Tadzkirah

Merawat Persatuan dengan Saling Memaafkan

Ilustrasi/Kompas.com

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

MARILAH kita senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kita mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang Muslim. Ketahuilah bahwa sifat memaafkan dan berlapang dada merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Risalah dari Al-Qur’an

Sifat ini adalah karakter para nabi dan orang-orang saleh. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur [24]: 22)

Ayat ini menekankan betapa pentingnya sikap memaafkan dalam menjaga persatuan dan keharmonisan di antara kita. Ketika kita memaafkan, kita sebenarnya sedang membersihkan hati kita dari dendam dan kebencian, yang bisa merusak hubungan kita dengan orang lain. Sikap ini tidak hanya mendatangkan kedamaian dalam diri kita, tetapi juga menarik rahmat Allah dan ampunan-Nya.

أكثر خُلُقٍ يُحِبُّهُ اللهُ سُبْحَانَهُ مِنَ الْعَبْدِ، هُوَ الْخُلُقُ الَّذِي ارْتَضَاهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ لِنَفْسِهِ. وَلِأَنَّهُ يُحِبُّ الْعَفْوَ وَالصَّفْحَ، كَانَ حُبُّهُ لِلْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ، وَالصَّافِحِينَ عَنْهُمْ أَكْبَرَ مِنْ غَيْرِهِمْ!

Akhlak yang paling disukai Allah dari seorang hamba adalah akhlak yang Dia ridhai untuk diri-Nya sendiri. Karena Dia mencintai pemaafan dan kelapangan hati, maka kecintaan-Nya kepada orang-orang yang memaafkan dan melapangkan hati mereka kepada sesama lebih besar daripada kecintaan-Nya kepada yang lain.

رَغَّبَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِالصَّدَقَةِ يَوْمًا، وَكَانَ عُلْبَةُ بْنُ زَيْدٍ فَقِيرًا، لَا يَجِدُ مَا يَتَصَدَّقُ بِهِ، فَقَامَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي تَصَدَّقْتُ بِعِرْضِي عَلَى كُلِّ مَنْ ظَلَمَنِي! فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَيْنَ عَلْبَةُ بْنُ زَيْدٍ؟ فَقَامَ وَقَالَ: هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ! فَقَالَ لَهُ: إِنَّ اللهَ قَدْ قَبِلَ مِنْكَ صَدَقَتَكَ!

Suatu hari, Nabi mendorong umatnya untuk bersedekah, dan ada seorang sahabat bernama ‘Ulbah bin Zaid yang miskin, yang tidak memiliki apa-apa untuk disedekahkan. Dia berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah bersedekah dengan kehormatanku kepada setiap orang yang telah menzalimiku!” Keesokan harinya, Nabi bertanya, “Di mana ‘Ulbah bin Zaid?” Dia berdiri dan berkata, “Ini aku, wahai Rasulullah!” Nabi berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu!”

Kisah ini mengajarkan kita bahwa memaafkan adalah salah satu bentuk sedekah yang paling mulia, yang bisa mengangkat derajat kita di hadapan Allah dan menjaga persatuan umat. Oleh karena itu, marilah kita saling memaafkan dan berlapang dada, demi merawat persatuan dan mendapatkan ampunan dari Allah.

Jiwa pemaaf seperti ini sangat dibutuhkan di kala terjadi kasus dalam tubuh umat yang hanya karena urusan khilafiah atau beda pandangan dalam ranah ijtihad, ada yang sampai saling menyalahkan dan merendahkan satu sama salin. Ada yang bahkan dikufurkan akibat pendapat kontroversial terkait musik dan masih banyak contoh kasus lainnya.

Renungkanlah bagaimana Allah Ta’ala memulai dengan kenikmatan psikologis (kejiawaan) sebelum kenikmatan materi. Dia memulai dengan menggambarkan kebersihan hati para penghuni surga, kemudian menggambarkan keindahan tempat mereka; Allah Ta’ala berfirman:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”.” (QS. Al-A’raf [7]: 43).

Demikian juga di ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr [15]: 47).

Bagi kita yang menginginkan kenikmatan sejati, maka renungkanlah firman Allah Ta’ala:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr [15]: 47).

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata:

هَذَا إِخْبَارٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ يُنَقِّي قُلُوبَ سَاكِنِي الْجَنَّةِ مِنَ الْغِلِّ وَالْحِقْدِ، وَذَلِكَ أَنَّ صَاحِبَ الْغِلِّ مُتَعَذِّبٌ بِهِ، وَلَا عَذَابَ فِي الْجَنَّةِ

“Ini adalah kabar dari Allah ‘Azza wa Jalla bahwa Dia membersihkan hati para penghuni surga dari dendam dan kebencian, karena orang yang memiliki dendam akan tersiksa olehnya, sedangkan di surga tidak ada siksa.”

