Tadabbur

Meet Time Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ
وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ
لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa ayat 34-37).

Surat ‘Abasa ayat 34-37 ini menggambarkan situasi pada hari kiamat. Ketika tiba masa perhitungan, saudara, ibu, ayah, istri dan anak-anak di dunia itu tidak teringat lagi. Bagaimana pun suasana erat kita dengan keluarga pada masa di dunia, namun di hari perhitungan itu kita tidak akan mengingat mereka.

Betapa pun karib, kecintaan kita pada keluarga, setiap kita akan sibuk dengan urusan sendiri-sendiri saat hari perhitungan. Para tafsir ulama Nusantara semua sepakat tentang larinya manusia dari orang-orang terdekat nya. Karena urusan pada hari itu sendiri-sendiri. Seseorang tidak lagi mengharapkan atau bahkan melupakan keluarganya di dunia. Bahkan meninggalkan orang-orang yang biasa membantu di dunia.

Status kekerabatan dilupakan. Tak satu pun dari mereka berguna buat kita. Kita harus menyadari bahwa suatu hari nanti, semua yang kita cintai akan menjadi beban kita. Dan kita menghindari mereka. Maka saat di dunia, cintailah mereka karena Allah Ta’ala. Sambunglah silaturahim karena Allah Ta’ala. Berbagilah karena Allah Ta’ala.

Hari itu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya persoalan masing-masing sehingga harus lari dari orang terdekatnya. Betul-betul kita sendiri. Harus menghadapi sendiri persoalan persoalan yang sudah kita perbuat di dunia. Semua tidak ada lagi pembelaan buat kita. Urusan kita betul-betul dengan Allah.

Mereka yang biasa melindungi di dunia, sama sekali tidak bisa lagi melindungi sedikitpun. Tidak ada yang bisa menolong, tidak ada yang bisa membantu. Di dunia ini, perkuat meet time kita bersama Allah saja. Harus banyak mengobrol sama Allah di dunia ini. Ketika kita sedang sendiri, manfaatkan lah untuk selalu terhubung dengan Allah. Baik dalam bentuk tilawah, bentuk zikir, dalam bentuk muhasabah. Tetapi ketika kita berada di keramaian, berada bersama orang-orang yang kita cintai, kita tetap beradaptasi dengan mereka. Namun di hati kita keterikatan dengan Allah jangan sampai terlupakan.

Kita harus lari menuju Allah. Di situlah kenikmatan. Di situ kita melakukan kedekatan yang sesungguhnya. Jangan sampai kita menjadi orang yang asing pada Allah. Bagi orang yang sudah dekat dengan Allah sejak di dunia, meet time nya bersama Allah begitu kuat, bahkan ketika dalam keramaian. Inilah orang-orang yang lari dari keluarganya pada hari itu. Menuju sesuatu yang paling menenangkannya.

Sementara orang-orang yang jauh dari Allah, karena lebih mementingkan orang-orang yang dicintai, mengikuti apa maunya mereka, hingga lupa pada Allah. Bahkan melawan Allah, di situlah suatu hari nanti dia akan menjadi terasing di harapan Allah. Wallahu ‘alam bish shawab.*