Artikel

Ketika FIFA Menghormati Kalimat Tauhid

DI TENGAH hiruk-pikuk Piala Dunia 2026, perhatian publik sejatinya tidak hanya tertuju pada gol, strategi, atau persaingan antarbintang sepak bola. Ada satu momen yang mungkin terlihat sederhana, namun menyimpan pesan besar tentang hubungan antara olahraga, budaya, dan penghormatan terhadap keyakinan.

Pada laga Arab Saudi melawan Uruguay di Miami, Amerika Serikat, FIFA mengambil keputusan yang tidak lazim. Bendera Arab Saudi tidak dihamparkan di atas rumput sebagaimana lazimnya seremoni pra-pertandingan. Sebaliknya, bendera itu diangkat dan dijaga tetap melayang di udara oleh para relawan hingga lagu kebangsaan selesai dikumandangkan.

Alasannya sederhana tetapi sangat mendasar. Di dalam bendera Arab Saudi terdapat kalimat syahadat, pernyataan paling sakral dalam ajaran Islam. Menyentuhkannya ke tanah dianggap tidak sesuai dengan penghormatan terhadap kalimat tauhid. Perlakuan serupa juga diberikan kepada bendera Irak yang memuat kalimat takbir.

Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin dianggap sekadar penyesuaian teknis. Namun jika dicermati lebih dalam, keputusan FIFA sesungguhnya menyampaikan pesan yang jauh lebih penting: modernitas tidak harus menghapus kesakralan.

 

Perspektif Islam

Dari perspektif Islam, penghormatan terhadap kalimat tauhid bukan sekadar persoalan simbolik. Syahadat adalah inti ajaran Islam, pintu masuk keimanan, sekaligus identitas spiritual seorang Muslim. Kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah bukan rangkaian huruf biasa, melainkan pernyataan penghambaan kepada Allah dan pengakuan atas kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, para ulama sejak dahulu menekankan pentingnya memuliakan segala sesuatu yang berkaitan dengan syiar agama. Alquran menegaskan, “Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati” (QS Al-Hajj: 32). Ayat ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap simbol-simbol yang mengingatkan manusia kepada Allah merupakan bagian dari manifestasi ketakwaan.

Dalam konteks itulah, sensitivitas Arab Saudi terhadap bendera yang memuat syahadat dapat dipahami. Perdebatan boleh saja muncul mengenai bentuk penghormatan yang paling tepat, tetapi substansi yang hendak dijaga adalah kemuliaan kalimat tauhid itu sendiri.

Menariknya, FIFA yang selama ini identik dengan standar global yang seragam justru memilih jalan akomodatif. Organisasi yang mengelola sepak bola dunia itu tampaknya menyadari bahwa tidak semua simbol dapat diperlakukan dengan pendekatan administratif semata. Ada dimensi budaya, sejarah, bahkan keyakinan yang harus diperhatikan.

Sikap tersebut sejatinya sejalan dengan semangat Islam dalam membangun hubungan antarbangsa. Islam mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia dan identitas kolektif masyarakat. Alquran menyebut bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling meniadakan (QS Al-Hujurat: 13).

Karena itu, penghormatan terhadap keyakinan agama di ruang publik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman terhadap keberagaman. Justru sebaliknya, pengakuan atas hal-hal yang dianggap sakral oleh pihak lain merupakan fondasi penting bagi terciptanya kehidupan global yang harmonis.

Selama beberapa dekade terakhir, dunia olahraga berkembang menjadi industri raksasa yang sangat dipengaruhi logika bisnis dan hiburan. Dalam situasi seperti itu, simbol-simbol budaya dan agama sering kali terpinggirkan demi kepentingan standardisasi. Kasus di Miami menunjukkan bahwa pendekatan tersebut mulai mendapat koreksi.

Keseragaman ternyata tidak selalu identik dengan keadilan. Keadilan kadang hadir melalui kemampuan memahami perbedaan dan memberikan ruang yang proporsional bagi setiap identitas untuk dihormati.

Di tengah meningkatnya sentimen Islamofobia di sejumlah negara Barat, keputusan FIFA juga mengirim pesan positif bahwa simbol-simbol Islam dapat memperoleh penghormatan yang layak dalam ruang internasional. Bukan karena keistimewaan politik, melainkan karena prinsip universal tentang penghormatan terhadap keyakinan.

Pada akhirnya, nilai terbesar dari sepak bola bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah. Sepak bola menjadi bermakna ketika mampu mempertemukan berbagai bangsa dalam satu arena tanpa memaksa mereka meninggalkan identitas yang diyakininya.

Dari lapangan hijau di Miami, dunia mendapat pelajaran bahwa toleransi bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menghormati perbedaan itu secara proporsional. Ketika FIFA bersedia menyesuaikan protokol demi menjaga kesucian kalimat yang dimuliakan jutaan umat Islam, yang sedang dipertontonkan bukan sekadar seremoni pertandingan, melainkan praktik nyata penghormatan antarperadaban.

Di situlah fair play menemukan maknanya yang lebih dalam. Bukan hanya adil dalam permainan, tetapi juga adil dalam menghormati nilai-nilai yang hidup di hati manusia.*

UBN Newsroom