Bila kita ingin berakhlak dengan akhlak penghuni surga, maka perlu membersihkan jiwa dari dengki, dendam serta berusaha mejadi pemaaf.

Orang yang hidupnya menyimpan dendam dan dengki serta tidak gampang memberi maaf, digambarkan oleh Imam Asy-Syaukani rahimahullah sebagai orang yang tidak bisa menikmati kenikmatan hidup:

التَّشَاحُنُ يُنْغِصُ الْحَيَاةَ، فَلَا يَطِيبُ لِصَاحِبِهِ عَيْشٌ

“Permusuhan merusak kehidupan, sehingga pemiliknya tidak bisa merasakan kenikmatan hidup.”

Hati Bersih

Barangsiapa yang diberi hati yang bersih terhadap saudaranya, sesungguhnya dia telah merasakan sebagian kenikmatan surga. Kebersihan hati seseorang dari tipu daya, dan bebasnya jiwanya dari keinginan untuk balas dendam dan mengutamakan hak-haknya sendiri, adalah ciri-ciri seorang mukmin yang saleh, yang lembut dan tidak memiliki dendam maupun iri hati.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:

أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ» ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ، نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: «هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ»

“Siapakah manusia yang paling baik?” Beliau menjawab: “Setiap orang yang hatinya bersih dan lisannya jujur.” Mereka bertanya: “Kami tahu orang yang lisannya jujur, tetapi siapa orang yang hatinya bersih?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang bertakwa, suci, tidak ada dosa, tidak ada kezaliman, tidak ada dendam dan tidak ada iri hati.” (HR. Ibnu Majah)

Orang yang hatinya bersih lebih mengutamakan hak orang lain daripada haknya sendiri, dan dia menyadari bahwa kehidupan ini adalah tempat persinggahan, bukan tempat menetap.

Sungguh, tidak ada keindahan dalam kehidupan seseorang yang menyimpan dalam hatinya sifat egois, kekerasan, dan kekasaran, serta sering mengeluarkan sikap yang menunjukkan kekerasan hatinya dan sempitnya pikirannya.

Betapa banyaknya orang yang mencari sumber-sumber kemuliaan dan jalannya? Mereka sibuk menggali ke sana ke mari, dan berusaha keras untuk mencapainya, walaupun harus mengeluarkan banyak usaha. Namun, ada satu sumber kemuliaan yang agung, yang sering dilupakan oleh banyak orang, padahal mudah untuk diperoleh dan tidak memerlukan banyak usaha.

Kemuliaan ini secara keseluruhan bisa diperoleh dengan memasuki pintu maaf dan pemaafan, toleransi dan pengampunan. Kebaikan hati, berprasangka baik terhadap orang lain, menerima permintaan maaf, memaafkan kesalahan, menahan amarah, dan memaafkan orang lain, semua itu adalah di antara hal-hal yang paling ditekankan oleh Islam dalam interaksi manusia dengan sesamanya.

Barangsiapa yang memiliki sifat ini, layak menjadi orang yang mulia dan tinggi kedudukannya; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Sedekah tidak mengurangi harta, Allah tidak menambah kepada seorang hamba dengan pemaafan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri kepada Allah kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim). Inilah kemuliaan bagi yang mencarinya, dan inilah ketinggian bagi yang menginginkannya.

Ini adalah ketinggian dan kemuliaan di dunia dan akhirat. Bagaimana tidak? Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada mereka yang memiliki sifat ini dengan firman-Nya:

 وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  [آل عمران: 133، 134].

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134). Barangsiapa yang memiliki sifat ini, maka bergembiralah dengan kecintaan Allah Ta’ala kepadanya, karena ia telah mencapai tingkat ihsan:

 وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imrah: 134).

Menjadi Pemaaf

Memaafkan adalah ciri orang-orang saleh yang suci, yang memiliki kesabaran dan ketenangan jiwa, serta jiwa yang ridha. Pemaafan adalah sifat mereka. Mereka mendahulukan akhirat atas kepentingan dunia, dan menunjukkan akhlak yang suci dan bersih, yang dengan kuat menembus hati orang lain.

Memaafkan orang lain bukanlah hal yang mudah; karena dalam diri ada beban yang hanya bisa diatasi dengan melawan keinginan untuk menang dan balas dendam. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kuat yang diberi kekuatan oleh Allah Ta’ala. Sabda Nabi:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari, Muslim).

