Parenting

Ayah Biologis Wajib, Ayah Ideologis Panggilan Jiwa

 

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

PERNAHKAH kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana peran kita sebagai ayah bagi anak-anak?

Menjadi ayah secara biologis adalah sesuatu yang wajib ditunaikan. Dalam bahasa Arab, ayah yang menjadi sebab lahirnya seorang anak disebut walid. Ia hadir melalui ikatan darah dan memiliki tanggung jawab besar: mendampingi istri saat mengandung, menemani persalinan, mencari nafkah, memastikan kebutuhan pangan dan pendidikan anak terpenuhi, hingga mengantarkan anak menuju kemandirian.

Semua itu penting. Bahkan, tidak ringan.

Namun, apakah tugas seorang ayah selesai ketika kebutuhan fisik anak telah terpenuhi? Di sinilah seorang ayah dituntut naik satu tingkat: dari sekadar ayah biologis menjadi ayah ideologis.

Ayah biologis membesarkan tubuh anak. Ayah ideologis membesarkan jiwanya.

Ayah biologis memastikan anak mampu bertahan hidup di dunia. Ayah ideologis berikhtiar agar anak memiliki bekal untuk menyelamatkan kehidupannya hingga akhirat.

Sebab, anak bukan hanya tubuh yang membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan, dan pekerjaan. Anak juga memiliki jiwa yang membutuhkan iman, keteladanan, arah hidup, dan hubungan yang kuat dengan Allah SWT.

Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah ab dalam sejumlah penggambaran figur ayah, sebuah istilah yang memiliki cakupan makna lebih luas daripada sekadar hubungan biologis. Sosok ayah ideal bukan hanya hadir karena hubungan darah, tetapi juga hadir dalam membentuk prinsip, karakter, dan keyakinan anak.

Bukan Sekadar Bertanya, “Sekolah di Mana?”

Ayah yang berorientasi pada pembentukan jiwa anak tidak berhenti pada pertanyaan, “Nanti anak saya sekolah di mana?”

Ia juga bertanya, “Akan menjadi manusia seperti apa anak saya?”

Bukan hanya, “Kelak bekerja sebagai apa?”

Tetapi, “Untuk apa ia hidup?”

Bukan sekadar, “Berapa penghasilannya?”

Melainkan, “Dari mana rezeki yang masuk ke tubuhnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa pendidikan anak tidak berhenti pada prestasi akademik dan kesuksesan karier. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni tauhid.

Mengenalkan anak kepada Allah SWT adalah fondasi utama. Dari pengenalan kepada Allah lahir ketakwaan. Dari ketakwaan tumbuh akhlak. Dari akhlak lahir kecintaan kepada kebaikan dan penghormatan kepada orang tua.

Karena itu, jangan sampai kita begitu sibuk membesarkan tubuh anak, tetapi lupa memberi makan jiwanya.

Jangan sampai kita berhasil mengantarkan anak meraih gelar akademik, tetapi gagal mengantarkannya mengenal siapa Tuhannya.

Sebab, kesuksesan seorang anak bukan hanya ketika ia memiliki pekerjaan yang baik, rumah yang besar, atau penghasilan yang tinggi. Kesuksesan sejati adalah ketika semua pencapaian dunia itu tidak menjauhkannya dari Allah SWT.

 

Belajar dari Ibrahim, Luqman, dan Ya’qub

Al-Qur’an memberikan banyak teladan tentang bagaimana seorang ayah membangun jiwa anak.

Nabi Ibrahim AS tidak sekadar membesarkan Ismail AS. Ia membangun hubungan yang begitu kuat sehingga keduanya dapat berjalan bersama dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Ketika Ibrahim AS menyampaikan perintah Allah SWT kepada Ismail AS untuk menyembelihnya, Ismail tidak memberontak. Ia menunjukkan ketundukan kepada Allah. Kisah ini tergambar dalam QS Ash-Shaffat ayat 102.

Di sana kita menemukan gambaran indah tentang ayah dan anak yang tidak sekadar memiliki hubungan darah, tetapi juga memiliki visi ketundukan yang sama kepada Allah.

Begitu pula Luqman. Ketika memberikan nasihat kepada anaknya, nasihat pertama yang ditekankan bukan tentang harta, jabatan, atau kesuksesan dunia.

“Janganlah engkau mempersekutukan Allah.”

Pesan tauhid itulah yang menjadi fondasi pendidikan.

Demikian pula Nabi Ya’qub AS. Menjelang akhir hayatnya, yang menjadi perhatian bukanlah seberapa banyak harta yang akan diwariskan kepada anak-anaknya.

Pertanyaan yang diajukan justru jauh lebih mendasar: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (QS Al-Baqarah: 133).

Itulah kekhawatiran seorang ayah yang memahami kehidupan secara utuh. Ia sadar, harta bisa diwariskan. Rumah bisa ditinggalkan. Jabatan bisa berakhir. Tetapi iman harus diperjuangkan agar tetap hidup dalam diri anak-anaknya.

 

Menjadi Ayah yang Hadir

Lantas, bagaimana jika hubungan kita dengan anak sudah terlanjur renggang?

Bagaimana jika anak sudah mulai jauh dari nilai-nilai agama? Jangan berputus asa.Menjadi ayah ideologis tidak selalu dimulai dengan ceramah panjan Terkadang ia dimulai dengan hal sederhana: hadir.

 

Duduk bersama anak. Mendengarkan ceritanya. Memeluknya. Menjadi tempat ia pulang ketika dunia terasa berat.

Ayah juga harus berani memulai dari dirinya sendiri. Membersihkan nafkah dari yang haram dan syubhat. Menunjukkan keteladanan dalam ibadah. Menjaga ucapan. Memperlihatkan bahwa agama bukan sekadar nasihat yang disampaikan kepada anak, melainkan nilai yang benar-benar hidup dalam diri ayah.

Kenalkan anak kepada Allah dengan kelembutan. Jangan hanya hadir ketika anak melakukan kesalahan. Hadirlah juga ketika ia membutuhkan teman berbicara.

Sebab, anak mungkin lupa nasihat yang pernah kita sampaikan. Tetapi ia akan lama mengingat bagaimana perasaan yang muncul ketika berada di dekat ayahnya.

Ayah, Sudahkah Kita Menyiapkan Pertemuan di Surga?

Pada akhirnya, kebahagiaan terbesar seorang ayah bukan ketika melihat anaknya memiliki mobil mewah, rumah megah, atau jabatan tinggi.

Kebahagiaan terbesar adalah ketika melihat anaknya tetap mengenal Allah di tengah gemerlap dunia. Ketika anak tumbuh menjadi manusia yang beriman. Ketika ia menjaga shalatnya.

Ketika ia memilih yang halal meski tidak mudah. Ketika ia berbakti kepada orang tua.

Dan ketika ia mampu melanjutkan kebaikan yang dahulu ditanamkan ayahnya. Maka malam ini, mungkin ada baiknya kita menatap wajah anak-anak kita lebih lama.

Lalu bertanya kepada diri sendiri. Selama ini, apakah kita baru memberi makan tubuhnya, atau sudah ikut memberi makan jiwanya?

Menjadi ayah biologis membuat seorang anak hadir dan tumbuh di dunia. Namun, menjadi ayah ideologis adalah ikhtiar untuk menuntun anak agar tetap berjalan di jalan Allah.

Sebab, cita-cita seorang ayah semestinya tidak berhenti pada keberhasilan anak di dunia. Cita-cita tertinggi seorang ayah adalah berkumpul kembali bersama anak-anaknya di surga.*