Sibuk Siapkan Warisan Dunia, Lupa Menyiapkan Warisan Akhirat

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
BANYAK orang tua pada zaman modern bekerja keras siang dan malam demi satu cita-cita: memastikan anak-anak dan cucu mereka hidup berkecukupan. Harta dikumpulkan, rumah disiapkan, pendidikan terbaik diupayakan, dan berbagai kenyamanan hidup diwariskan.
Semua itu tentu bukan sesuatu yang salah. Ikhtiar mencari rezeki dan mempersiapkan masa depan keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab. Namun, ada pertanyaan yang patut direnungkan: apa yang sesungguhnya kita wariskan kepada anak-anak selain harta?
Sebab, bisa jadi kita begitu sibuk menyiapkan masa depan dunia mereka, tetapi lupa menyiapkan bekal akhiratnya.
Allah SWT telah membentangkan bumi dengan segala kemudahannya. Langit diciptakan dalam keteraturan, hujan diturunkan dengan kadar yang terukur, tanah yang mati dihidupkan kembali, dan berbagai nikmat alam ditundukkan agar manusia dapat mencari karunia-Nya.
Semua itu semestinya menjadi jalan bagi manusia untuk semakin mengenal, menaati, dan tunduk kepada Sang Pencipta. Namun, manusia sering kali lupa bersyukur. Allah telah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan akal agar manusia mampu mengenali tanda-tanda kebesaran-Nya. Akan tetapi, tidak sedikit yang justru menggunakan seluruh nikmat tersebut untuk mengejar dunia tanpa batas.
Krisis rasa syukur itu pada akhirnya turut memengaruhi cara orang tua membangun keluarganya.
Mari kita simak kisah keluarga Nabi Ibrahim AS dan keturunannya yang memperoleh keberkahan dari Allah SWT. Keberkahan bukan semata-mata banyaknya harta atau tingginya kedudukan. Berkah adalah kebaikan yang melekat pada sesuatu sehingga manfaatnya terus bertumbuh, meluas, bahkan dirasakan lintas generasi.
Di sinilah keluarga Muslim perlu menata kembali orientasinya. Ukuran keberhasilan keluarga jangan hanya dilihat dari seberapa tinggi pendidikan anak, seberapa besar penghasilannya, seberapa mewah rumahnya, atau seberapa tinggi kedudukannya. Semua itu boleh menjadi bagian dari ikhtiar kehidupan, tetapi bukan tujuan akhir.
Keluarga yang berkah justru berusaha mewariskan sesuatu yang lebih dalam: iman, ilmu, amal, dan akhlak.
Keluarga Nabi Ibrahim AS memberikan teladan bahwa warisan terbaik bukan hanya berupa harta, melainkan keberlanjutan tauhid. Anak-anak dididik agar mengenal Allah, mencintai kebaikan, menjalankan ibadah, dan menjadi manusia yang memberi manfaat.
Karena itu, sebelum berharap memiliki anak yang saleh, orang tua semestinya terlebih dahulu berdoa agar dirinya menjadi orang tua yang diberkahi.
Keberkahan orang tua antara lain tercermin dari lahirnya generasi yang mengenal Allah, bersyukur atas kehadiran kedua orang tuanya, mendoakan mereka, menjaga nama baik keluarga, serta meneruskan silaturahim dan kebaikan yang telah dirintis sebelumnya.
Tetapi ada satu prinsip yang tidak boleh dilupakan: keberkahan dapat mengalir lintas generasi, tetapi amal tidak dapat diwariskan.
Nasab yang baik tidak otomatis menjadikan seseorang baik. Anak seorang yang saleh tetap harus beramal dengan tangannya sendiri. Sebaliknya, seseorang tidak menanggung dosa orang tuanya. Setiap jiwa akan mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing di hadapan Allah SWT.
Karena itu, orang tua tidak cukup hanya meninggalkan “hasil” kepada anak-anak. Mereka juga perlu mewariskan proses.
Sering kali orang tua berusaha menyembunyikan berbagai kesulitan dari anak. Mereka mengatakan sudah kenyang ketika sebenarnya lapar. Mereka tersenyum ketika sedang lelah. Mereka menyimpan kegelisahan agar anak-anak tetap merasa nyaman.
Kasih sayang semacam itu dapat dipahami. Namun, anak juga perlu mengetahui bahwa kehidupan dibangun melalui perjuangan, kesabaran, pengorbanan, dan doa.
Bukan berarti seluruh beban orang tua harus diberikan kepada anak. Tetapi, memperlihatkan proses perjuangan secara proporsional dapat mengajarkan mereka satu hal penting: bahwa kenyamanan tidak datang dengan sendirinya.
Anak perlu belajar menghargai proses sebelum menikmati hasil. Sebab, ketika yang diwariskan hanya hasil, anak mungkin menikmati apa yang ditinggalkan orang tuanya tanpa memahami nilai perjuangan di baliknya. Sebaliknya, ketika proses juga diwariskan, mereka belajar bersyukur, bertanggung jawab, dan melanjutkan kebaikan.
Pada akhirnya, rumah yang besar tidak menjamin lahirnya keluarga yang besar di hadapan Allah. Kekayaan yang banyak tidak otomatis menjadi keberkahan. Begitu pula kesuksesan duniawi tidak selalu menjadi bekal keselamatan di akhirat.
Sebaliknya, keluarga sederhana yang di dalamnya tumbuh tauhid, ilmu, ibadah, kasih sayang, dan akhlak dapat menjadi mata rantai kebaikan yang terus mengalir setelah orang tua tiada.
Sebagaimana hujan menghidupkan tanah yang tandus, demikian pula iman dan amal saleh menghidupkan hati yang kering.
Kelak manusia akan dibangkitkan dari kuburnya dan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya. Pada saat itu, bukan lagi seberapa banyak harta yang pernah dikumpulkan yang menjadi ukuran utama, melainkan apa yang telah dilakukan dengan amanah kehidupan yang diberikan Allah.
Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri: ketika kelak kita tidak lagi berada di tengah keluarga, apa yang masih akan hidup melalui anak-anak kita?
Bukan sekadar rumah, tanah, rekening, atau perusahaan. Tetapi doa yang mereka panjatkan, ilmu yang mereka amalkan, akhlak yang mereka jaga, dan tauhid yang mereka teruskan.
Sebab warisan terbaik bukanlah sesuatu yang hanya membuat anak-anak kita nyaman menjalani kehidupan dunia, melainkan sesuatu yang membantu mereka selamat ketika kehidupan dunia telah berakhir.
Wariskanlah keberkahan. Wariskanlah iman. Wariskanlah proses perjuangan. Karena harta dapat habis, tetapi kebaikan yang ditanam dengan ikhlas dapat terus tumbuh melampaui usia kita.*