Dalam hadits yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat sehingga ia diberi pilihan oleh Allah untuk memilih bidadari mana yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud).

Syariat kita yang mulia, ketika mendorong umat Islam untuk berakhlak dengan akhlak pemaafan dan pengampunan, tidak membatasi dorongan tersebut dalam lingkup yang sempit atau lingkaran tertutup, tetapi memperluasnya sehingga mencakup banyak aspek dari urusan interaksi. Bahkan, dorongan untuk memaafkan telah melampaui urusan jual beli dan utang piutang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ: تَجَاوَزُوا عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ

“Ada seorang pedagang yang meminjami orang lain, apabila ia melihat orang yang kesulitan, ia berkata kepada para pembantunya: ‘Maafkan dia, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka Allah pun memaafkannya.” (HR. Bukhari) Bahkan dorongan untuk memaafkan ini juga melampaui urusan darah dan qishas, seperti firman-Nya:

 وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ [المائدة: 45].

“Dan Kami tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwa jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qisasnya), maka itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5]: 45).

Di samping itu, ada penegasan tentang dorongan umum untuk memaafkan dalam berinteraksi dengan orang lain, dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرِ اللهُ لَكُمْ

“Kasihanilah, maka kalian akan dikasihani; maafkanlah, maka kalian akan dimaafkan.” (HR. Ahmad).

Terkait hal ini, Al-Manawi rahimahullah Ta’ala berkata:

لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُحِبُّ أَسْمَائَهُ وَصِفَاتِهِ، الَّتِي مِنْهَا الرَّحْمَةُ، وَالْعَفْوُ، وَيُحِبُّ مِنْ خَلَقَهُ مَنْ تَخَلَّقَ بِهَا

“Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai nama-nama dan sifat-sifat-Nya, di antaranya adalah rahmat dan pengampunan, dan Dia menyukai dari hamba-Nya yang berakhlak dengan sifat-sifat tersebut.”

Sesungguhnya memaafkan dan mengampuni tidaklah berarti lemah dan rendah diri, tetapi itu adalah puncak kekuatan dan keberanian, serta mengalahkan hawa nafsu. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah Ta’ala berkata:

إِذَا أَتَاكَ رَجُلٌ يَشْكُو إِلَيْكَ رَجُلًا، فَقُلْ: يَا أَخِي، اعْفُ عَنْهُ، فَإِنَّ الْعَفْوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى، وَالْعَفْوَ بَابٌ وَاسِعٌ، ﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ [الشورى: 40].

“Jika seseorang datang kepadamu mengadukan seseorang, katakanlah: ‘Wahai saudaraku, maafkanlah dia, karena memaafkan lebih dekat kepada ketakwaan, dan pintu maaf itu luas.’ Allah berfirman: ‘Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.’ (QS. Asy-Syura: 40).”

Dikuasai Amarah

Ada sebagian orang yang telah mencapai tingkat kekerasan hati sehingga tidak bisa memaafkan orang lain atau melewatinya. Dalam kehidupannya hanya terlihat balas dendam dan kepuasan diri, seperti langit yang jika mendung, tidak diharapkan cerah, dan jika mampu, tidak diharapkan pengampunannya.

Ia marah karena kesalahan yang kecil dan tidak puas dengan alasan yang jelas, bahkan melihat dosa yang lebih kecil dari bayangan tombak, namun buta terhadap alasan yang lebih terang dari siang hari. Ia mendengar dengan satu telinga saja, sehingga bereaksi berlebihan, dan telinga yang lain tertutup dari alasan, meskipun ada bukti dan alasan yang kuat.

Barangsiapa yang demikian keadaannya, ia adalah musuh dirinya sendiri, dan telah dikuasai oleh hawa nafsu yang memalingkannya dari kebaikan dengan memaafkan, kepada keburukan dengan balas dendam. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ، فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memukul sesuatu pun dengan tangannya, tidak pula wanita, tidak pula pembantu, kecuali dalam berjihad di jalan Allah. Dan tidak pernah beliau disakiti dalam suatu perkara, lalu membalasnya, kecuali jika ada sesuatu yang diharamkan oleh Allah dilanggar, maka beliau membalas karena Allah ‘Azza wa Jalla.”  (HR. Muslim)

Selain menjadi pemaaf, kita harus berusaha untuk memperbaiki hubungan antar sesama. Jika ada yang mengetahui perselisihan antara dua orang, maka segeralah berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka.

