UBN: AI Akan Jadi Infrastruktur Peradaban, Indonesia Punya Peluang Memimpin

JAKARTA–Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Ustaz Bachtiar Nasir atau UBN menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan menjadi fondasi utama peradaban global ke depan.
Pernyataan itu disampaikan dalam acara Halal Bihalal Idulfitri 1447 Hijriah di Aula Ar Rahim Universitas Yarsi, Jakarta, Ahad (19/4/2026).
Menurut dia, gejolak geopolitik di Timur Tengah telah memicu tekanan ekonomi global, termasuk lonjakan harga energi dan bahan turunan seperti polimer plastik. “Kenaikan ini sangat dirasakan UMKM, terutama yang bergantung pada kemasan plastik, tekstil sintetis, hingga industri skincare dan obat,” ujar UBN.
Di tengah situasi tersebut, UBN melihat dua hal penting. Pertama, peluang strategis Indonesia yang relatif stabil di tengah gejolak global. Stabilitas ini dinilai membuka ruang bagi penguatan riset dan pendidikan.
Kedua, pertumbuhan pesat sektor AI. Ia menyebut nilai pasar AI diproyeksikan melonjak dari 189 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 4,8 triliun dolar AS pada 2033.
“AI bukan lagi teknologi tambahan, tapi sudah menjadi infrastruktur peradaban,” kata dia.
Namun, ia mengingatkan dominasi AI saat ini masih terkonsentrasi pada segelintir negara dan korporasi besar. Karena itu, umat Islam, menurut dia, tidak boleh hanya menjadi konsumen.
“Kita harus menjadi produsen dan pemimpin teknologi,” ujarnya.
UBN juga menyoroti penggunaan AI yang dinilai masih belum optimal. Ia menyebut sebagian masyarakat masih menggunakan AI tanpa verifikasi.
“Kelihatan pintar, padahal belum tentu benar. Itu berbahaya,” katanya.
Untuk menjadi pemain di industri AI, ia menekankan empat prinsip utama: fokus, amanah, kualitas, dan kolaborasi. “Jangan hanya jadi konsumen,” ujarnya.
Ia mencontohkan pemanfaatan AI dalam bisnis yang mampu menyederhanakan proses produksi hingga pemasaran hanya dari satu input sederhana. Hal ini, menurut dia, menunjukkan potensi efisiensi besar yang ditawarkan teknologi tersebut.
Lebih lanjut, ia mengemukakan lima kriteria produk AI yang ideal, yakni bermanfaat nyata, berbasis etika, kuat secara teknis, memiliki kedalaman data dan konteks lokal, serta dapat dikembangkan secara luas.
“Kalau tidak, kita akan dibentuk oleh AI yang diproduksi orang lain, yang bisa jadi minus nilai moral,” kata dia.
UBN menilai perkembangan AI juga akan mendorong revolusi di bidang pendidikan dan dakwah. Ia mendorong generasi muda, khususnya di bawah usia 40 tahun, untuk mengambil peran kepemimpinan ke depan.
“Giliran kalian yang memimpin. Kami yang tua mengawal,” ujarnya.*
