Ustaz Bachtiar Nasir Kenang Kisah Lucu Saat Nyantri di Gontor

PONOROGO — Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) mengenang kisah lucu semasa menjadi santri Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Cerita tersebut kembali disampaikan dalam silaturahim 100 tahun Gontor bersama para alumni senior pada Sabtu malam (19/9/2026).
UBN mengisahkan pengalaman yang terjadi puluhan tahun lalu ketika dirinya masih tinggal di Rayon Arinda. Saat itu, para santri hendak melaksanakan shalat berjamaah.
Salah seorang santri bernama Zainal tiba-tiba ingin menjadi imam. Tidak ada yang menganggap keinginan tersebut sebagai sesuatu yang aneh. Namun, para santri baru mengetahui maksud lain di balik keinginannya setelah shalat berlangsung.
Saat membaca Surah Al-Kafirun, Zainal beberapa kali mengulang ayat sebelum bagian penutup. Para makmum yang sudah hafal surah tersebut mulai saling memperhatikan.
Rupanya, Zainal sengaja memperpanjang bacaan karena memiliki rencana menyampaikan doa setelah shalat. Ia ingin mendoakan klub sepak bola yang didukungnya.
Dalam kisah yang disampaikan Bachtiar, Zainal kemudian berdoa agar klub Darussalam meraih kemenangan.
Namun, doa tersebut tidak diamini para makmum. Mereka justru menjawab dengan seruan, “Laa takun, ya Allah!” atau “Jangan, ya Allah.”
UBN mengatakan, saat itu dirinya merupakan bagian dari klub sepak bola rival bernama Meteor. Persaingan antarklub di kalangan santri membuat doa Zainal untuk kemenangan Darussalam tidak mendapat dukungan dari para santri lainnya.
UBN menuturkan, kisah tersebut menjadi salah satu kenangan yang tetap melekat meski puluhan tahun telah berlalu. Menurut kisah tersebut, kehidupan di pesantren tidak hanya diwarnai kegiatan belajar dan ibadah, tetapi juga persahabatan serta berbagai pengalaman sederhana antarsantri.
Cerita itu kembali menghidupkan suasana masa lalu ketika para santri tinggal bersama, belajar, makan, shalat berjamaah, hingga bermain sepak bola.
Pengalaman tersebut sejalan dengan kesaksian UBN dalam kesempatan lain. Ia pernah menyebut sekitar 75 persen karakternya terbentuk melalui pendidikan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) di Gontor. Pernyataan itu disampaikan dalam SAJID Friday Morning Talk di AQL Islamic Center, Jakarta, 4 September 2026.
UBN merupakan alumni Gontor angkatan 1988. Dalam momentum 100 tahun Gontor, ia juga mendapat apresiasi sebagai Alumni Istimewa dalam kategori pendakwah perkotaan.
Kisah tentang Zainal dan doa untuk klub sepak bola itu pun menjadi pengingat bahwa kenangan masa nyantri tidak selalu berasal dari ruang kelas. Bagi UBN, pengalaman sederhana bersama sesama santri dapat menjadi cerita yang terus dikenang hingga puluhan tahun kemudian.*
