Wisuda Al-Qur’an

Menegakkan Pendidikan Berbasis Al-Qur’an Bagi Generasi Muda Produktif
Hari Ahad kemarin, 29 Januari 2023 suasana di AQC (Ar-Rahman Qur’anic College) Megamendung Bogor disiram gerimis sejak pagi. Namun demikian hal itu tak menyurutkan keramaian suasana menjelang wisuda. Para walisantri, orang tua asuh, dan tamu undangan sudah duduk di kursi masing-masing.
Wisuda AQC Megamendung kali ini diikuti oleh 51 mahasantri dan 47 mahasantriwati. Kategori wisuda terdiri dari Wisudawan Sanad Al-Qur’an, Wisudawan Khatam Tilawah 50 kali, Wisudawan Hafalan Mutqin 5 juz, Wisudawan Hafalan Mutqin 10 juz, Wisudawan Hafalan Mutqin 15 juz, Wisudawan Hafalan Mutqin 20 juz, Wisudawan Hafalan Mutqin 25 juz, dan Wisudawan Hafalan Mutqin 30 juz.
Acara wisuda bagi para mahasantri dan mahasantriwati ini diadakan dalam rangka syukuran dan apresiasi atas pencapaian para mereka yang telah mengkhatamkan tilawah sebanyak 50 kali dan menghafalkan Al-Qur’an. Wisuda juga diharap bisa meningkatkan motivasi dan potensi bagi para santri untuk menjadi sahibul Qur’an dalam mempelajari, menghafalkan, dan mentadabburi Al-Qur’an.
Ada banyak hal menarik dari kisah mahasantri dan mahasantriwati yang diwisuda. Salah satu kategori pencapaian target tercepat dari mahasantri diraih oleh Aminullah Ibrahim yang mampu menyelesaikan 50 kali khatam dalam 3 bulan atau sekitar 90 hari, kemudian ziyadah selama 2 bulan 6 hari. Ziyadah merupakan kegiatan khusus untuk menambah hapalan ayat Al-Qur’an. Ziyadah ini biasanya disesuaikan dengan target hafalan masing-masing santri. Bagi Aminullah Ibrahim, karena sudah begitu sering khatam, proses penghapalan menjadi lebih lancar. Dari proses itu, setelah khatam 50 kali dalam 3 bulan bacaan Al-Qur’an begitu mudah menempel bagi Aminullah. Proses ayat-ayat menempel pada dirinya dirasakan setelah khatam yang ke-20 sampai 30 kali dan selanjutnya, dengan setoran hapalan per hari setengah juz.
Kategori pencapaian target tercepat dari mahasantriwati diraih oleh Ruqayyah yang berasal Aceh. Ruqayyah yang lancar berbahasa Inggris ini mencapai target tercepat dengan waktu 2 bulan 28 hari. Ia menyelesaikan Sekolah Dasar dan SMP di Singapura, lalu SMA melanjutkan di Aceh. Setamat SMA Ruqayyah ingin menjadi penghapal Al-Qur’an, dan keinginannya ini pun didukung oleh orang tuanya. Saat itu ia belum sempat mendaftar kuliah di tempat lain. Setelah sekarang diwisuda, Ruqayyah meraskan nikmatnya bersama Al-Qur’an dan dia dalam sehari bisa khatam 30 juz. Padahal jam tidurnya biasa saja, tidur jam 21.00 dan bangun pukul 03.00.
Bernika Zaitunissa asal Banten punya cerita lain lagi. Ia mengisahkan pengalamannya saat memilih menjadi mahasantriwati AQC. Setelah lulus SMA ia lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri di salah satu PTN di Bandung. Setelah ikut masa orientasi dan sempat ikut kegiatan belajar satu minggu di kampusnya, di satu sore dia mendapat informasi ada kesempatan menjadi santri di AQC sebagai penghapal Al-Qur’an. Dari sore itu sampai Isya malam itu Zaitunissa terus memikirkannya, ia ingin menjadi penghapal Al-Qur’an. Akhirnya dia mencoba mendaftar, dan alhamdulillah diterima. Ia tinggalkan kuliahnya di PTN yang sudah diikutinya, dan pindah ke AQC meski merasa masih nol dalam menghapal Al-Qur’an. Semua proses belajar di AQC diikutinya dan berlanjut sampai wisuda kemarin.
KH Bachtiar Nasir dalam sambutannya memotivasi, “Senantiasalah memohon kepada Allah Subhana Wa Ta’ala agar dimudahkan bersama Al-Qur’an. Semua yang terkait dengan Al-Qur’an akan dimudahkan jika berjuang bersama-sama mereka yang hendak menjadi penenrus risalah Rasulullah. Khatam dan menjadi hafidz Qur’an adalah peristiwa besar di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala.”
Tak ada yang sulit jika kita memohon kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.
Semoga para mahasantri dan mahasantriwati selalu dirahmati Allah dan dijaga agar menjadi bagian dari generasi yang hafidz, alim, dan mujahid-mujahidah, serta bermanfaat ilmunya untuk umat. (*)
