Artikel

Gaza dan Ketakutan Dunia

Oleh:
KH Bachtiar Nasir || Ketua Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis (KIBBM)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَضَيْنَآ إِلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ فِى ٱلْكِتَٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ أُولَىٰهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ أُو۟لِى بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا۟ خِلَٰلَ ٱلدِّيَارِ ۚ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولًا
ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ ٱلْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَٰكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَٰكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.’ Maka, apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (QS. Al-Isra ayat 4-6).

Hari ini Allah Azza wa Jalla memperlihatkan kebenaran ayat-Nya di surat Al-Isra ayat 4 bahwa bangsa Yahudi dengan nama negara Israel pasti akan melakukan kali kedua kejahatan besarnya dan mereka dalam keadaan yang sangat sombong. Seakan mereka adalah penguasa dunia dan mereka berkuasa untuk menentukan apa pun.

Apa yang terjadi di Gaza hari ini adalah sebuah potret genosida terang-terangan yang terjadi di depan muka dunia. Akan tetapi, pembersihan etnis manusia di Gaza ini menjadi hal yang dianggap biasa saja oleh para pembela hak asasi manusia. Padahal di tanah ini, berdiri penjara-penjara terbesar di muka bumi yang pernah ada. Mereka, orang-orang Palestina dikurung dalam penjara terbesar di Al-Quds, Tepi Barat, dan Gaza tentu saja.

Khususnya Gaza, adalah tempat dijatuhkannya senjata-senjata berat yang bahkan belum diuji cobakan di seluruh dunia. Seluruh senjata yang tidak diperbolehkan digunakan selama peperangan berlangsung, menjadi “berizin”, jika digunakan untuk membunuh rakyat Gaza. Bahkan, konvoi masyarakat sipil yang mencari perlindungan pun tak luput diserang oleh rudal. Setelah sebelumnya mereka diiming-imingi keselamatan, bila mau konvoi berpindah dalam waktu yang mereka tentukan.

Inilah bencana kemanusiaan terbesar. Namun, coba lihat bagaimana dunia dan jemaah-jemaah Jumat Indonesia yang hanya sedikit mau bersuara menyaksikan kejahatan kemanusiaan ini. Hanya sedikit yang mau menunjukkan rasa solidaritas dan persaudaraan mereka kepada saudara-saudaranya – yang bahkan menjadi pendukung nomor satunya, manakala bangsa ini tidak diakui oleh negara-negara di dunia untuk terlahir menjadi sebuah negara baru. Palestina dan negara-negara Timur Tengah-lah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ulama Palestina yang bernama Muhammad Amin Al-Husaini yang hidup di pengungsian, yang hidupnya ditindas penjajah Israel; tak ragu melobi negara-negara Arab hingga Mesir menyatakan dukungannya atas kemerdekaan Indonesia. Negara-negara Timur Tengah jugalah yang langsung mengadakan shalat ghaib, manakala terjadi pembantaian umat Islam negeri ini di Surabaya dan beberapa kota di Jawa Timur lainnya. Ini hanyalah beberapa contoh dari besarnya rasa persaudaraan dan besarnya aksi nyata yang mereka, saudara-saudara kita di Palestina dan Timur Tengah, lakukan untuk kita yang ketika itu lemah dan tertindas.

Namun kini, ada fenomena yang luar biasa kita dapati dalam perang Hamas-Israel dalam beberapa hari terakhir ini. Bahwa, pasukan yang katanya tidak terkalahkan, memiliki persenjataan terlengkap, didanai oleh negara-negara besar, dan memiliki stategi mumpuni dibuat bertekuk lutut di hadapan pasukan Hamas yang benar-benar melatih dan mempersenjatai pasukan mereka sendiri.

Hari ini, mereka masih bertahan dan mereka berkata bahwa mereka tengah menghadapi apa yang dikatakan oleh dunia sebagai pasukan terkuat. Namun, bukti di lapangan menunjukkan bahwa akidah mereka lebih kuat dari apa yang Israel miliki. Aqidah mereka bahkan membuat mereka semakin kuat dari hari ke hari dan membuat pasukan Israel stres. Rudal-rudal mereka berhasil menembus Tel Aviv dan Haifa. Pertolongan Allah terus menyertai dan pasukan Israel hanyalah pasukan “alam khayal” belaka.

Jihad dan Rahmat Allah
Mengapa Hamas kuat, mereka masih bisa bertahan? Karena, mereka adalah orang-orang yang memiliki prinsip tauhid dalam hati mereka. “Laa Ilaaha IlaaLlah Muhammadarasulullah” sebagai prisip mereka.

“Hidup adalah akidah dan jihad” adalah kalimat yang sangat melekat pada para pejuang. Meski kalimat ini juga melekat pada mereka yang mempelajari syair Ahmad-Syauqi. Kalimat ini ada di ujung syair yang menegaskan bahwa hidup ini sejatinya hanya untuk mempertahankan aqidah dan berjuang hingga titik darah penghabisan.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah ayat 218).

Hidup ini hanyalah untuk mempertahnakan persepsi iman. Hidup ini hanyalah untuk menjaga iman yang ada di dalam dada. Allah menyatakan bahwa tiada Ilaah yang patut disembah, malainkan hanyalah Dia. Dialah yang paling pantas diharapkan, paling pantas disandarkan dan Yang paling pantas untuk ditakuti karena hanya Dialah yang paling perkasa dan Mahabijaksana.

Khalid bin Walid dijuluki pedang Allah berkata, “Setiap ada pertempuran dan peperangan yang membutuhkan tenaga laki-laki, disitulah saya selalu hadir. Baik saya masih dalam masa jahiliyah maupun setelah saya masuk Islam. Karena itu, jika Anda melihat tubuh saya sekarang, tidak ada sedikit pun tempat yang tersisa dari tebasan pedang atau tusukan panah. Namun demikian, sekarang kalian melihat bahwa aku sedang terbaring di atas kasur menjemput ajal.”

Ini saya sampaikan pada para pengecut agar tidak selalu ketakutan pada medan perang. Bahwa Khalid bin Walid si Pedang Allah yang senantiasa ingin menjemput kematian di medan perang saja, tidak dikarunia Allah untuk syahid di medan perang. Namun, justru sang pahlawan ini meninggal di atas pembaringan.

Artinya, janganlah takut akan pedang atau senjata yang secara logika akan mengantarkan Anda pada kematian. Sebab, cara mati dan kapan kematian datang, hanya Allah-lah yang menggenggam rahasianya. Berjihadlah agar bangsa ini benar-benar bisa hidup sebagai orang-orang yang bermartabat dan terhormat. Agar umat ini benar-benar bisa menjalankan Pancasila terutama silanya yang pertama, yang merupakan gerbang implementasi dari empat sila setelahnya. Yaitu, keimanan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Empat sila setelahnya, sungguh bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan kecuali hanya dengan rahmat Allah Ta’ala dan jihad yang sungguh-sungguh.

Sungguh, hanya pertolongan Allah dan keyakinan yang kuatlah yang dapat menguatkan kita untuk benar-benar tegak berjihad di jalan-Nya. Oleh karena itu, berpeganglah kepada ayat-ayat-Nya dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kedaulatan dan kemerdekaan umat itu menjadi nyata.*

Exit mobile version