar seraya mengatakan: “Ketahuilah! dan persaksian palsu.” Abu Bakrah berkata: “Rasulullah SAW terus mengulangi sehingga kami mengatakan: ‘seandainya beliau berhenti.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan itu, maka para ulama menjelaskan bahwa pada dasarnya tidak boleh hukumnya menitipkan orang tua kita di panti jompo. Kecuali jika itu terpaksa dan berdasarkan keinginan dan kerelaaan hatinya, dan izinnya yang tidak karena terpaksa disebabkan perilaku buruk anaknya. Karena biasanya orang tua kita itu selalu ingin dekat dengan anaknya dan cucu-cucunya untuk mengisi hari tua mereka dengan bermain dan melihat pertumbuhan dan keriangan anak cucu mereka. Jika kemudian kita menitipkan mereka di panti jompo tentu itu akan membuat mereka sedih.
Maka sebisa mungkin harus kita sendiri yang merawat dan mengurus orang tua kita ketika mereka telah lanjut usia karena itu merupakan salah satu pintu kita menuju surga Allah Ta’ala. Dengan jalan berbakti dan berbuat kepada mereka. Dalam kitabnya ‘Birrul walidain’ Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa Rifa’ah bin Iyas berkata, “Saya melihat al-Haris al-‘Akali menangis pada waktu penguburan ibunya, maka dikatakan kepadanya, “Kamu menangis? Beliau menjawab, “Bagaimana akau tidak menangis sebuah pintu dari pintu-pintu surga telah ditutup bagiku.”
Wallahu a’lam bish shawab.*
KH Bachtiar Nasir