Tadabbur

Muharram Mengajak Kita Berbenah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS At-Taubah: 20)

Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriyah. Ia adalah panggilan untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, lalu bertanya: ke mana sebenarnya arah hidup kita? Dalam Islam, nilai sebuah perjalanan tidak ditentukan oleh seberapa jauh langkah ditempuh, melainkan ke mana hati diarahkan. Karena itu Rasulullah SAW mengingatkan, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Di sinilah Muharram menemukan maknanya. Ia menjadi momentum untuk memeriksa kembali kompas kehidupan. Sebab ketika niat bergeser dari Allah menuju kepentingan duniawi, arah hidup perlahan kehilangan tujuan. Hijrah bukan hanya berpindah dari tempat yang buruk menuju tempat yang baik, melainkan berpindah dari niat yang keruh menuju niat yang jernih, dari hidup yang dikendalikan ego menuju hidup yang dituntun wahyu.

Allah SWT menegaskan, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al-An’am: 162). Inilah orientasi sejati seorang Muslim. Seluruh hidupnya diarahkan untuk meraih ridha Allah. Karena itu, tahun baru Hijriyah semestinya menjadi saat yang tepat untuk meluruskan niat, memperbaiki arah keluarga, menata kembali pekerjaan, serta mengevaluasi perjuangan dan dakwah yang sedang dijalani.

Al-Qur’an juga memberikan rumus kemenangan yang sangat jelas. Dalam QS At-Taubah ayat 20 disebutkan tiga pilar utama: iman, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Iman adalah fondasi keyakinan. Namun iman saja belum cukup. Tingkatan berikutnya adalah hijrah, yakni keberanian meninggalkan segala hal yang menjauhkan diri dari Allah menuju apa yang diridhai-Nya. Setelah itu datang jihad, yaitu kesungguhan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa untuk menegakkan kebaikan.

Karena itu hijrah sesungguhnya adalah perubahan orientasi. Ia terjadi di dalam hati, pusat kendali seluruh amal manusia. Dari sanalah lahir keputusan-keputusan yang menentukan apakah suatu pekerjaan bernilai ibadah atau sekadar menjadi ambisi pribadi. Hijrah yang benar tidak berhenti pada perubahan simbolik, tetapi melahirkan perubahan arah: dari mencari pengakuan manusia menuju mencari keridhaan Allah, dari kepentingan pribadi menuju kemaslahatan umat.

Muharram juga mengajak kita melihat lebih dekat kehidupan orang-orang di sekitar. Apakah keluarga kita semakin dekat kepada Allah? Apakah dakwah yang kita lakukan benar-benar dilandasi keikhlasan? Apakah amal yang kita kerjakan semata-mata karena Allah atau masih bercampur dengan keinginan untuk dipuji dan dihargai? Pertanyaan-pertanyaan itu penting diajukan agar perjalanan hidup tidak berjalan tanpa arah.

Pada akhirnya, Muharram bukan sekadar mengenang hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Muharram adalah momentum mengaktifkan kembali orientasi hidup. Sebab kemenangan tidak lahir dari diam, melainkan dari keberanian untuk terus bergerak di jalan Allah. Walau hanya satu langkah tertatih, teruslah berhijrah dan memperbaiki diri. Air yang mengalir tidak memberi kesempatan lumpur melekat terlalu lama pada batu yang bergerak bersamanya.

Pesan terbesarnya sederhana namun mendalam: Allah tidak hanya melihat besar kecilnya amal, tetapi juga arah dan kejujuran yang menggerakkannya. Karena itu, jadikan tahun baru Hijriyah sebagai momentum audit niat. Persiapkan diri sejak awal tahun untuk menjadi pemenang—bukan sekadar pemenang di hadapan manusia, tetapi pemenang yang memperoleh ridha Allah Azza wa Jalla. Sebab kemenangan sejati adalah ketika Allah menjadi satu-satunya tujuan perjalanan hidup kita.*