Menjemput Rahmat di Jalan Sunnah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DALAM keseharian, manusia acap kali lebih mudah terpaku pada hal-hal yang tidak menyenangkan. Ketika ujian datang, ketika harapan tidak sesuai kenyataan, atau ketika disakiti orang lain, perhatian kita kerap habis tersita oleh rasa sakit.
Kita bahkan bisa kehilangan kesempatan menikmati begitu banyak nikmat hanya karena terlalu lama memikirkan satu persoalan yang mengecewakan.
Ibarat membakar sebuah gudang penuh barang berharga hanya karena menemukan seekor tikus di dalamnya. Kita menghancurkan begitu banyak kebaikan hanya karena terjebak pada satu hal yang buruk.
Padahal, jika kehidupan dipandang melalui kacamata asmaul husna, khususnya Ar-Rahman dan Ar-Rahim, cara kita memahami setiap peristiwa akan berubah. Apa yang tampak sebagai musibah belum tentu merupakan keburukan. Bisa jadi, di baliknya terdapat rahmat Allah yang belum mampu kita pahami.
Rahmat Allah tidak selalu hadir dalam bentuk kesenangan. Terkadang ia hadir melalui teguran, kehilangan, penundaan, bahkan sebuah ujian yang memaksa manusia kembali mendekat kepada-Nya.
Lalu, bagaimana agar kita senantiasa berada dalam ruang rahmat Allah? Salah satu pintu utamanya adalah ittiba’, yakni mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Mengikuti sunnah bukan sekadar memperbanyak amalan yang bersifat ritual. Sunnah juga menghadirkan tuntunan bagaimana manusia menjalani kehidupan: bagaimana memperlakukan orang lain, menjaga diri, mengelola harta, menggunakan akal, membangun keluarga, hingga menghadapi perbedaan.
Karena itu, menyelisihi tuntunan Rasulullah SAW bukan perkara ringan. Alquran memberikan peringatan agar orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul berhati-hati terhadap fitnah atau azab yang pedih.
Dalam kehidupan dunia, fitnah tidak selalu berarti tuduhan atau kabar bohong. Ia juga dapat hadir dalam bentuk kekacauan, perpecahan, kesimpangsiuran, dan hilangnya ketenangan.
Bukankah banyak kegelisahan justru lahir karena manusia terlalu sibuk berdebat, saling mencela, dan menebarkan kebencian?
Ruang digital memperlihatkan fenomena itu setiap hari. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi permusuhan. Perbedaan pandangan berubah menjadi saling merendahkan. Waktu dan energi habis untuk membuktikan siapa yang paling benar, sementara hati perlahan kehilangan ketenangan.
Padahal, sunnah mengajarkan ta’awanu ‘alal birri wat taqwa—saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Sunnah tidak mengajarkan manusia untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, ia mengarahkan manusia agar menghadirkan kebaikan bagi sesama. Sebab, hidup terlalu singkat jika dihabiskan untuk kebencian.
Lebih jauh, mengikuti sunnah sejatinya berkaitan erat dengan upaya menjaga fondasi kehidupan manusia. Dalam maqashid asy-syariah, terdapat lima hal pokok yang harus dijaga: agama (hifz ad-din), jiwa (hifz an-nafs), akal (hifz al-‘aql), keturunan (hifz an-nasl), dan harta (hifz al-mal).
Kelima prinsip itu bukan sekadar teori yang dibicarakan di ruang-ruang kajian. Ia harus menjelma menjadi perilaku sehari-hari.
Menjaga jiwa, misalnya, berarti memperhatikan kesehatan dan tidak sengaja menjerumuskan diri pada sesuatu yang membahayakan. Menjaga akal berarti menjauhi hal-hal yang merusak kejernihan berpikir. Menjaga keturunan berarti membangun keluarga dengan nilai-nilai yang baik. Menjaga harta berarti memperolehnya melalui jalan yang halal serta menjauhi praktik yang dilarang, termasuk riba.
Dengan demikian, sunnah sesungguhnya bukan sesuatu yang membebani kehidupan. Sebaliknya, ia merupakan jalan yang menjaga manusia agar tidak mudah terjerumus ke dalam kehancuran.
Ada kalanya manusia mengira rahmat Allah hanya berupa kesehatan, rezeki yang luas, keluarga yang harmonis, dan hidup tanpa masalah. Padahal, rahmat bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: hati yang diselamatkan dari kebencian, langkah yang dijauhkan dari maksiat, akal yang terjaga dari kerusakan, serta kemampuan untuk kembali kepada Allah setelah tersesat.
Maka, menghidupkan sunnah berarti berusaha menjemput rahmat Allah melalui jalan yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Ketika hidup terasa berat, jangan hanya bertanya, “Mengapa Allah memberikan ujian ini?” Barangkali ada pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini?”
Sebab, boleh jadi sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai kesulitan justru menjadi jalan menuju keselamatan.
Semoga Allah SWT melembutkan hati kita untuk mencintai, memahami, dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Dengan itu, semoga langkah kita senantiasa berada di jalan kebaikan dan kehidupan kita selalu berada dalam dekapan rahmat-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.*
