Berita

Perantau di Tokyo Hadapi Kelelahan Mental, UBN Tawarkan “Hasbiyallah” sebagai Penawar

TOKYO–Di balik citra efisiensi dan kemajuan kota metropolitan Jepang, tersimpan persoalan serius yang dirasakan para diaspora Indonesia: kelelahan mental akibat tekanan hidup dan kerja yang tinggi.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam kajian Subuh di Masjid Indonesia Tokyo, Ahad (3/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Bachtiar Nasir atau UBN hadir menyampaikan tausiyah di hadapan puluhan perantau yang mencari ketenangan batin di negeri orang.

Dalam pemaparannya, UBN menegaskan bahwa kelelahan yang dialami para pekerja migran tidak semata berasal dari beban fisik atau panjangnya jam kerja, tetapi dari kondisi hati yang kehilangan sandaran spiritual.

Ia menggambarkan tekanan hidup di Jepang dengan ungkapan metaforis, “kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, hingga lutut jadi pundak,” yang mencerminkan ritme kerja ekstrem. Namun menurutnya, akar persoalan justru terletak pada cara pandang terhadap rezeki dan kehidupan.

“Bencana terbesar adalah ketika seseorang tidak merasa cukup bersama Allah. Itulah yang membuat hati tidak pernah benar-benar istirahat,” ujarnya.

UBN menjelaskan, banyak perantau secara tidak sadar memikul beban kehidupan sendirian, seolah seluruh tanggung jawab keluarga di tanah air berada di pundak mereka tanpa melibatkan ketergantungan kepada Tuhan.

Sebagai solusi, ia mengajak jemaah mengamalkan zikir “Hasbiyallah” yang diambil dari Surat At-Taubah ayat 129. Zikir tersebut dimaknai sebagai bentuk penyerahan diri total kepada Allah.

Ia menekankan pentingnya membaca zikir itu secara konsisten, terutama pada pagi dan petang, sebagai upaya menenangkan jiwa sekaligus membangun keyakinan bahwa kecukupan hidup tidak hanya bergantung pada usaha manusia.

Kajian ditutup dengan suasana kebersamaan yang hangat. UBN membaur bersama jemaah dalam sesi ramah tamah dan sarapan sederhana, memperkuat peran masjid sebagai ruang sosial bagi diaspora untuk saling menguatkan.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah tekanan hidup di perantauan, nilai kebersamaan dan spiritualitas tetap menjadi penopang utama ketahanan mental para pekerja migran.*