UBN Tekankan Iman dan Al-Qur’an dalam Seminar Santri Nasional 100 Tahun Gontor

PONOROGO–Ulama nasional Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) mengunjungi Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 2 dalam rangka Seminar Santri Nasional yang menjadi bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Gontor, Jumat (19/12/2025). Kehadiran alumnus PMDG tersebut menjadi momentum istimewa dalam peringatan satu abad pesantren modern itu.
Dikutip dari laman Gontor.ac.id, dijelaskan acara dibuka oleh Ketua Umum Peringatan 100 Tahun Gontor, Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Khoirul Umam, M.Ec. Dalam sambutannya, ia menjelaskan makna penggunaan istilah peringatan alih-alih perayaan dalam menyambut satu abad Gontor.
“Gontor memilih kata peringatan, bukan perayaan. Peringatan mengajak kita untuk bersyukur agar tidak kufur dan bermuhasabah, pa yang telah dilakukan generasi awal, apa yang kita lakukan hari ini di usia 100 tahun, serta ke mana arah perjuangan Gontor di abad kedua nanti,” ujarnya.
Dalam sesi utama, UBN menegaskan bahwa keberlangsungan PMDG hingga mencapai usia satu abad tidak lepas dari iman yang kokoh, keikhlasan, serta keterikatan yang kuat dengan Al-Qur’an. Tanpa iman, menurutnya, umat Islam akan mudah dilemahkan oleh berbagai agenda negatif, baik dari luar maupun dari dalam.
Ia menambahkan, keberhasilan Gontor melintasi seratus tahun perjalanan bukan semata hasil ikhtiar manusia, melainkan buah pertolongan dan karunia Allah SWT yang terus dijaga melalui nilai-nilai dasar pondok.
UBN juga menyoroti relevansi Panca Jiwa sebagai fondasi kepemimpinan santri di era digital. Keikhlasan, kata dia, menjadi penyangga agar aktivitas di ruang digital tidak terjebak pada pencarian popularitas dan keuntungan material. Kesederhanaan berfungsi sebagai penangkal budaya hedonisme dan budaya pamer di media sosial. Sementara itu, kemandirian menjadi syarat penting dalam membangun kedaulatan, termasuk kedaulatan digital.
“Kebebasan berpikir dan berinovasi harus tetap dibingkai oleh etika dan nilai Islam. Semua itu diperkuat oleh ukhuwah dan semangat kebangsaan agar santri hadir sebagai perekat umat dan bangsa,” tegas UBN.
Di akhir pemaparannya, UBN menegaskan bahwa nasionalisme santri adalah nasionalisme yang berakar dari iman. Santri Gontor, menurutnya, dididik untuk mencintai bangsa dan negara secara tulus, siap berkorban demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta memiliki integritas moral dalam menghadapi kekuasaan.
Seminar Santri Nasional ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cenderamata sebagai bentuk apresiasi atas pemaparan UBN yang dinilai inspiratif dan relevan dalam menjawab tantangan dakwah serta kepemimpinan santri di era digital.*
