Tadabbur

Inabah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَ‌بِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُ‌ونَ

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (Surat Az-Zumar [39]: 54).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya untuk selalu kembali kepada Allah. Secara bahasa inabah adalah selalu kembali kepada sesuatu. Oleh karena itu inabah kepada Allah Ta’ala adalah hati hamba yang selalu kembali kepada Allah dan jiwa yang selalu ingin kembali kepada kebenaran setelah salah.

Ibnu al-Qayyim menjelaskan dalam kitabnya Madarij As-Salikin bahwa inabah adalah bersegera untuk mencari ridha Allah SWT, selalu kembali kepada-Nya setiap saat dan mengikhlaskan segala amal hanya untuk-Nya.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa inabah adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ikhlas.

Imam Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa inabah adalah kembali menghadap Allah SWT dengan bertaubat dan melakukan ketaatan. Sebagian ulama juga mengatakan bahwa inabah adalah kembali dari hati yang lalai kepada Allah Ta’ala menjadi hati yang selalu ingat kepada-Nya.

Inabah ini adalah akhlaknya para nabi dan rasul Allah SWT. Allah Ta’ala memuji hamba-Nya Ibrahim AS:

إِنَّ إِبْرَ‌اهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ

“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (Surat Hud [11]: 75).

 

Dua Macam Inabah

Para ulama menjelaskan bahwa inabah itu ada dua macam. Pertama, inabah rububiyyah yaitu inabahnya seluruh makhluk termasuk di dalamnya orang mukmin dan orang kafir, orang baik dan orang pendurhaka. Hal ini biasa terjadi bagi setiap orang yang mengharap keselamatan dari Dzat yang Maha Kuasa ketika dihadapkan pada bahaya atau musibah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan tentang ini dalam firman-Nya:

وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ‌ دَعَوْا رَ‌بَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَ‌حْمَةً إِذَا فَرِ‌يقٌ مِّنْهُم بِرَ‌بِّهِمْ يُشْرِ‌كُونَ

“Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya.” (Surat Ar-Rum [30]: 33).

Kedua, inabahnya para wali-wali Allah SWT yang disebut inabah uluhiyyah yaitu inabah penghambaan dan kecintaan kepada Allah SWT, inabah uluhiyyah mencakupi makna cinta kepada Allah SWT, adanya ketertundukkan dalam jiwa kepada Allah SWT, menghadapkan segenap jiwa kepada Allah SWT dan berpaling dari selain Allah SWT.

Di antara keutamaan hamba yang selalu ber-inabah kepada Allah SWT adalah ia mudah mengambil pelajaran dan peringatan dari segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman:

تَبْصِرَ‌ةً وَذِكْرَ‌ىٰ لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيبٍ

“Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).” (Surat Qaf [50]: 8).

Langit yang ditinggikan, dihiasi serta tidak ada keretakan padanya adalah jalan baginya untuk menjumpai Tuhannya. Bumi yang dihamparkan, gunung-gunung yang berdiri kokoh serta segala pohon dan tanaman yang indah dipandang mata adalah jalan baginya untuk mengenal Tuhannya dan mendapatkan pelajaran dari Tuhannya.

Orang selalu ber-inabah kepada Allah SWT juga akan mendapatkan berita gembira tentang surga yang dijanjikan Allah SWT.

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَن يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّـهِ لَهُمُ الْبُشْرَ‌ىٰ ۚ فَبَشِّرْ‌ عِبَادِ

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” (Surat Az-Zumar [39]: 17).

Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang menjauhi penyembahan terhadap thagut yang bisa jadi berupa uang, materi, kekuasaan, sistem dan apa saja yang disembah dan ditaati selain Allah SWT. Lalu ia kembali kepada Allah SWT dan menyukai kebenaran yang ditawarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, maka bagi mereka berita gembira, yaitu surga yang dijanjikan Allah SWT.

Semoga kita dapat menjadikan bisa selalu ber-inabah kepada Allah SWT dengan selalu berdzikir mengingat Allah SWT, memperbanyak tilawah dan tadabbur Alquran, mendoakan dan berbakti kepada orang tua, berbagi kepada orang miskin, memberi makan orang yang kita kenal dan yang tidak kita kenal, bersedekah dan segala amal ketaatan lainnya. Wallahu ‘alam bish shawab.*