Bagaimana Rasanya Jika shalat Subuh Disaksikan?

Oleh KH Bachtiar Nasir
Ketahuilah, orang-orang yang memulai hari dalam hidupnya bukan untuk Al-Hayyu (Yang Maha Hidup), maka dia akan bersama yang mati.
Dan orang yang ritme hidupnya bersama Al-Qoyyum (Yang Maha Mengatur, Maha Mengurus), ritme hidupnya selalu berada dalam pengawasan dan energi dari Al- Qoyyum.
Lihat Surah Al-Isra ayat 78:
اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا ٧٨
Dirikanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh! Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
Penjelasan ayat ini adalah perintah Allah, shalatlah dan bacalah Qur’an pada waktu fajar. Membaca Al-Qur’an di waktu subuh sama halnya seperti sedekah Subuh. Sesungguhnya bacaan Qur’an pada waktu subuh itu disaksikan oleh Allah dan malaikat rahmat.
Jadikan Subuh itu sebagai suatu sistem ritme hidup kita bersama alam, dimulai dengan shalat dan membaca Al-Qur’an.
Begitulah ritme hidup seorang muslim yang diatur oleh waktu-waktu shalat.
Subuh adalah waktu yang dicatat oleh malaikat
Allah menata matahari untuk manusia dari waktu fajar sampai malam, dan di sepanjang waktu terbentang itu ada ketentuan waktu-waktu shalat yang wajib didirikan.
Kalau Subuh adalah suatu sistem hidup, maka energinya adalah quranul fajar, membaca Al-Qur’an di pagi hari.
Subuh adalah waktu yang disaksikan, dicatat oleh malaikat, siapa-siapa yang memulai hari bersama Allah dan siapa saja yang lalai.
Tadabbur dan hidayah Surah Al-Isra ayat 78
Kata aqimish-shalâh (اَقِمِ الصَّلٰوةَ), maknanya adalah shalat harus menjadi pusat pengatur waktu, jiwa, pekerjaan, perjuangan, juga pengatur keluarga.
Pesan utama kata اَقِمِ الصَّلٰوةَ, orang yang menegakkan shalat, akan ditegakkan hidupnya oleh Allah.
Orang yang aktivitasnya sudah dicerahkan sinar Al-Qoyyum, dia akan selalu mendambakan bimbingan-Nya. Dan hal yang membuat kita kalah biasanya karena kita mencari duniawi.
Kata lidulûkisy-syamsi (لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ), maknanya manusia diingatkan, dia bergerak sejak pagi sampai sampai akhir malam, tetapi pekerjaan tidak boleh mengalahkan shalat.
Pesan utama لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ, di tengah sibuknya hari, shalat adalah panggilan untuk kembali kepada Allah.
Kata ilâ ghasaqil-lail (اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ), dari pagi sampai malam hidup seorang muslim diliputi shalat dan shalat.
Melihat waktu dari sisi shalat ada begitu banyak keistimewaan. Subuh, menjaga hari dengan penyerahan diri kepada Allah. Shalat Zuhur, pengingat agar manusia tidak terlena dengan kesibukan duniawi. Shalat Ashar, pengingat agar manusia tetap berada di jalan yang benar di setiap akhir fase kehidupannya. Maghrib sebagai menutup siang, atau transisi dari siang ke malam yang melambangkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. Shalat Isya, menutup malam. Isya menjadi momen untuk membersihkan hati dari segala kepenatan aktivitas harian sebelum beristirahat
Antara kosmis dan shalat
Proses kosmis dalam rentang pergantian waktu dari pagi sampai malam, shalatlah yang mengisi waktu-waktu kita. Ritme kehidupan waktu manusia diatur oleh Allah Subhana Wa Ta’ala. Jadi, Subuh adalah sistem hidup bukan sekadar waktu shalat.
Kata wa qur’ânal-fajr (وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ), Qur’an di waktu fajar.
Allah menyebut shalat Subuh dengan Al-Qur’anul fajr, maknanya adalah sebelum sibuk dengan urusan notifikasi dunia, orang Islam harus membaca Qur’an lebih dulu di waktu fajar.
Kalimat terakhir ayat ini, inna qur’ânal-fajri kâna masyhûdâ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ) (كَانَ مَشْهُوْدًا. Sebelum membuka layar handphone, seorang mukmin akan membuka hati. Sebelum mengejar rezeki, dia akan lebih dulu mencari ridho ilahi.
