KSP

Esensi Takwa dari Distribusi Daging Kurban

Oleh KH Bachtiar Nasir

Distribusi daging kurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat, sebagai sarana menyebarkan kebaikan kepada sesama.

Sejak masa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, kurban tidak pernah tanpa semangat berbagi.

Hanya saja di jaman jahiliyah masyarakat Quraisy masih mempersembahkan kurban kepada berhala-berhala sesembahan mereka.

Namun kebiasaan berkuban bagi masyarakat jahiliyah masa itu juga membawa semangat berbagi daging kurban kepada sesama.

Itulah sebabnya kurban ditarik ke pada salah satu ibadah kita, tetapi secara syariat diganti dan dipersembahkan hanya karena Allah Subhana Wa Ta’ala semata.

Kurban dan semangat berbagi

Ada hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Kitab ‘Adhaahi:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيُعِدْ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ هَذَا يَوْمٌ يُشْتَهَى فِيهِ اللَّحْمُ وَذَكَرَ مِنْ جِيرَانِهِ فَكَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَّقَهُ قَالَ وَعِنْدِي جَذَعَةٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ شَاتَيْ لَحْمٍ فَرَخَّصَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا أَدْرِي أَبَلَغَتْ الرُّخْصَةُ مَنْ سِوَاهُ أَمْ لَا

Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Mursahad, telah menceritakan kepada kami Isma’il dari Ayyub dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah dia mengulanginya.” Lalu berdirilah seorang laki-laki seraya berkata, “Ini adalah hari yang daging sangat diharap.” Laki-laki itu kemudian menyebut-nyebut tentang tetangga-tetangganya, dan seakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan orang itu. Lelaki itu berkata, “Sungguh aku berkurban dengan seekor jadza’ah lebih aku sukai dari dua ekor kambing.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan buat orang tersebut. Aku (Anas) tidak tahu apakah keringanan itu juga berlaku untuk yang lain atau tidak.” (HR Bukhari no 901)

Dikisahkan dari hadis ini, seseorang berdiri dan bertanya kepada Rasulullah.

“Sesungguhnya hari ini adalah hari penyembelihan daging kurban.” Lalu laki-laki itu menceritakan kesusahan tetangganya seakan-akan dia berharap agar Nabi membenarkan apa yang dilakukannya, yakni menyembelih kurban sebelum shalat Idul Adha. Lalu Nabi memberi keringanan untuknya, diminta untuk mengulangi menyembelih hewan kurban lagi.

Pada riwayat lain dikisahkan laki-laki tersebut adalah seorang sahabat Nabi bernama Abu Burdah bin Niyar. Karena menyembelih kambingnya lebih awal, Rasulullah menyatakan bahwa sembelihan tersebut dianggap daging biasa, bukan kurban, dan memerintahkan beliau untuk mengulangi penyembelihan. Dia ingin segera menyembelih kurban agar dagingnya bisa dibagikan segera kepada keluarga dan tetangganya.

Hadis ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar Ashqolani, bahwa kurban adalah kebutuhan nyata pada hari raya terhadap kebutuhan makanan.

Al-Baro’ bin Azib mengatakan, “Aku memberi makan keluarga dan tetanggaku.”

Ini cerminan, kurban bukan hanya makan untuk keluarga sendiri tetapi juga berbagi dengan orang lain.

Dari ‘Atha’ bin Yasar, ia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, ‘Bagaimana cara berkurban pada zaman Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Pada zaman Rasulullah, seseorang menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya. Mereka memakannya dan memberi makan orang lain, kemudian manusia pun saling berbangga diri sehingga seperti yang engkau lihat sekarang.’”

Kebiasaan ini mulai berubah ketika manusia mulai berbangga-bangga diri. Padahal berkurban bukan dilihat dari besarnya hewan tetapi ruh berbagi dan ketakwaan yang menyertainya.

Kurban menjadi wasilah untuk memperat hubungan dengan tetangga dan membantu kaum fakir.

Rezeki yang kita miliki harus mengalir, dan yang tersebar bukan hanya makanan tetapi empati dan rasa persaudaraan.

Inilah kurban, bentuk berbagi yang paling nyata penuh empati.