Perhatikan firman Allah Azza wa Jalla:

 لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا  [النساء: 114]

“Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pembicaraan) orang yang menyuruh (manusia) untuk bersedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa [4]: 114), dan firman-Nya:

 فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ  [الأنفال: 1].

“Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal [8]: 1).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟» قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ

“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang lebih baik dari derajat puasa, shalat, dan sedekah?” Mereka berkata: “Tentu.” Beliau bersabda: “Memperbaiki hubungan antara dua orang yang berselisih, karena rusaknya hubungan antara dua orang adalah hal yang mencukur (menghancurkan agama).”  (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Ketahuilah, wahai orang-orang beriman, bahwa dorongan syariat untuk memaafkan dan mengampuni tidak terbatas hanya pada pengampunan yang tampak saja, namun dorongan itu mencakup pengampunan secara menyeluruh, menganggap dosa tidak pernah terjadi, dan membuka lembaran baru dalam hubungan dengan orang yang melakukan kesalahan, serta menyingkirkan kesalahan yang tampak dan yang tersembunyi.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan hal tersebut dalam firman-Nya:

                                                                                                                                                فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ  [الحجر: 85]

“Maka maafkanlah (mereka) dengan yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85), dan firman-Nya yang lain:

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Maka maafkanlah mereka dan beri ampunlah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah [5]: 13), dan Allah Ta’ala berfirman:

فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ  [البقرة: 109]

“Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 109), dan Allah Ta’ala juga berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ  [التغابن: 14]

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun [64]: 14).

Terkait ayat ini, Syekh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

فَمَنْ عَفَا عَفَا اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ صَفَحَ صَفَحَ اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ غَفَرَ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، وَمَنْ عَامَلَ اللَّهَ فِيمَا يُحِبُّ، وَعَامَلَ عِبَادَهُ كَمَا يُحِبُّونَ وَيَنْفَعُهُمْ، نَالَ مُحَبَّةَ اللَّهِ وَمُحَبَّةَ عِبَادِهِ، وَاسْتَوْثَقَ لَهُ أَمْرَهُ.

“Barangsiapa yang memaafkan, Allah akan memaafkan baginya, dan barangsiapa yang mengampuni, Allah akan mengampuni baginya, dan barangsiapa yang berbuat baik kepada Allah, dan berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya, maka ia akan mendapatkan cinta Allah dan cinta hamba-hamba-Nya, serta Allah akan meneguhkan urusannya.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ؛ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ، وَفَقْرِهِ -: وَاللَّهِ لَا أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ مَا قَالَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿ ﴿ وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾ [النور: 22]، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: بَلَى وَاللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي. فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ، وَقَالَ: وَاللَّهِ، لَا أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا.

“Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata – sedangkan dia memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsathah karena hubungan kekerabatan dan kebutuhannya – ‘Demi Allah, aku tidak akan memberikan sesuatu kepada Mistah setelah dia mengatakan apa yang dia katakan kepada Aisyah.’ Maka Allah menurunkan ayat: ‘Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kemampuan di antara kamu bersumpah tidak memberi (bantuan kepada keluarganya), kepada kerabatnya, kepada orang-orang miskin, dan kepada orang-orang yang berhijrah di jalan Allah; dan hendaklah mereka memaafkan dan bersikap lapang (pikiran). Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampuni dosa-dosa kamu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur [24]: 22). Abu Bakar berkata: “Ya, demi Allah, aku ingin agar Allah mengampuni dosaku.” Lalu ia kembali memberikan nafkah kepada Mistah seperti yang biasa dia berikan, dan berkata: “Demi Allah, aku tidak akan mencabut bantuan ini darinya selamanya.”

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam Sya’irnya:

لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ،

أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمِّ الْعَدَاوَاتِ.

Ketika aku memaafkan dan tidak mendengki siapapun,

Aku meredakan (mengistirahatkan) jiwaku dari duka permusuhan.

Karakteristik memaafkan adalah tanda-tanda seorang pemimpin yang sukses, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya:

خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf [7]: 99) Dan seperti yang terdapat dalam firman-Nya yang lain:

﴿ فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ ﴾ [آل عمران: 159].

“Karena rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan (yang baik). Apabila kamu telah memutuskan sesuatu, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya).” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

Aisyah radhiyallahu ‘anha saat ditanya tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab:

لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ

“Beliau bukanlah seorang yang buruk prilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Beliau tidak suka berteriak di pasar-pasar. Beliau bukanlah tipe orang yang membalas keburukan dengan keburukan, namun beliau selalu memaafkan dengan lapang dada.” (HR. Tirmidzi)

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ ﴾ [فصلت: 34].

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat [41]: 34).*