Latihan Mati Sebelum Mati
Oleh KH Bachtiar Nasir
Bismillāhirrahmānirrahiīm
Latihan mati sebelum mati, sebelum berjumpa dengan Allah. Apa yang kita bawa menghadap Allah kelak? Bagaimana jasad dan hati kita? Masih kotorkan atau sudah bersih? Mumpung masih ada usia, mari bersihkan dengan bertaubat kepada-Nya.
Bersihkan pula harta kita yang kita pakai, kita makan, apakah halalan thoyiban?
Latihan mati sebelum mati
Tidur itu mati kecil. Bayangkanlah, kita akan sendirian di dalam kubur berkalang tanah. Lalu ruh dikembalikan ke jasad untuk ditanya oleh malaikat. Di situlah kengerian berhadapan dengan pengadilan malaikat Allah Subhana Wa Ta’ala. Padahal dalam menghadapi sakaratul maut sebelumnya saja kita sudah kesakitan dan ketakutan.
Tidur adalah latihan mati kecil, bersama-Mu aku hidup dan mati. Dari situlah kita berpindah dari alam dunia ke alam barzah. Kita akan sadar, atas teguran Allah, Alhākumut-takāṡur. Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu.
Kita baru tersadar bahwa yang kita kejar (dunia) hanya angan-angan, berupa bayangan hitam yang ingin diraih. Ketika akan mendapatakannya, kita terjerembab ke dalam kubur dalam kondisi masih mengejar angan-angan dunia yang melalaikan, memperbanyak-banyak sesuatu yang tidak lillah.
Jangan sampai malaikat berbicara kepada kita kelak, “Bagaimana bisa kamu mati dalam keadaan seperti ini? Dalam keadaan menganiaya diri sendiri?” Tentu cara mati kita ditentukan bagaimana cara hidup kita.
Di alam kubur kita menghadapi suasana yang menakutkan. Kita menginginkan surga, tetapi yang datang malaikat bermuka masam. Kita membayangkan neraka, betapa pedih siksanya. Suasana sangat menakutkan.
Ketika kematian sudah di depan mata dan kita tidak punya persiapan menghadapi kematian, kita terkejut menghadapi pengadilan.
Kita berharap semoga malaikat yang datang bukan malaikat yang bertanya dengan pertanyaan keras, membentak, menyiksa karena kita tak mampu menjawabnya. Siksaan akan berlangsung sampai kiamat. Alam kubur menjadi permulaan nerakanya.
Kita berdoa memohon pertolongan kepada Allah saja.
حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ࣖ
“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.”
(surat At-Taubah ayat 129}
Orang-orang beriman kelak akan berada di ruang tunggu istimewa. Sementara di luar sana orang-orang menunggu pengadilan dengan berkeringat yang menggenangi sekitar dirinya.
Sampai pada saatnya pengadilan, hanya ada Allah yang mengadili. Tidak ada yang lain. Jangan sampai kita diadili dengan keadilan-Nya, karena bisa-bisa akan celaka. Sementara orang-orang beriman akan diadili dengan kasih sayang-Nya, dosa-dosanya diampuni dan ditukar dengan pahala.
Karenanya selagi hidup berlatihlah mati sebelum mati, sebelum menghadap Allah.
Kita berharap akan dipanggil oleh Allah dengan sebutan sayang seperti di Surat Al-Fajar ayat 27-30:
Al-Fajar 27-30:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ
Wahai jiwa yang tenang,
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ
kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ
Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ
dan masuklah ke dalam surga-Ku!
Sangat berbahagia jika kita menghadap Allah dengan keadaan ridha dan Allah pun ridha. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Betul-betul bahagia menghadap Allah.
Bayangkan, sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat sejak usia baligh sampai hari ini? Berapa banyak rakaat shalat yang kita tinggalkan? Berapa banyak puasa yang kita tak lakukan? Berapa besar dosa kita kepada ibu bapak?
Beruntunglah orang-orang yang senantiasa bertazkiyatunnafs, mensucikan dirinya, mendirikan shalat. (*)
