Parenting

Ayah Hadir, Bukan Sekadar Ada

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

DI TENGAH derasnya perubahan zaman, ada satu peran yang tidak pernah kehilangan maknanya: ayah sebagai imam keluarga. Islam menempatkan ayah bukan sekadar pencari nafkah atau penyedia kebutuhan materi, melainkan pemimpin yang bertanggung jawab mengarahkan keluarganya menuju ridha Allah. Di hadapan-Nya kelak, kepemimpinan itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya. Amanah itu tidak cukup ditunaikan dengan bekerja keras mencari rezeki, tetapi juga dengan menghadirkan bimbingan, keteladanan, dan nilai-nilai keimanan di dalam rumah.

Al-Qur’an memberikan teladan indah melalui kisah Luqman. Nasihatnya kepada sang anak, sebagaimana diabadikan dalam Surah Luqman ayat 13 hingga 19, tidak dimulai dengan pesan tentang kekayaan, jabatan, atau kesuksesan dunia. Pendidikan keluarga dimulai dari fondasi yang paling kokoh, yaitu tauhid.

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah.” Kalimat pertama itu menunjukkan bahwa tugas terbesar seorang ayah adalah mengenalkan Allah kepada anak-anaknya. Sebab, keberhasilan hidup akan kehilangan makna apabila tidak disertai keimanan yang lurus.

Anak boleh tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berprestasi, dan berhasil meniti karier. Namun, semua itu harus berjalan beriringan dengan shalat yang terjaga, akhlak yang mulia, dan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat setiap ucapan, tindakan, bahkan isi hati manusia. Nilai inilah yang semakin penting ditanamkan di era digital, ketika anak-anak hidup di tengah arus informasi yang nyaris tanpa batas.

Tentu, tugas menanamkan tauhid juga menjadi tanggung jawab seorang ibu. Bahkan dalam banyak keluarga, ibu memiliki kedekatan emosional dan kemampuan komunikasi yang lebih kuat dengan anak. Namun, kehadiran ayah tetap tidak tergantikan sebagai figur kepemimpinan yang memberi arah dan menjadi teladan dalam kehidupan beragama.

Luqman juga mengajarkan shalat, amar makruf nahi mungkar, kesabaran, kerendahan hati, dan kelembutan dalam berbicara. Dari sini kita belajar bahwa ayah Qurani tidak memimpin rumah dengan amarah atau bentakan. Ia membangun wibawa melalui keteladanan, kasih sayang, adab, dan kedekatan dengan Allah.

 

Father Reset

Kini saatnya setiap ayah melakukan Father Reset, menata kembali peran dan kepemimpinan dalam keluarga. Bukan dengan langkah yang rumit, tetapi melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Mulailah dengan mengajak keluarga menjaga satu shalat berjamaah atau tepat waktu setiap hari. Sisihkan waktu menyampaikan satu nasihat tauhid kepada anak. Kurangi nada tinggi ketika berbicara di rumah. Belajarlah mendengarkan pasangan dan anak tanpa tergesa menghakimi. Dan jangan lupa mendoakan anak-anak dengan menyebut nama mereka satu per satu, sambil menghadirkan wajah mereka dalam hati. Doa seorang ayah adalah anugerah yang sangat berharga bagi masa depan anak-anaknya.

Rumah yang kokoh bukanlah rumah yang paling besar atau paling mewah. Rumah yang kuat adalah rumah yang memiliki ayah sebagai imam, ibu sebagai madrasah kasih sayang, dan anak-anak yang dibimbing untuk semakin dekat kepada Allah. Dari rumah seperti itulah lahir generasi yang kuat iman, mulia akhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Pada akhirnya, ayah bukan hanya pencari nafkah. Ayah adalah penjaga arah keluarga, penuntun perjalanan spiritual, sekaligus penjaga jalan yang mengantarkan istri dan anak-anaknya menuju surga. Itulah kemuliaan amanah yang semoga senantiasa dijaga oleh setiap ayah hingga akhir hayatnya.*