Jauhi orang-orang yang membuat iman kita defisit (1)

Oleh KH Bachtiar Nasir
Jika engkau ingin menjadi manusia yang paling bahagia, belajarlah untuk memilih jarak. Tidak semua orang perlu didekati, dan tidak selayaknya juga semua keramaian perlu didatangi.
Kika engkau ingin menjadi manusia yang paling bahagia, belajarlah juga untuk menjauh dari manusia kecuali mereka menghadirkan kebaikan dalam iman, dalam akhlak, dan kebaikan dalam pikiran. Karena jika terlalu banyak bercampur dengan manusia tanpa tujuan, seringkali justru menguras hati, bukan menguatkannya.
Itulah bedanya makna silaturahim dengan kongkow-kongkow atau asal kumpul. Sama-sama posisi kita sedang berada di antara orang-orang. Tetapi silaturahim yang benar akan menguatkan iman, dan kumpul-kumpul yang tidak ada tujuan bisa sebaliknya.
Waspadai jin dalam bentuk manusia
Selain itu, hendak berhati-hati juga dalam berinteraksi dengan orang-orang.
Ingatlah selalu, Qul a‘udzu birabbin-nas قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ, katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia”.)
Kumpul-kumpul dengan orang-orang ada bahayanya juga. Bisa menguras hati dan bisa membuat iman kita cekak, jika salah gaul dan salah tujuan.
Jangan sampai Ramadhan ini bisa menjadi destruksi (perusakan atau penghancuran). Selain gadget screen, waspadai juga dampak dari salah bergaul atau bergaul dengan orang-orang yang salah.
Alih-alih ingin bersilaturahim, malah menimbulkan permusuhan.
Kalau menjaga pergaulan antarmanusia sebagaimana tertera dalam Surah An-Nas, isinya mengajarkan kita untuk berlindung kepada Tuhannya manusia. Kita berlindung kepada rajanya manusia, مَلِكِ النَّاسِۙ, kita diminta berlindung kepada sesembahan manusia اِلٰهِ النَّاسِۙ.
Kenapa harus begitu? Karena kita perlu waspada, karena ada مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, ada مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ, dari (golongan) jin dan manusia.
Gangguan was-was yang menyasar kepada dalam dada manusia, mereka kadang tidak terang-terangan. Dari balik tabir, mereka menyasar ke pusat sistem pikiran kita.
Ketahuilah yang ada di dalam hati kita bukan hanya soal hati, tetapi juga iman dan keyakinan kita. Itulah sasaran kepada diri kita oleh pelakunya, yakni jin. Tetapi yang sangat bahaya jika pelakunya dari kalangan manusia.
Itulah pentingnya kita harus membaca Al-Qur’an. Dengan bacaan Al-Qur’an seperti ada dinding pemisah yang tidak kelihatan. Orang bisa membentengi dirinya dari godaan yang datangnya dari golongan jin dan manusia.
Godaan dari kalangan manusia, si manusia tersebut berkolaborasi dengan jin, sebab jin tidak bisa melakukan kejahatannya yang besar dampaknya kecuali atas bantuan setan dari kalangan manusia.
Di sinilah kita harus membatasi dan memproteksi diri sebelum berkumpul dan berjumpa dengan manusia. Dengan membaca Al-Qur’anul Karim, akan ada dinding pemisah yang tidak kelihatan.
Lihat, misalnya dalam film-film mistik agama lain, mengangkat kitab suci untuk melawan setan.
Al-Qur’an tidak bisa diperlakukan seperti itu caranya, sebab Al-Qur’an sebagai protektor tidak kelihatan secara materi. Dengan membaca Al-Qur’an, Allah menjaga kita.
Manusia-manusia yang ada di sekitar kita harus kita jadikan komunitas yang menguatkan iman kita. Kita harus menghindari manusia-manusia yang membawa dampak buruk. Ingat, umat Islam yang hijrah dari Mekkah adalah orang-orang yang tertekan selama belasan tahun. Tetapi masyarakat yang tertindas dan tertekan selama belasan tahun itu ketika sampai di Quba. Di situlah awal batu loncatan atau tonggak mereka, yang suatu hari setelah itu, suatu zaman setelah itu, mereka menjadi entitas politik bahkan, ditambah entitas ekonomi, dan Rasulullah membangun entitas militer yang berdaulat.
Dari situ kita bisa mengambil pelajaran. Artinya, kita harus menjauhi manusia yang bisa menggerus iman kita. Seperti Nabi dan para sahabat meninggalkan Mekkah, hijrah menjauhi hal-hal yang mengganggu keimanan.
Tetapi juga kita harus punya komunitas dengan orang-orang yang dibangun dengan kesalehan. Bersama mereka, agar kita bisa beramal saleh secara berjemaah (kolektif).
Jangan cuma melarikan diri dan menyendiri. Tetapi tetap harus membangun komunitas yang merupakan komunitas dakwah.
Seperti para sahabat Muhajirin, yang awalnya adalah entitas yang tertekan, menjadi entitas yang maju dan berdaulat dalam politik, ekonomi, militer.
Dalam tingkat individu, kalau ingin menjadi orang berbahagia, jauhilah manusia yang menyebabkan defisit iman. Solusinya adalah, jadikan rumah sebagai tempat kembali. Bukan sekadar menjadi tempat singgah. Di sanalah jiwamu beristirahat, dan pikiranmu disusun ulang dengan tenang. Ciptakan rumah yang seperti ini.
