Tadabbur

Menemukan Kesuksesan Sejati di Tengah Godaan Dunia

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

BANYAK orang mengukur kesuksesan melalui apa yang tampak: harta yang bertambah, jabatan yang meningkat, popularitas yang meluas, atau berbagai pencapaian duniawi. Tidak ada yang salah dengan memiliki semua itu. Namun, persoalan muncul ketika dunia bukan lagi sekadar sarana, melainkan berubah menjadi tujuan utama kehidupan.

Pada titik itulah penyakit hubbud dunya—cinta dunia—perlahan dapat menguasai hati.

Cinta dunia yang berlebihan bukan sekadar membuat seseorang sibuk mengejar materi. Lebih jauh, ia dapat menggeser orientasi hidup. Kebaikan dilakukan demi pujian, jabatan dikejar demi kehormatan, dan bahkan agama berisiko hanya menjadi identitas lahiriah tanpa kekuatan yang menghidupkan batin.

Seseorang mungkin terlihat dekat dengan agama, tetapi hatinya terus-menerus digerakkan oleh ambisi, kekuasaan, dan kepentingan duniawi. Akibatnya, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan. Harta bertambah, tetapi ketenangan tidak kunjung datang. Kedudukan meningkat, tetapi hati tetap merasa kosong.

Di sinilah pentingnya memahami kembali makna keberuntungan dalam perspektif Alquran.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa keberuntungan sejati (al-falah) bukan semata-mata tentang keberhasilan meraih apa yang diinginkan manusia. Keberuntungan adalah ketika kehidupan menjadi jalan menghadirkan kebaikan, menegakkan kemakrufan, sekaligus mencegah kerusakan.

Ada tiga pesan penting yang dapat direnungkan dari ayat tersebut.

Pertama, menyeru kepada kebaikan.

Perubahan seharusnya dimulai dengan menghadirkan kebaikan. Bukan sekadar menunjukkan kesalahan, apalagi gemar mencela dan menyalahkan.

Orang yang menyeru kepada kebaikan tidak berhenti pada kritik. Ia menghadirkan harapan, menawarkan solusi, membangun kesadaran, dan menunjukkan jalan keluar.

Dalam keluarga, misalnya, mendidik anak tidak cukup dengan mengatakan apa yang dilarang. Anak juga perlu diperkenalkan kepada nilai-nilai yang baik, diberi keteladanan, dan dibimbing dengan kesabaran.

Begitu pula dalam masyarakat dan lembaga. Perubahan membutuhkan visi tentang kebaikan yang hendak diwujudkan.

Kedua, menyuruh kepada yang makruf.

Kebaikan tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus menjadi kebiasaan dan sistem yang hidup.

Makruf adalah sesuatu yang dikenal sebagai kebaikan dan selaras dengan tuntunan syariat. Karena itu, menegakkan makruf berarti menjadikan nilai-nilai kebaikan hadir dalam perilaku nyata.

Di sinilah integritas menjadi penting. Keadilan (al-‘adl), kejujuran (ash-shidq), dan amanah bukan sekadar kata-kata indah. Ketiganya harus menjadi fondasi dalam keluarga, organisasi, lembaga, maupun kehidupan bermasyarakat.

Tanpa integritas, kebaikan mudah berubah menjadi slogan. Nama boleh menggunakan simbol agama, tetapi jika perilaku di dalamnya bertentangan dengan keadilan dan amanah, maka nilai agama kehilangan ruhnya.

Ketiga, mencegah kemungkaran.

Kebaikan juga membutuhkan keberanian untuk menghadapi keburukan.

Kemungkaran bukan hanya kesalahan pribadi, tetapi juga segala bentuk kebatilan dan kerusakan (fasad) yang merugikan kehidupan. Karena itu, mencegah kemungkaran membutuhkan tanggung jawab, keberanian, sekaligus kebijaksanaan.

Ketegasan tidak berarti bertindak tanpa pertimbangan. Sebaliknya, mencegah kemungkaran harus dilakukan secara terukur, proporsional, dan berlandaskan kebenaran.

Seorang Muslim tidak semestinya memilih diam hanya karena takut menghadapi persoalan. Namun, keberanian itu pun tidak boleh berubah menjadi sikap kasar dan gemar menghakimi.

Ketiga langkah tersebut memiliki keterkaitan yang erat. Menyeru kepada kebaikan memberikan arah. Menegakkan makruf memberikan bentuk dan kebiasaan. Mencegah kemungkaran menjaga agar kebaikan tidak dirusak.

Jika seseorang hanya pandai melarang tanpa menawarkan kebaikan, dakwah mudah berubah menjadi menakutkan. Sebaliknya, jika seseorang hanya berbicara tentang kebaikan tetapi tidak memiliki keberanian menghadapi kemungkaran, perubahan akan sulit diwujudkan.

Karena itu, perjuangan memperbaiki kehidupan membutuhkan keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan, antara mengajak dan menegakkan, antara memberikan teladan dan mencegah kerusakan.

Pada akhirnya, penyakit hubbud dunya hanya dapat dilawan dengan mengembalikan dunia pada tempatnya. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan amanah dan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan.

Kekayaan boleh dimiliki, tetapi jangan sampai hati dimiliki kekayaan. Jabatan boleh diemban, tetapi jangan sampai jabatan menguasai nurani. Popularitas boleh datang, tetapi jangan sampai pujian manusia mengalahkan penilaian Allah SWT.

Kesuksesan sejati bukanlah sebanyak apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa besar kehidupan kita menghadirkan kebaikan.

Karena itu, tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk memulai. Dari keluarga, lingkungan kerja, komunitas, hingga lingkaran pertemanan, selalu ada ruang untuk menyeru kepada kebaikan, menegakkan yang makruf, dan mencegah kemungkaran.

Keberuntungan hakiki bukanlah kebetulan. Ia adalah buah dari niat yang ikhlas, amal yang sungguh-sungguh, serta keistikamahan dalam menjalani jalan kebaikan.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar tidak diperbudak dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai jalan menuju ridha-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.