Tadzkirah

Tiga Pintu Menuju Rahmat Allah

Ilustrasi

Oleh: 

KH Bachtiar Nasir 

KEHIDUPAN manusia tidak pernah lepas dari kasih sayang Allah SWT. Rahmat-Nya hadir dalam setiap tarikan napas, rezeki yang mengalir, keluarga yang menyertai, kesehatan, kesempatan untuk memperbaiki diri, hingga berbagai pertolongan yang terkadang baru kita sadari setelah melewati sebuah ujian.

Namun, ketika musibah datang, kesedihan sering kali membuat pandangan menjadi sempit. Pikiran dipenuhi kekhawatiran, hati diselimuti kegelisahan, dan dunia seolah-olah kehilangan cahaya. Pada saat seperti itu, manusia mudah lupa bahwa rahmat Allah tidak pernah berhenti mengalir.

Kesulitan tidak selalu berarti Allah sedang menjauh. Bisa jadi, justru di balik kesulitan itu terdapat bentuk kasih sayang Allah yang belum mampu kita pahami.

Alquran mengingatkan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Karena itu, seorang mukmin tidak semestinya hanya memandang beratnya ujian, tetapi juga berusaha menemukan pintu rahmat yang Allah bukakan di baliknya.

Lantas, bagaimana agar seorang hamba senantiasa berada dalam naungan rahmat Allah? Alquran dan sunah memberikan petunjuk. Setidaknya ada tiga jalan yang dapat ditempuh.

 

Pertama, Merawat Ketauhidan

Pintu pertama adalah menjaga tauhid. Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan, melainkan keyakinan yang menempatkan hanya Allah sebagai tempat bergantung, berharap, takut, dan memohon pertolongan.

Rahmat Allah di dunia memang begitu luas. Allah memberikan kehidupan, rezeki, kesehatan, udara, hujan, dan berbagai kenikmatan kepada manusia tanpa membedakan apakah seseorang telah beriman atau belum. Inilah keluasan sifat Ar-Rahman, kasih sayang Allah yang meliputi seluruh makhluk.

Namun, terdapat rahmat yang lebih khusus bagi orang-orang beriman. Allah SWT berfirman dalam QS al-Ahzab ayat 43:

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”

Karena itu, menjaga kemurnian tauhid merupakan fondasi utama dalam perjalanan seorang hamba menuju rahmat Allah. Jangan sampai hati yang seharusnya bergantung kepada Allah justru menggantungkan harapan sepenuhnya kepada makhluk, harta, jabatan, kekuasaan, atau sebab-sebab duniawi. Sebab, sebesar apa pun kekuatan manusia, semuanya tetap berada dalam genggaman Allah SWT.

 

Kedua, Meneladani Rasulullah SAW

Pintu kedua adalah ittiba’, yakni mengikuti dan meneladani Rasulullah Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Anbiya ayat 107, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Rasulullah SAW hadir membawa risalah yang penuh rahmat. Perintah dan larangan dalam syariat bukanlah untuk menyulitkan manusia, melainkan menjadi petunjuk agar manusia memperoleh kebaikan dan keselamatan.

Karena itu, ketika sebuah ajaran agama terasa berat bagi hawa nafsu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa syariat tersebut tidak sesuai dengan kehidupan. Bisa jadi, yang perlu diperbaiki bukan ajarannya, melainkan kesiapan diri untuk tunduk dan menjalankannya.

Mengikuti Rasulullah SAW berarti belajar menjadikan sunah beliau sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan: bagaimana beribadah, memperlakukan keluarga, bertetangga, berdagang, memimpin, menghadapi perbedaan, bahkan memperlakukan orang yang tidak sependapat dengan kita.

Di sanalah rahmat itu menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ketiga, Menebarkan Kasih Sayang

Pintu ketiga adalah menjadi manusia yang menghadirkan rahmat bagi makhluk lain.

Rasulullah SAW bersabda:

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.”

Hadis tersebut mengajarkan sebuah prinsip sederhana tetapi mendalam: siapa yang ingin mendapatkan kasih sayang Allah, hendaknya ia belajar mengasihi makhluk-Nya.

Kasih sayang tidak berhenti pada keluarga atau orang-orang yang kita sukai. Ia semestinya meluas kepada tetangga, orang yang berbeda latar belakang, mereka yang membutuhkan pertolongan, bahkan kepada hewan dan lingkungan tempat kita hidup.

Rahmat tidak harus selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Terkadang ia berupa perkataan yang lembut, kesediaan memaafkan, menolong seseorang yang kesulitan, tidak menyakiti orang lain, atau memilih diam ketika perkataan kita berpotensi melukai hati

Dunia hari ini membutuhkan lebih banyak manusia yang menghadirkan keteduhan, bukan menambah kegaduhan; yang menyembuhkan, bukan melukai; yang merangkul, bukan mudah menghakimi.

 

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Pada akhirnya, rahmat Allah bukan sesuatu yang hanya layak dicari ketika kehidupan sedang sulit. Rahmat-Nya harus menjadi tempat kita bernaung setiap saat.

Ketika mendapatkan nikmat, kita bersyukur. Ketika memperoleh ujian, kita bersabar. Ketika melakukan kesalahan, kita segera bertobat. Ketika melihat orang lain kesusahan, kita membantu. Dan ketika hati terasa gelap, kita kembali mengingat bahwa Allah tidak pernah jauh dari hamba-Nya.

Tiga pintu itu—tauhid yang terjaga, keteladanan kepada Rasulullah SAW, dan kasih sayang kepada sesama makhluk—merupakan jalan yang semestinya terus dirawat.

Sebab hidup bukan hanya tentang bagaimana memperoleh sebanyak-banyaknya kenikmatan dunia, melainkan bagaimana memastikan setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Semoga Allah menjaga tauhid kita, menguatkan kita untuk mengikuti sunah Rasulullah SAW, dan melembutkan hati kita agar mampu menebarkan kasih sayang.

Dengan demikian, ketika badai kehidupan datang, kita tidak mudah kehilangan arah. Kita tahu kepada siapa harus kembali, dari mana pertolongan diharapkan, dan di bawah naungan siapa seorang hamba sejatinya ingin bernaung: rahmat Allah SWT.*