Penghalang Jalan Menuju Allah Ta’ala

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
DUA penghalang jalan menuju Allah Azza wa Jalla ini adalah asy-syubuhat wasy-syahawat. Dua hal ini adalah dua penghalang besar seseorang mampu memahami tujuan hidupnya dan menghalangi perjalananan seseorang menuju Allah Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلْقَى ٱلشَّيْطَٰنُ فِىٓ أُمْنِيَّتِهِۦ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلْقِى ٱلشَّيْطَٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan tersebut, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Hajj ayat 52).
Nabi dan Rasul Allah Ta’ala adalah manusia-manusia mulia yang dijaga oleh Allah kebersihan hatinya, kebenaran kata-kata, serta tindakannya. Namun, mereka pun tidak lolos dari jeratan setan yang hendak menggelincirkan siapa pun hamba Allah. Meski kemudian Allah melenyapkan segala jeratan setan tersebut dengan penguatan ayat-ayat-Nya di dalam dada para Nabi dan Rasul-Nya.
Lalu bagaimana dengann kita yang hanya hamba-Nya yang biasa saja? Godaan setan silih berganti menerpa hati, terutama manakala ujian datang dan menggoyahkan kehidupan kita. Di saat ujian melanda dan setan-setan gencar membisikkan berbagai hal yang terlihat indah, tetapi menyesatkan; ingatlah bahwa sebenarnya kita masih ada dan hidup hanya karena Allah Ta’ala.
Kembali pada Allah
Ingatlah ketika kita masih ada di rahim ibu, kita tentu belum bekerja dan memiliki penghasilan seperti sekarang. Dengan kasih sayang-Nya yang dititipkan lewat orangtua kita, kemudian kita bisa lahir dan bertumbuh hingga dewasa seperti sekarang. Di dalam rahim, kita tidak melakukan apa-apa, tetapi kita hidup. Kita tidak menggunakan pakaian yang hangat atau memasang AC, tetapi kita selalu merasa nyaman. Itulah fasilitas yang Allah berikan. Artinya, hidup dan adanya kita sekarang, sejatinya dari Allah. Kita tidak memiliki apa-apa dan apa yang kita miliki adalah apa yang Allah berikan; lewat apa yang Allah mampukan untuk kita kerjakan.
Oleh karena itu, yakinilah bahwa rezeki dan solusi hidup hanyalah dari Allah. Apa pun persoalan yang sedang menguji. Katakanlah, “Tidak ada yang hilang dari saya.” Namun, bila suatu hari kita merasa seolah ada tembok besar yang menghalangi terlihatnya jalan keluar; yakinlah bahwa semua itu hanya ada dalam pikiran kita saja. Semua itu terjadi, mungkin karena kurangnya wawasan kita, kurangnya ilmu, sedikitnya relasi, dan yang paling utama: kurangnya ilmu kita dalam mematuhi rambu dan marka di jalan takwa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
“…Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan adakan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan, barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq ayat 2-3).
Jalan takwa inilah jalannya orang-orang sukses. Bila di awal melangkah ada kekhawatiran akan ketidaksempurnaan cara yang dilakukan, maka yakinlah bahwa Allah akan menyempurnakannya. Dan, Allah tidak akan membuat kita kecewa. Allah Azza wa Jalla akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Begitulah cara orang yang beriman seharusnya berpikir dan bertindak.
Penghalang Takwa
Akan tetapi, kia harus senantiasa tetap waspada. Di tengah perjalanan yang panjang menuju Allah Azza wa Jalla, kadang kala pandangan kita dikaburkan dan arah kita dibelokkan oleh dua hal yaitu syubhat dalam beragama dan syahwat yang seringkali menjauhkan kita dari taat. Ini adalah dua penghalang yang besar dalam perjalanan takwa karena telah kaburnya pandangan kita dalam melihat antara yang haq dan yang bathil.
Melihat yang bathil sebagai yang haq dan malah menuduh yang haq sebagai yang bathil. Dalam kondisi seperti ini maka ilmu seseorang sudah rusak. Demikian pula dengan syahwat. Bisa diperbudaknya seseorang oleh syahwat juga kemungkinan berasal dari ilmu yang salah. Ilmu yang bukan didasari dan dirawat dengan iman. Maka, jika syubhat itu merusak ilmu, maka syahwat itu merusak keinginan.
عَنِ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (( إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ، لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ )). رواه البخاري ومسلم، وهذا لفظ مسلم.
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati.“ (HR. Bukhari dan Muslim).
Yang dihalalkan itu sebenarnya lebih banyak dari pada yang diharamkan. Oleh karena itu, fokuslah pada apa yang Allah halalkan jangan berfokus pada yang haram lagi sedikit itu. Yang seringkali menjadi masalah justru yang ada di antara yang halal dan yang haram ini atau asy-syubuhat. Di “ruang abu-abu” inilah kebanyakan manusia kemudian tersesat. Kenapa? Karena ayat-ayat Allah untuk menentukan yang benar dan yang salah, haram dan halal, serta mana yang harus diikuti dan mana yang harus ditinggalkan; tidak pernah benar-benar berakar dalam hati seorang hamba. Sehingga ia kemudian tersesat dan kehilangan arah. Tidak bisa lagi membedakan mana yang terang dan mana yang gelap.
Bulan ini adalah bulan Rajab, para ulama sepakat bahwa bulan ini adalah waktunya menanam kekokohan ibadah dan ayat-ayat Al-Quran di dalam jiwa. Bulan Sya’ban adalah bulan menyiram dan merawatnya; kemudian bulan Ramadhan adalah bulan kita memanen berupa kesiapsiagaan dan ketangguhan kita dalam beribadah dan menjalankan ayat-ayat Allah dalam keseharian hidup kita.
Jangan pernah berada di sisi tengah antara kebenaran dan kebathilan, manakala kita tahu persis mana yang haq dan yang bathil. Memilih di sisi tengah atau netral, manakala kita sudah tahu persis yang benar adalah haram. Karena, telah jelas mana yang halal dan yang haram.
Pilihlah jalan takwa dengan selalu mengikuti yang haq. Jangan terombang-ambing dalam kekaburan syubhat dan panasnya syahwat. Mintalah taufiq dari Allah Azza wa Jalla dengan senantiasa melekatkan kehidupan kita dengan Al-Quran, menyatukan gerak langkah kita bersama jamaah fii sabillah, dan menjaga hati kita dengan petunjuk yang tak pernah terputus. Aamin Ya Rabbal ‘Alamiin.*
