Tadabbur

Obat yang Menunggu untuk Diminum

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

DI SUDUT rumah kita, hampir selalu tersedia kotak obat. Ada yang isinya lengkap, ada pula yang hanya berisi beberapa obat untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, ada satu hal sederhana yang kita pahami bersama: obat sehebat apa pun tidak akan memberi manfaat jika hanya tersimpan di dalam lemari.

Obat baru bekerja ketika diminum dengan cara yang tepat, dalam dosis yang sesuai, dan oleh tubuh yang menerimanya. Demikian pula dengan Al-Qur’an.

Boleh jadi hampir setiap rumah Muslim memiliki mushaf. Ada yang tersimpan rapi di rak, berada di atas meja, atau diletakkan di tempat yang dianggap terhormat. Namun, kemuliaan Al-Qur’an tidak terletak pada seberapa indah ia disimpan. Al-Qur’an akan memberi pengaruh ketika dibaca, direnungkan, lalu nilai-nilainya dihidupkan dalam kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 82: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (syifa’) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim, (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang indah. Ia adalah syifa’, penawar bagi penyakit yang berada di dalam diri manusia.

Allah menyebut Al-Qur’an sebagai syifa’ bagi apa yang terdapat di dalam dada. Ini menunjukkan bahwa ada penyakit yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sangat memengaruhi kehidupan seseorang.

Kecemasan yang terus menggelayut, iri melihat keberhasilan orang lain, hati yang mudah marah, kegelisahan ketika kehilangan sesuatu, hingga jauhnya diri dari Allah merupakan sebagian persoalan batin yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan kenikmatan dunia.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia mungkin semakin mudah merawat tubuh, tetapi belum tentu semakin pandai merawat hati.

Al-Qur’an hadir untuk membersihkan sekaligus mengisi hati. Ia mengajak manusia meninggalkan penyakit batin, kemudian menggantinya dengan iman, kesabaran, ketenangan, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah.

Karena itu, membaca Al-Qur’an tidak semestinya hanya menjadi rutinitas lisan. Ada proses tadabur yang membuat ayat-ayat Allah perlahan turun dari lisan menuju kesadaran, kemudian dari kesadaran menuju perilaku.

Seperti obat yang diminum secara teratur, nilai-nilai Al-Qur’an pun perlu terus dihadirkan dalam kehidupan. Kitab yang sama, hasil yang berbeda.

Menariknya, Allah menyebut Al-Qur’an sebagai rahmat bagi orang beriman, tetapi pada saat yang sama menyebutnya dapat menambah kerugian bagi orang-orang zalim.

Kitabnya sama. Ayatnya sama. Tetapi hasil yang diterima manusia dapat berbeda. Persoalannya bukan terletak pada Al-Qur’an, melainkan pada bagaimana manusia menerimanya.

Obat tidak akan bekerja jika seseorang menolaknya. Demikian pula petunjuk Allah tidak akan banyak berarti jika manusia membaca ayat-ayat-Nya dengan kesombongan, hanya memilih yang sesuai dengan keinginannya, atau menjadikan mushaf sekadar hiasan di rumah. Al-Qur’an bukan pajangan.

Ia bukan sekadar benda yang diletakkan di tempat tinggi agar rumah terlihat religius. Ia adalah petunjuk yang seharusnya turun ke dalam kehidupan: membentuk cara berpikir, memperbaiki akhlak, menata keluarga, dan mengarahkan manusia dalam mengambil keputusan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an dapat menjadi hujjah bagi seseorang atau justru menjadi hujjah yang memberatkannya. Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah kita memiliki Al-Qur’an, melainkan apakah Al-Qur’an memiliki tempat dalam kehidupan kita.

Kesembuhan tidak berarti meninggalkan ikhtiar Memahami Al-Qur’an sebagai syifa’ juga tidak berarti mengabaikan ikhtiar medis ketika tubuh mengalami sakit.

Islam mengajarkan manusia untuk berikhtiar. Ketika sakit, seseorang dapat berdoa, membaca Al-Qur’an, melakukan ruqyah syar’iyyah, sekaligus mencari pertolongan tenaga medis sesuai kebutuhannya.

Semua itu adalah bagian dari ikhtiar. Adapun kesembuhan pada akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS mengajarkan keyakinan itu melalui firman Allah dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 80: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”

Karena itu, jangan pernah menjadikan sakit seseorang sebagai ukuran keimanan. Tidak semua penyakit merupakan tanda lemahnya iman. Nabi Ayyub AS pun pernah mengalami ujian sakit yang berat.

Jangan pula menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai alasan untuk meninggalkan pengobatan yang diperlukan. Dan jangan menjual janji kesembuhan dengan mengatasnamakan ayat-ayat Allah.

Al-Qur’an adalah petunjuk dan rahmat, bukan komoditas untuk memperjualbelikan harapan manusia yang sedang berada dalam kesulitan. Pada akhirnya, mungkin sudah waktunya kita memeriksa kembali “kotak obat” spiritual di rumah masing-masing.

Berapa banyak mushaf yang kita miliki? Berapa sering ia kita buka? Dan yang lebih penting, berapa banyak ayat yang benar-benar kita izinkan untuk mengubah diri kita?

Jangan sampai di rumah kita terdapat obat yang paling mulia, tetapi ia terus menunggu untuk diminum. Jangan sampai mushaf yang selama ini kita muliakan hanya berdebu di atas rak, sementara hati kita justru terus dibiarkan sakit.

Sebab Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca ketika kita membutuhkan ketenangan. Ia adalah petunjuk untuk menemani seluruh perjalanan kehidupan.*