Ukuran Kesuksesan yang Sesungguhnya

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
DI MATA manusia, kesuksesan sering kali diukur dari tingginya jabatan, banyaknya harta, atau luasnya pengaruh yang dimiliki. Namun, Islam mengajarkan ukuran yang jauh berbeda. Semua pencapaian dunia akan berakhir ketika ajal menjemput. Yang tersisa hanyalah amal dan bagaimana seseorang mengakhiri kehidupannya.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang hamba bukanlah seberapa tinggi kariernya, melainkan apakah ia memperoleh taubatan qoblal maut (tobat sebelum kematian), rahmatan ‘indal maut (rahmat saat menghadapi kematian), maghfirah ba’dal maut (ampunan setelah kematian), serta kemudahan ketika menghadapi sakaratul maut.
Inilah makna sejati husnul khatimah. Sebaliknya, kegagalan terbesar bukanlah kehilangan harta, jabatan, atau kehormatan, tetapi meninggal dunia tanpa sempat bertobat dan tanpa membawa bekal yang cukup untuk menghadap Allah SWT.
Selama hidup, manusia disibukkan oleh berbagai urusan. Ada yang menghabiskan waktu mengejar karier, membangun usaha, mengumpulkan kekayaan, atau mencari pengakuan. Semua itu pada dasarnya bukan sesuatu yang tercela, selama tidak membuat hati lalai dari tujuan utama kehidupan.
Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan memasuki alam kubur seorang diri. Tidak ada jabatan yang dapat menyelamatkan, tidak ada harta yang dapat menjadi tebusan, dan tidak ada popularitas yang mampu meringankan hisab. Yang menemani hanyalah iman dan amal saleh.
Karena itu, setiap muslim perlu sering bermuhasabah. Sudahkah hati benar-benar kembali kepada Allah? Sudahkah dosa-dosa disesali dan diiringi dengan tobat yang sungguh-sungguh? Ataukah hati masih dipenuhi angan-angan dunia yang tidak pernah selesai?
Mengingat kematian bukan untuk membuat seseorang putus asa, tetapi agar hidup menjadi lebih terarah. Kesadaran bahwa ajal bisa datang kapan saja akan melahirkan semangat memperbanyak amal, memperbaiki akhlak, menjaga hubungan dengan sesama, dan memperbanyak istigfar.
“Astaghfirullah wa atubu ilaih.”
Kalimat itu bukan sekadar zikir yang diucapkan oleh lisan, melainkan pengakuan seorang hamba bahwa dirinya penuh kekurangan dan sangat membutuhkan ampunan Rabb-nya.
Semakin seseorang menyadari hakikat kehidupan, semakin ringan lisannya berzikir dan semakin sedikit waktunya terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebab ia memahami bahwa kesuksesan sejati bukanlah ketika dipuji manusia, melainkan ketika Allah menerima tobatnya, melimpahkan rahmat saat sakaratul maut, mengampuni dosa-dosanya, dan menutup hidupnya dengan husnul khatimah.
Itulah kemenangan yang sesungguhnya. Sebuah kemenangan yang nilainya jauh melampaui seluruh gemerlap dunia.*
