Jangan Serupa Ashabul Ukhdud

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ
وَٱلْيَوْمِ ٱلْمَوْعُودِ
وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ
قُتِلَ أَصْحَٰبُ ٱلْأُخْدُودِ
ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ
إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ
وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ
وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj ayat 1-10).
Surat Al-Buruj ayat 1-10 di atas adalah surat yang mengabadikan peristiwa yang terjadi antara seorang pemuda dan raja yang zalim. Dalam sebuah hadits yang panjang dari riwayat Muslim, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Dahulu ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut berada dalam usia senja, ia meminta agar dikirimkan pemuda yang akan jadi pewaris ilmu sihirnya. Maka ada seorang pemuda yang cerdas diutus padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya.
Di tengah perjalanan belajarnya, pemuda ini bertemu seorang rahib (pendeta) dan ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia pun begitu takjub pada nasehat-nasehat yang disampaikan si rahib.
Pada suatu saat, tibalah ia di suatu tempat dan di situ ada seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak. Pemuda itu lalu berkata, ‘Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang benar ataukah rahib itu.’ Ia pun mengambil sebuah batu kemudian berkata, ‘Ya Allah, apabila ajarab rahib itu benar di sisi-Mu daripada tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.’ Lalu ia melempar binatang tersebut hingga terbunuh. Lalu orang-orang bisa lewat. Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib tersebut pun mengatakan, ‘Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar demikian, janganlah menyebut namaku.’
Pemuda itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia pun dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini pun sampai di telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Pemuda ini pun berkata, ‘Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau mau beriman pada Allah, aku akan berdo’a pada-Nya supaya engkau bisa disembuhkan.’ Sahabat raja ini pun beriman pada Allah Azza wa Jalla, lantas Allah menyembuhkannya.
Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja seperti biasanya. Raja pun bertanya padanya, ‘Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?’ Ia pun menjawab, ‘Rabbku.’ Raja pun kaget, ‘Apa engkau punya Rabb (Tuhan) selain aku?’ Sahabatnya pun berkata, ‘Rabbku dan Rabbmu itu sama yaitu Allah.’ Raja tersebut menyiksanya sampai ditunjukkanlah keberadaan sang pemuda.
Raja kemudian berkata padanya, ‘Wahai anakku, telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu.’ Pemuda tersebut pun menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidaklah dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.’ Mendengar hal itu, raja kemudian menyiksanya habis-habisan. Pemuda itu lalu dibawa ke puncak gunung untuk dilemparkan. Pemuda ini lalu berdo’a, ‘Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.’ Gunung pun lantas berguncang dan semua pasukan raja mati. Lalu pemuda ini dibawa lagi bersama pasukan raja menuju lautan untuk ditenggelamkan. Pemuda ini kemudian berdo’a, ‘Ya Allah, cukupilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.’ Tetiba perahu tersebut terbalik, lalu pasukan raja tenggelam. Pemuda tersebut kembali mendatangi raja.
Ia pun berkata pada raja, ‘Engkau tidak bisa membunuhku sampai engkau memenuhi syaratku.’ Raja pun bertanya, ‘Apa syaratnya?’ Pemuda tersebut berkata, ‘Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu pancanglah aku di atas sebuah pelepah. Kemudian ambillah anak panah dari tempat panahku, lalu ucapkanlah, ‘Bismillah rabbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.’ Lalu panahlah aku karena jika melakukan seperti itu, engkau pasti akan membunuhku.’ Lantas rakyat pun dikumpulkan di suatu bukit. Pemuda tersebut pun disalib di pelepah, lalu raja tersebut mengambil anak panah dari tempat panahnya kemudian diletakkan di busur. Setalah itu, ia mengucapkan, ‘Bismillah rabbil ghulam, artinya: dengan menyebut nama Allah Tuhan dari pemuda ini.’ Meski saat itu, tanpa Raja sadari ia telah mengakui Allah sebagai Rabb. Lalu dilepaslah dan panah tersebut mengenai pelipis pemuda itu. Lalu pemuda tersebut memegang pelipisnya tempat anak panah tersebut menancap, lalu ia pun mati. Rakyat yang berkumpul tersebut lalu berkata, ‘Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut. Kami beriman pada Tuhan pemuda tersebut.’
