Doa Seputar Safar

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
عَنْ سَالِمٍ ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ ، كَانَ يَقُولُ لِلرَّجُلِ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا : ادْنُ مِنِّي أُوَدِّعْكَ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَدِّعُنَا ، فَيَقُولُ : ” أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Salim meriwayatkan bahwa Ibnu Umar selalu mengatakan kepada orang yang ingin melakukan perjalanan, “Mendekatlah kepadaku, saya akan melepas kepergianmu sebagaimana Rasulullah melepas kami. Beliau (Rasulullah) biasanya mengatakan, “Aku menitipkan agamamu, amanahmu dan perbuatan terakhirmu kepada Allah”. (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa`i,Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan Hakim).
Kemudian doa yang mau safar kepada yang ditinggalkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ أَرَادَ أَنْ يُسَافِرَ ، فَلْيَقُلْ لِمَنْ يُخَلِّفُ : أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpergian maka hendaklah ia mengatakan kepada yang ditinggalkannya, “Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak yang tidak akan pernah tersia-siakan apa yang dititipkan kepada-Nya”. (HR. Thabrani).
Doa keluar rumah
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ ، فَقَالَ : بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ، قَالَ : يُقَالُ حِينَئِذٍ : هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ : كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu mengucapkan, “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah”. Maka akan dikatakan kepadanya ketika itu, “Engkau sudah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga” Setan pun akan menyingkir darinya. Setan yang lain akan mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ ، قَالَتْ : ” مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali beliau mengangkat mukanya ke langit dan berdoa, “Ya Allah! aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzholimi atau dizholimi orang lain, dari kebodohan diriku atau dijahilin orang lain.” (HR. Abu Daud, Nasa`i, Ibnu Majah, Ahmad, Hakim dan Baihaqi).
Doa ketika hendak melakukan perjalanan
عن ابن عمر رضي الله عنهما أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا ، ثُمَّ قَالَ : ” سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا ، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُون ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى ، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى ، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا ، وَاطْوِ عَنْا بُعْدَهُ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ ، وَإِذَا رَجَعَ ، قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيهِنَّ آيِبُونَ ، تَائِبُونَ ، عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ.
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah berada di atas ontanya ingin bepergian, beliau bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan (سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا ، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُون ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى ، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى ، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا ، وَاطْوِ عَنْا بُعْدَهُ ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ) Mahasuci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. (Az-Zukhruf: 12-14) ‘Ya Allah, sesung-guhnya kami memohon kepadaMu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan takwa serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah atas kami perjalanan kami ini dan pendekkanlah jauhnya dari kami. Ya Allah, Engkaulah penjaga dalam perjalanan dan wakil pengganti dalam keluargaku. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kesukaran dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan tempat kembali yang buruk yang berkenaan dengan harta dan keluarga”.
Dan ketika beliau kembali dari perjalanan, beliau membaca lagi doa tersebut dan menambahkan (آيِبُونَ ، تَائِبُونَ ، عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ) “Kembali, bertaubat, beribadah, lagi memuji kepada Rabb kami.” (HR. Muslim).
Abu Dawud menambahkan dalam riwayatnya, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukannya, jika mendaki bukit, mereka bertakbir; dan jika menuruninya, mereka bertasbih.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَافَرَ يَتَعَوَّذُ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ ، وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ ، وَالْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْنِ ، وَدَعْوَةِ الْمَظْلُومِ ، وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ
Dari Abdullah bin Sarjis, ia berkata, “Ketika hendak melakukan perjalanan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari kesukaran dalam perjalanan, tempat kembali yang buruk, al-haur ba’da al-kaun (berbalik dari iman menuju kufur), doa orang yang dizhalimi, dan pemandangan yang buruk yang berkenaan dengan keluarga dan harta.” (HR. Muslim).
Bertakbir ketika menanjak dan bertasbih ketika jalan menurun
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : ” كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا ، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Jika kami jalan menanjak maka kami bertakbir dan jika menurun kami bertasbih.” (HR. Bukhari).
Doa ketika mendatangi/singgah di suatu tempat atau rumah
عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيمٍ السُّلَمِيَّةِ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : إِذَا نَزَلَ أَحَدُكُمْ مَنْزِلًا فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ، فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْهُ
Diriwayatkan dari Khaulah binti Hakim al-Salamiyyah bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bersabda: “Jika seseorang di antara kalian mendatangi suatu rumah (tempat) maka hendaklah ia membaca (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya) maka tidak akan ada yang akan membahayakannya sampai ia pergi dari rumah tersebut.” (HR. Muslim).
Banyak-banyak berdoa ketika sedang dalam perjalanan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga doa yang mustajab tidak ada keraguan di dalamnya yaitu doa seorang ayah, doa musafir dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).*