Pesan utama kalimat اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا, hidup bagi seorang mukmin harus dimulai dengan Al-Qur’an di waktu fajar. Benefitnya adalah masyhudan (مَشْهُوْدًا) atau diisaksikan, baik oleh malaikat malam atau pagi. Waktu subuh adalah jam pergantian shift malaikat.
Dari ayat 78 ini kita diminta untuk melakukan suatu ibadah sebelum malaikat malam diganti shift-nya dengan malaikat siang yang sudah datang siap untuk menjaga. Shalat kita disaksikan keduanya, dan Subuh adalah tentang kesungguhan imam kita.
Pesan utama ayat 78 ini, Subuh adalah pujian paling jujur karena belum ada tepuk tangan manusia di pagi subuh itu.
Dirikanlah shalat, karena shalat pondasi hidup.
Pada ayat ini Allah menggunakan kata aqimi (اَقِمِ), dirikanlah shalat. Ini menunjukkan shalat adalah pondasi hidup. Bila shalatnya tegak maka hidup akan tegak.
Subuh memiliki hubungan khusus dengan Al-Qur’an.
Bila waktu subuh sudah dimulai dengan membaca Qur’an, hati akan mendapat cahaya terang. Orang yang sistem hidupnya melekatkan hatinya dengan Qur’an, menjadi awal energi aktivitas hidupnya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam selalu melepas kafilah dagang atau pasukan perangnya setelah shalat Subuh dan tentunya bersama Al-Qur’an di situ.
Subuh adalah waktu ketika hati masih jernih, ketika hati belum dikotori oleh hiruk-pikuk dunia, belum bising dengan aneka postingan-postingan.
Kenapa disebut masyudan مَشْهُوْدًا atau disaksikan? karena Subuh adalah momen persaksian. Orang yang hadir pada shalat Subuh artinya dia sedang menulis kesaksian langit atas dirinya sendiri.
Saksi itu penting. Dalam urusan dunia saja seperti sebuah persidangan, dalam pernikahan, atau dalam sebuah akad bisnis, kehadiran saksi ini penting.
Hukum yang bisa kita ambil dari Surah Al-Isra ayat 78 ini adalah:
1. Shalat lima waktu adalah kewajiban utama seorang muslim.
2. Shalat memiliki waktu yang harus dijaga.
3. Shalat Subuh memiliki kedudukan istimewa. Bacaan dalam shalat subuh memiliki keutamaan khusus.
4. Waktu fajar sangat dianjurkan untuk tilawah, zikir, doa, dan pembinaan ruhani.
5. Seorang muslim harus mampu mengatur malamnya agar Subuhhya terjaga. Menjaga shalat Subuh berjamaah adalah tanda keseriusan iman dan disiplin diri.
Subuh adalah proses menyalakan jiwa. Jika perangkat digital membutuhkan sistem operasi, maka manusia membutuhkan Subuh untuk mengaktifkan sistem rohaninya.
Jangan memulai hari tanpa terhubung kepada Allah lewat shalat dan Al-Qur’an.
Waktu yang dimiliki seorang muslim tidak diatur oleh egonya, seleranya, atau kepentingannya, kehendaknya sendiri, tetapi diatur oleh aturan Allah.
Shalat adalah alat kontrol harian seorang muslim. Sedangkan shalat Subuh adalah titik kontrol pertamanya.
Siapa yang belajar menjaga waktu shalat, berarti dia sedang belajar menjaga waktu hidupnya. Dan barangsiapa menjaga waktu subuh, dia telah memulai hari dengan kesuksesan besar pada hari itu.
Jika pagi dimulai dengan Al-Qur’an, hati lebih mudah diarahkan. Jika hati dimulai dengan layar HP, maka jiwa dikendalikan oleh dunia.
Mapping ayat 78 Surah Al-Isra:
Jika Subuh kita hidupkan:
1. Hati lebih tenang.
2. Pikiran lebih jernih
3. Disiplin lebih terbentuk.
4. Hubungan dengan Allah lebih dekat.
5. Hidup lebih terarah.
Jika Subuh hilang (kesiangan)
1. Waktu terburu-buru.
2. Hati mudah gelisah dan waktunya juga menjadi kacau.
3. Tubuh malas, pikirannya reaktif, tidak punya ide-ide besar.
4. Jauh dari Al-Qur’an.
5. Mudah dikalahkan hawa nafsu.
