Rahasia Meraih Rahmat Tak Terbatas

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
SETIAP hamba tentu merindukan rahmat Allah SWT. Rahmat-Nya luas tanpa batas. Ia menjadi harapan ketika manusia berada dalam kesulitan, menjadi jalan keluar ketika persoalan terasa buntu, sekaligus menghadirkan ketenangan di tengah kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Namun, bagaimana agar seorang hamba senantiasa berada dalam liputan rahmat-Nya?
Salah satu pintu utama untuk meraih rahmat Allah adalah ittiba’us sunnah, mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Ittiba’ bukan sekadar meniru apa yang tampak secara lahiriah dari kehidupan Rasulullah. Lebih dari itu, ittiba’ merupakan bentuk nyata penghambaan kepada Allah SWT dengan menjadikan tuntunan Rasulullah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Di sinilah ujian sesungguhnya. Mengikuti sunnah berarti bersedia menundukkan hawa nafsu dan menempatkan akal serta keinginan pribadi di bawah tuntunan wahyu.
Allah SWT memberikan penegasan yang sangat kuat dalam Alquran:
“Maka demi Tuhanmu, mereka belum beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa: 65)
Ayat tersebut menggambarkan tiga lapisan kepatuhan seorang mukmin.
Pertama, kepatuhan dalam perbuatan.
Seorang mukmin menjadikan syariat yang dibawa Rasulullah SAW sebagai pedoman dan pemutus dalam berbagai persoalan kehidupan. Ketika terjadi perselisihan, ukuran kebenaran tidak semata-mata dikembalikan kepada kepentingan pribadi, kebiasaan, atau ukuran manusia.
Dalam perkara keluarga, misalnya, pembagian warisan bukan hanya persoalan siapa memperoleh lebih banyak atau lebih sedikit. Ia merupakan bagian dari ketentuan yang telah diatur oleh Allah SWT.
Kedua, kepatuhan dalam perasaan.
Inilah tingkatan yang lebih dalam. Bisa jadi sebuah ketentuan terasa berat bagi manusia. Bisa pula keputusan syariat tidak sesuai dengan apa yang menurut logika atau keinginan pribadi dianggap paling adil.
Namun, seorang mukmin dituntut untuk tidak membiarkan hatinya dipenuhi keberatan terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Ia berusaha melapangkan dada karena menyadari bahwa pengetahuan manusia terbatas, sedangkan ilmu Allah SWT meliputi segala sesuatu.
Ketiga, kepatuhan dalam bentuk taslim atau kepasrahan.
Inilah puncak penghambaan. Seorang hamba menerima ketentuan Allah dan Rasul-Nya dengan ketundukan yang utuh. Bukan sekadar menjalankan secara lahiriah, tetapi juga menyerahkan hati kepada ketetapan tersebut tanpa menyisakan keraguan terhadap hikmah dan kebenarannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang seseorang menjalankan perintah agama, tetapi hatinya masih dipenuhi gerutuan. Ia mungkin melakukan apa yang diperintahkan, tetapi di dalam dirinya masih muncul pertanyaan, keberatan, bahkan penolakan.
Pada titik inilah kita perlu bercermin. Sebab, ketaatan tidak hanya diukur dari apa yang dilakukan oleh anggota tubuh, tetapi juga dari bagaimana hati menerima ketentuan Allah SWT.
Jangan sampai kita hanya berhenti pada tahap menjalankan perintah, sementara hati masih sibuk bernegosiasi dengan hawa nafsu.
Karena itu, jika kita ingin senantiasa berada dalam liputan rahmat Allah SWT, mari belajar melapangkan dada terhadap ketentuan-Nya. Tundukkan ego, kendalikan hawa nafsu, dan tempatkan keinginan pribadi di bawah tuntunan wahyu.
Sebab, menjadi hamba bukan hanya tentang melakukan apa yang diperintahkan. Lebih jauh, ia adalah tentang belajar menerima dengan hati yang tunduk dan penuh keyakinan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu mengikuti sunnah Rasulullah SAW, melapangkan hati terhadap ketentuan-Nya, serta merasakan luasnya rahmat-Nya di setiap langkah kehidupan. Wallahu a’lam bishawab.*