Raja datang, lantas ada yang berkata, ‘Apa yang selama ini engkau khawatirkan? Sepertinya yang engkau khawatirkan selama ini benar-benar telah terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada Tuhan pemuda tersebut.’ Raja pun murka mendengar perkataan rakyatnya. Ia lalu memerintahkan untuk membuat parit di jalanan lalu dinyalakan api di dalamnya. Ia kemudian berkata, ‘Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.’ Atau dikatakan, “Masuklah ke dalamnya.’ Mereka pun melakukannya, sampai ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini pun begitu tidak berani maju ketika akan masuk di dalamnya karena khawatir akan bayinya. Sang bayi lantas berkata, ‘Wahai ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.’” (HR. Muslim no. 3005).
Di sekitar parit yang dinyalakan tersebut, duduklah para pembesar kerajaan maupun rakyat biasa menyaksikan orang-orang beriman mendapatkan siksa yang begitu kejam. Mereka hanya diam dan menyaksikan meski mereka tahu persis bahwa orang-orang yang dilemparkan ke dalam parit yang menyala-nyala itu adalah orang yang benar.
Mereka yang membuat parit yang menyala-nyala dan mereka yang menyaksikan pembantaian itulah yang kemudian disebut oleh Al-Quran sebagai Ashabul Ukhdud. Mereka menyaksikan dan diam. Kondisi ini hampir sama dengan yang terjadi saat ini di Gaza. Mereka dijatuhi bom, ditembaki, dan dijatuhi bom fosfor, tetapi masyarakat dunia hanya bisa diam. Termasuk kita yang tersandera oleh kebijakan pemerintah di negaranya masing-masing.
Hingga hari ini jumlah korban genosida di Gaza sudah melampaui 23.357 jiwa. Jumlah yang sama dengan empat tahun perang di Suriah. Sementara di Gaza hanya empat puluh hari. Namun, dunia bahkan negara-negara Arab yang notabene menyaksikan pembantaian itu di sekeliling Gaza hanya diam. Tidak ada pembelaan yang signifikan terhadap Gaza dan Palestina. Bantuan yang datang pun tak jarang tertunda di depan pintu-pintu perbatasan yang merupakan wilayah kewenangan mereka. Sementara rakyat Palestina terutama Gaza dalam ancaman kelaparan dan tak punya air bersih.
Ash-Shumuud
Meski kita di Indonesia tidaklah bersisian dengan Ghaza, tetapi kita menyaksikan derita mereka. Walau pejuang Al-Aqsha tidak pernah lemah dan tidak pernah lelah apalagi menyerah berhadapan dengan Israel. Mereka tetap berdiri kokoh menjaga Al-Aqsha. Merekalah Ash-Shumuud (yang teguh). Merekalah orang-orang bergantung hanya kepada Allah As-Shomad. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat Al-Ikhlas ayat 1-2, “Katakanlah, Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah, tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”
Orang-orang beriman di Gaza begitu yakin bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan yang akan menjaga dan menyelamatkan mereka. Tiada tempat bergantung yang paling kokoh dan mengokohkan jiwa selain Dia. Oleh karena itu, seberat apa pun penderitaan yang mereka tanggung, mereka hanya mengatakan: “Allahu Ahad”. Hanya Allah satu-satunya yang bisa menolong mereka, mengangkat rasa sakit yang mereka rasakan, sekaligus memberikan tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang mereka cintai. Tiada yang menandingi kuasa-Nya sebagai tempat memasrahkan diri sekaligus mengambil energi untuk berjuang selain Dia.
Inilah yang tidak dimiliki dan tidak akan pernah dimiliki oleh orang-orang Israel. Meski mereka dikuatkan Allah dengan harta yang melimpah, pasukan yang kuat, dan mesin perang yang canggih; mereka tidak punya sandaran dalam hati. Mereka pengecut, mereka takut mati, bahkan serasa mati berkali-kali manakala harta mereka diambil. Hati mereka gelisah karena banyaknya tuhan yang mencengkeram hati dan rapuhnya sandaran untuk dapat berdiri memperjuangkan sesuatu yang bahkan mereka tidak mengerti.
Semoga kita tidaklah sama dengan Ashabul Ukhdud yang hanya diam melihat saudara kita dibantai. Semoga kita termasuk orang-orang yang berjuang dengan apa pun yang kita miliki untuk saudara-saudara yang kita yang didzalimi. Karena, sama lah orang yang menyokong perjuangan dengan para pejuang, dimana pun kita berada. Berdirilah, kokohlah, dan berderaplah bersama kuda-kuda perang yang kita miliki. Untuk kelak bersujud bersama di Baitul Maqdis yang mulia.*
